The Almond Tree

by - Wednesday, February 27, 2013



The Almond Tree
Michelle Cohen Corasanti
Penerbit: Garnet Publishing, paperback- 348 halaman
Giveaway of Goodreads.com


Kisah tentang perjalanan hidup manusia yang terkungkung oleh tirani di tanahnya sendiri namun mampu bangkit dan sukses meskipun didapat dengan rasa pahit. Adalah seorang pria bernama Ichmad Hamid yang sedari kecil, dewasa hingga tua mengalami perlakuan baik bersifat mental atau spiritual di tengah berkecamuknya perseteruan antara Israel dengan Palestina, wilayah yang ia tinggali sejak kecil.  Cerita dibagi menjadi empat bagian yang dipisahkan oleh tahun.

Tahun 1955
Ichmad sekeluarga sangat menderita akibat penindasan yang dilakukan Israel. Pada masa itu Israel adalah negeri yang kuat dan mampu berbuat apa saja demi membungkam rakyat Palestina agar menurut. Saudara perempuan Ichmad yang bernama Amal tewas akibat ranjau yang dipasang Israel, lalu Sara pun ikut mati. Mereka tinggal di sebuah tenda ala kadarnya. Di belakang tenda tumbuh pohon badam atau almond. Pohon ini sering dipanjati berdua dengan Abbas. Lewat pohon ini mereka bisa  memandang Israel dari kejauhan. Kelak, pohon inilah yang akan menaungi, dan menjadi  saksi perjalanan hidup Ichmad dalam menapaki hari. Sejak kecil inilah mulai terlihat kecerdasan Ichmad akan angka-angka, serta hal yang bersifat fisika. Ia juga dekat dengan Baba, ayahnya serta Abbas saudara laki-lakinya yang usianya tak terpaut jauh.
Kebahagiaan keluarga mereka terusik karena pada suatu malam, beberapa tentara Israel melakukan penggrebekan ke rumah Ichmad karena menyangka Baba adalah teroris dan menyimpan beberapa senjata. Baba tak pernah mengakuinya yang berakibat ia dipenjara bertahun-tahun. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah ada orang yang berniat menyembunyikan senjata di rumah Baba atas sepengetahuan Ichmad. Dan bocah ini terlalu takut untuk menolak. Saat menengok Baba di penjara, Ichmad mengakui bahwa dialah yang mengijinkan Ali, -orang itu- menaruh beberapa senjata di rumah mereka. Baba dengan arif mengatakan tak perlu ada yang disalahkan. Yang penting Ichmad telah berani mengaku dan fokus pada pendidikan. Sepulangnya dari menengok Baba, Ichmad bertekad akan menggantikan peran Baba dalam memenuhi kebutuhan keluarga seluruhnya. Berdua dengan Abbas kedua bocah itu bekerja menjadi kuli bangunan milik Israel.
Malangnya, akibat masih terlalu kecil, Abbas tertimpa kecelakaan kerja dan menjadi pincang selamanya. Peristiwa ini menjadi pemicu ketegangan bertahun-tahun setelahnya antara Abbas dengan Ichmad. Abbas selalu menyalahkan dan sangat membenci Israel.

Tahun 1966
Karena kecerdasannya Ichmad ditawari oleh Guru Muhammad -guru yang jeli melihat kemampuan Ichmad-untuk mengikuti perlombaan adu cerdas yang diselenggarakan sebuah universitas di Israel. Imbalannya adalah beasiswa untuk belajar di universitas tsb. Sesudah meminta ijin Baba di penjara, Ichmad mantap mengikuti seleksi dan lolos bersama dengan Zoher, seorang pemuda Israel. Ichmad resmi menuntut ilmu di kampus Israel. Ia sekamar dengan Jameel, dan mengalami kehangatan keluarga Jameel yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Di kampus inilah ia pertama kali berkenalan dengan Profesor Sharon, sosok yang dingin dan sangat membenci Ichmad sebelumnya. Masa bersekolah adalah masa yang menyenangkan baginya karena sesaat ia melupakan kepedihan. Pedih karena Baba tak pernah dibebaskan oleh Israel, pedih karena Abbas semakin membencinya, pedih karena ia harus menyisihkan setiap sen untuk keluarganya di Palestina. Ichmad berjuang untuk tetap tegar meski banyak rintangan. Dan seakan menambah lengkap penderitaan, ia pun ditolak untuk menikahi perempuan yang ia cintai oleh ayah sang perempuan. Meski ia patah hati tapi pendidikan tetap ia tekuni dengan sungguh-sungguh. Hal itu dibuktikan dengan mengajak Prof. Sharon bekerja sama untuk melakukan penelitian tentang atom. Ibarat batu yang diperciki air terus menerus, Prof. Sharon yang awalnya sangat membencinya berbalik melunak dan menjadi sosok yang sangat peduli dan penuh kasih pada Ichmad. Hal ini tak lepas dari ajaran Baba, bahwa terhadap musuh janganlah membenci tapi carilah apa yang membuatnya membencimu.

