Pulang

by - Jumat, Februari 15, 2013



 

 Pulang
Leila S. Chudori
Penerbit: KPG, 464 hal
Gramedia, Gandaria City


Ulasan:

Ada beberapa tokoh yang saling berkaitan satu sama lain dan memberi arti yang penting terhadap jalannya cerita. Tokoh generasi pertama terdiri dari Hananto Prawiro, Dimas Suryo, Nugroho, Risjaf, Tjai, Surti Anandari, Vivienne Devereux, Aji Suryo, dan Retno. Sementara generasi kedua adalah Lintang Utara, Segara Alam, Narayana, Bimo, Andini dan Kenanga. Kesemua tokoh ini memegang peranan penting dalam sebuah kisah yang berlatar masa-masa pasca G 30 S/PKI hingga tumbangnya kekuasaan Soeharto pada 1998. Tak perlu heran dengan penulisnya yang piawai dan detil dalam menuangkan peristiwa demi peristiwanya karena Leila sebelumnya telah melakukan riset yang cukup mendalam serta taktis. 

Keempat wartawan yang akhirnya dijuluki sebagai pilar tanah air ini Dimas, Nugroho, Risjaf, dan Tjai akhirnya terjebak tak bisa pulang kembali ke tanah air setelah menyelesaikan pekerjaan wartawannya masing-masing. Mereka terperangkap tinggal di Perancis selama bertahun-tahun sampai-sampai membuka restoran bercita rasa Indonesia demi menyambung hidup. keempatnya terpaksa tak bisa pulang akibat pergolakan politik yakni meletusnya G 30 S/PKI disusul dengan penangkapan para keluarga dan simpatisan PKI serta berlanjut berpuluh-puluh tahun hingga tumbangnya rezim. Seluruh tokoh ini sebenarnya diceritakan bukanlah bagian dari PKI namun karena dianggap tahu tentang PKI maka semuanya menjadi korban. Dimas menjadi korban yang tak bisa pulang, Surti menjadi korban tawanan akibat suaminya Hananto dicurigai sebagai antek PKI, Lintang menjadi korban keegoisan ayahnya, begitu pula dengan Alam dan Kenanga, generasi masa kini yang sebenarnya sudah tak berkaitan lagi tentang beban politik masa lalu yaitu bersih lingkungan, bersih diri atau Litsus.

 
Keluarga Dimas kerap membeli buku bekas di toko ini

Semuanya bermuara pada kata pulang dan yang benar-benar mewujudkan kata itu hanya satu, Dimas. Ia benar-benar pulang kembali ke tanah air, ke Karet. Pemakaman yang lama  ia idam-idamkan.

sebagai sebuah novel, ini merupakan tuturan kisah yang bagus dan menarik disimak dilihat dari sepak terjang politik masa lalu, saat generasi kita belum lahir. Berbobot dan dikisahkan dengan gaya khas Leila. Ringan, paralel, tak perlu mengerutkan kening atau pun menarik nafas dalam-dalam. Dialognya pun mengalir. Serius namun ada selipan gaya khas anak muda pula. Ibarat makanan, menunya lengkap. Oh ya, menurut saya novel ini bagus banget apabila diangkat ke layar perak.



You May Also Like

0 komentar