Kitchen

by - Selasa, Januari 15, 2013



Kitchen
Banana Yoshimoto
KPG, 204 hal
Gramedia, Blok M


Jalan Cerita:

Kitchen bercerita dari sudut pandang Mikage yang baru saja kehilangan neneknya.

"Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur."

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meninggal. Dapur menjadi satu-satunya tempat pelarian dimana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela. Namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona--perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.

Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka? 

 
Ulasan Cerita:

Kekuatan Kitchen menurut saya selain terletak pada karakter tokoh-tokohnya yang bisa menarik simpati, juga oleh jalinan kosa katanya yang mempesona. Mikage adalah sosok yang selalu berusaha optimis walau sebenarnya dia melewati waktu yang sulit. Mikage berusaha mengatasi kehilangannya dengan memfokuskan diri pada hal kecil sementara berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya yang tak kunjung terjawab. Pertanyaan seperti "Kenapa semua orang yang dekat dengannya meninggal? Bagaimana dia bertahan bila sendirian?

Yuichi adalah sosok pendiam, yang jarang mengungkapkan perasaannya. Menarik mengikuti perkembangan chemistry Mikage dan Yuichi yang awalnya berjalan aneh hingga menjadi dekat. Dan Mikage-lah satu-satunya orang yang mengerti perasaan tak terkatakan Yuichi.

Lalu ada Eriko, waria sekaligus satu-satunya sosok orang tua yang dimiliki Yuichi dan Mikage. Buat saya, Eriko adalah sosok yang paling menarik. Dia terlihat ceria, tapi mungkin dia-lah yang mempunyai luka terdalam. Karena pasti luka sebesar itu yang membuat seseorang mau berganti identitasnya. (Eriko dulunya pria, berganti menjadi wanita setelah istrinya meninggal).

 Novel versi terjemah Indonesia ini berbentuk novelete, karena di dalamnya terdiri dari dua cerita yang berbeda.

Novelete Kitchen mengalir sederhana dengan diksi yang tidak terlalu rumit, pun dengan konflik yang ada. Banana lebih menonjolkan bagaimana jalinan hubungan diantara aktor-aktornya yang tidak terlalu banyak itu. Saya juga suka dengan deskripsi gaya tokohnya. Serasa benar-benar sedang menikmati suguhan drama.

Salah satu yang membuat saya bergetar adalah bagian ini, “Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan, berhenti melanjutkan hidup…dst. …tak pernah kukira hidup ini ternyata begitu berat.” (hlm: 63).

Secara keseluruhan, Kitchen menyampaikan kisah penuh harapan dengan bahasanya yang indah. Berakhir bahagia karena ingin menegaskan bahwa selama masih berjuang, setiap yang kita lakukan pasti akan membawa hasil sebagaimana yang diharapkan. Tentu saja, perjuangan itu adalah dengan cara dan disertai dengan tujuan yang baik. Yang patut dipuji, Banana menamatkan ceritanya dengan manis dan romantis namun tidak cengeng. Sederhana tapi penuh makna. Tak ada kata pujian selain, “novel ini indah sekali.”






You May Also Like

0 komentar