Tahun 1974
Bersama Prof Sharon, Ichmad mengambil thesis Ph.D nya di Amerika serta tetap meneruskan proyek penelitian tentang materi non-silikon. Seiring dengan pergaulannya yang semakin luas, ia pun berkenalan dengan Nora, perempuan aktivis yang sangat mencintainya. Pernikahan mereka ditentang keluarga kedua belah pihak. Meski begitu, dengan bijak Baba tetap menganggapnya sebagai menantu yang baik. Saat itu Abbas telah pergi dari rumah entah kemana dan tak seorang pun tahu tujuannya. Ketika Ichmad sedang berada di Jerusalem untuk urusan mengajar, ia menerima kabar duka dari Justice istri Prof Sharon bahwa Nora tewas terkena buldoser tentara Israel dalam usaha menghalangi mereka agar rumah Ichmad tidak dirobohkan.
Peristiwa kematian Nora membuat Ichmad sedih tak terkira. Ia tak mampu bangkit kembali dan segalanya terbengkalai. Bahkan Prof Sharon pun dipaksa untuk terbang menghampirinya di Palestina agar kembali meneruskan proyek penelitian. "When Einstein's wife was dying, he wrote to a friend that intelectual work would lead him through all of life's troubles, you'd do well to follow his advice".

Tahun 2009
Ichmad kembali bekerja di proyek penelitian tanpa mengenal waktu. Ini dilakukan semata-mata karena ia ingin melupakan kesedihan. Rasa kehilangan terhadap Nora begitu besar sehingga mendorong keluarganya di Palestina untuk mencari seorang istri baru agar Ichmad tak terus menerus dirundung duka. Pernikahan yang dijodohkan ini membuahkan dua anak laki-laki. Proses adaptasi dengan sang istri bernama Yasmin cukup lama sehingga setelah tahun-tahun berlalu barulah Ichmad bisa berdamai dengan perasaannya. Baginya, keluarga memang yang paling utama.
Seiring waktu berlalu proyek penelitiannya telah mencapai akhir dan pada masa itu Ichmad terus mencari jejak Abbas yang hilang seakan ditelan bumi. Kabar terakhir Abbas berada di Gaza, wilayah yang sangat berbahaya dan Ichmad berniat menemuinya. Berbagai upaya dilakukan untuk menuju ke sana. Entah dalam memperoleh visa atau rintangan lain. Dan ketika pertemuan itu terjadi, Ichmad seolah-olah menyaksikan keluarganya sewaktu kecil. Bahkan ia bertemu dirinya dalam tubuh keponakannya, Khaled. Khaled seakan menjadi dirinya sewaktu muda dulu. Bersemangat, cerdas dan berbakat dalam fisika. Ichmad ingin mengusahakan visa agar Khaled bisa belajar di Amerika.
Laksana lilin yang meredup, harapan itu pupus karena Israel tak memberikan visa dengan alasan Khaled anak anggota HAMAS. Ichmad tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak mampu menyaksikan kekecewaan yang terpancar di mata keponakannya. Dan tanpa Ichmad sadari kekecewaan itu bermuara pada kematian Khaled. Keponakan yang tampan itu memlih bunuh diri demi melawan penindasan Israel.
Peristiwa kematian itu menjadi ajang perdamaian antara Abbas dengan Ichmad. Ironis, karena sebenarnya yang menyebabkan kematian Khaled adalah Ichmad namun perasaan bersalah justru timbul di hati ayahnya, Abbas. Abbas terus menyalahkan dirinya yang egois.
Sementara itu, proyek penelitian tentang teknologi silikon membuahkan hasil, Ichmad dan Prof Sharon berhasil memenangkan hadiah Nobel. Berdua mereka mencanangkan bahwa kerjasama mereka tulus tanpa memandang ras, agama, atau perbedaan lain dan semoga ditiru oleh kedua belah pihak yang bertikai, Israel dan Palestina. Ichmad memberikan hadiah Nobelnya untuk yayasan bernama Khaled Foundation yang menaungi pendidikan bagi anak-anak Israel. 
Dari jendela, Ichmad kembali memandangi pohon badam yang terus tumbuh dan bertambah rindang di belakang rumahnya bersama keluarga besar.

Ulasan :
Kisah ini sangat inspiratif dan memotivasi. Apabila kita ingin meraih impian sesungguhnya kita bisa memperolehnya dengan mengupayakannya. Meski banyak karang terjal ibaratnya semua bisa disingkirkan. Saya baru pertama kalinya mengenal nama pengarangnya dan lewat goresan pena ia seakan mampu memberikan nuansa kelam tentang keadaan suatu negeri yang benar-benar nyata. Israel dengan kebengisannya sementara Palestina yang terbelenggu berikut masyarakat yang mendiaminya. Sungguh bagus kisah ini dituturkan. Kita diajak untuk larut dalam berbagai kondisi, sedih, terharu, senang, bahagia, lengkap selayaknya hidup yang kita jalani. Singkatnya, kisah ini bagus.






You May Also Like

0 komentar