Casual Vacancy

by - Sunday, January 20, 2013



Casual Vacancy
JK. Rowling
Esti Budihabsari dkk (Penerj)
Penerbit Qanita, 593 hal
Gramedia, Gandaria City

Ulasan :
Membaca novel JK Rowling yang berjudul Casual Vacancy seakan memberi gairah baru bagi saya yang telah lama akrab dengan kisah Harry Potter.  Saya menganggap buku ini lebih 'berwarna' dan membumi serta sangat akrab dengan permasalahan  keseharian. Ini adalah kisah yang melibatkan banyak tokoh. Dalam kisah-kisah awalnya, pengarang terlihat memperkenalkan dahulu satu per satu para penghuni di wilayah bernama Pagford, Yarvil dan Field. Ada pasangan bernama Howard Mollison dan Shirley yang cukup terpandang karena statusnya sebagai pejabat Dewan Kota Pagford. Ada pasangan biasa saja namun berpengaruh seperti Miles dan Samantha, Ruth dengan Simon beserta anak remajanya, Andrew, ada pula tokoh yang berasal dari kalangan rendah, si remaja badung Krystal Weedon dan ibunya Terry, Tokoh pendidik pasangan Collin Wall dan Tessa dengan anaknya Stuart 'Fats' Wall juga pasangan keluarga dokter Parminder dan Vikram. Semuanya sibuk dengan permasalahan yang ditimbulkan akibat kematian Barry Fairbrother di awal kisah.

Alur cerita cukup lancar dan tidak membuat bingung. Saya lebih menyukai saat penulis mulai menggambarkan suasana kota Pagford. Lanskapnya bisa membuat saya seakan ada di tempat itu, khas Inggris.




Kisah ini tadinya membuat saya antusias sekali mengikuti jalan ceritanya, namun hingga menginjak Bab 4, saya mulai bertanya-tanya akan bagaimana akhirnya semua permasalahan ini? Saya merasa kisah yang diceritakan seperti sinetron saja. Satu segmen berkisah tentang keluarga Ruth-Simon, segmen berikutnya tentang Howard-Sirley. Lalu keluarga Miles-Samantha, berpindah ke keluarga Collin Wall-Tessa. Terus begitu. Kisah sempat menukik saat Andrew mulai melancarkan aksi balas dendam terhadap ayahnya dengan membuka rahasia buruk Simon di situs Dewan Kota dan berturut-turut diikuti oleh Fats dan Sukhvinder. Sampai di sini saya masih bersemangat mengikuti alur. Cuma, dalam kisah yang berada di tengah-tengah ada terselip polah remaja yang serba sok dewasa dan serba nekad.yang berujung pada pemberontakan ala remaja yang diwakili  oleh tokoh Andrew yang mengalami kekerasan fisik dan psikis dari ayahnya. Rasa sakit hati inilah yang menyulut rentetan kejadian berikutnya..Kepiawaian Rowling dalam mengolah kisah antara keluarga yang satu dengan yang lain patut diacungi jempol. Kita akan ikut merasa terombang-ambing, galau dan gemas merasakan kondisi seorang remaja korban broken home yang tersaruk-saruk mencari pijakan dan perlindungan dari warga Pagford.
Di babak akhir, akan terasa alur kian memanas karena dalam waktu bersamaan Rowling seakan mengumpulkan para tokoh dalam satu lokasi di sekitar jembatan dengan sungai Orr mengalir di bawahnya. Di sinilah muara segalanya. Akhir yang pilu bagi seluruh tokoh dan memberi katarsis bagi Samantha dan Shirley.
Awalnya saya kira kursi kosong itu akan menjadi singgasana yang menenteramkan bagi penghuni Pagford namun tenyata akhir kisah sungguh  melenceng dari yang saya kira.
JK.Rowling memang tiada duanya.




You May Also Like

0 komentar