99 Cahaya Di Langit Eropa

by - Rabu, Maret 27, 2013


99 Cahaya di Langit Eropa
Hanum Salsabiela Rais-Rangga Almahendra
Gramedia Pustaka Utama, 412 hal
Pameran Buku Kompas-Gramedia, Istora Senayan


 Menakjubkan rasanya mengetahui ternyata di benua Eropa terdapat jejak-jejak peninggalan karya budaya Islam masa lalu. Sedikit sekali buku yang mengangkat tema perjalanan yang dipadu dengan mengunjungi situs sejarah kejayaan Islam. Kebanyakan kisah perjalanan yang saya baca selalu hanya menceritakan kisah-kisah tempat yang unik, aneh, dan lebih bersifat bersenang-senang. Namun lain halnya dengan buku ini yang seolah membuka wawasan kita bahwa di bumi Eropa yang identik dengan agama Nasraninya itu dahulu pernah berdiri berbagai bangunan yang mencerminkan jaman keemasan Islam.
Buku ini tak hanya melulu menyajikan kisah tentang perjalanan. Ada cerita-cerita kecil seputar kehidupan penulis saat menetap di Wina. Mulai dari mengikuti kursus bahasa Jerman dan berkenalan dengan seorang wanita Turki bernama Fatma, tentang kejujuran untuk membeli atau mengambil koran begitu saja, saat mengunjungi sebuah restoran Pakistan yang unik karena berjargon  'All you can eat, pay as you wish' makan sepuasnya, bayar seikhlasnya, atau benturan  kecil saat orang Islam (penulis dan suaminya) hidup di tengah lingkungan kaum Nasrani yang kurang bertoleransi  baik di lingkungan kerja atau saat melihat daging babi digantung dimana-mana yang menurut  Sergio seorang pemandu wisata justru agama terbesar yang dipeluk oleh sebagian besar orang Eropa adalah Ateisme dan sekulerisme bukan Kristen.

Pertemanannya dengan Fatma membawa penulis mengunjungi bukit Kahlenberg, tempat terdapatnya pusat peribadatan umat Islam terbesar di Wina, lalu istana Schoenbrunn, dan museum Wien Stadt. Persahabatan mereka begitu dekat sampai-sampai keduanya berjanji untuk menjelajahi tempat-tempat hstoris Islam di Eropa. Meski akhirnya hanya penulis saja yang kesampaian mengunjungi situs-situs Islam tsb.

Pertemuannya dengan Marion seorang perempuan muallaf di Perancis melancarkan penjelajahan tempat-tempat bersejarah itu. Marion mengajak penulis mengunjungi museum yang menjadi ikon Perancis, Louvre. Saya tak menduga museum Eropa yang termahsyur itu ternyata menyediakan ruang khusus hal yang berkaitan dengan Islam bernama Section Isamic Art Gallery. Letaknya di lantai 1 Richeliu Wing. Tapi karena sedang dalam tahap rekonstruksi, keduanya mengalihkannya ke Sully Wing. 

Melalui penjelasan Marion kita jadi tahu bahwa berabad-abad lalu Islam telah maju dalam berbagai bidang salah satunya ilmu falak. Lalu perjalanan diteruskan ke bagian Paintings Department dengan lukisan-lukisan berikut aksara Islam, diakhiri dengan mengamati pemandangan 'garis lurus', Axe Historique atau Voie Triomphale - jalan kemenangan suatu garis imajiner yang dibentuk oleh berbagai bangunan terdiri dari museum dan monumen dan bila ditarik garis lurus terus hingga keluar Perancis  akan berakhir di Mekkah.

Selain ke Paris Perancis, kita juga diajak mengunjungi Cordoba dan Granada. Di Cordoba ada mezquita, masjid yang berubah menjadi katedral, yang pada masanya dahulu mesjid ini tentulah sangat kharismatik dilihat dari wujudnya yang menurut penulisnya mirip masjid Nabawi di Madinah.Lalu  kunjungan diteruskan ke Granada, istana Al Hambra.  

Tak ketinggalan penulis juga mengunjungi Turki yang sarat dengan peninggalan Islamnya salah satunya istana Hagia Sophia. Istana ini dahulu adalah katedral  Byzantium terbesar di Eropa, lalu akibat pengaruh kekhalifan Islam, katedral berubah menjadi mesjid, kemudian kita juga diajak berjalan-jalan mengamati mesjid biru -Blue Mosque, dan istana Topkapi. Bersama Fatma, kawan yang kembali muncul setelah lama menghilang akibat berduka ditinggal mati putrinya, kita mendapatkan  pengetahuan baru seputar istana yang menurutnya kurang megah di Turki ini.

Mengasyikkan mengikuti perjalanan sejarah ini karena dengan melakukan kunjungan-kunjungan ke tempat peninggalan Islam khusus di Eropa, hal ini telah membuka mata kita bahwa Islam telah sangat maju pada masanya serta kenyataaan bahwa Eropa telah mengapresiasi peninggalan Islam dengan sangat baik di tengah munculnya Islam Phobia dewasa ini. Bandingkan bila peninggalan Islam itu ada di Indonesia, alih-alih memelihara situs malah justru menelantarkannya dengan tembok yang berlumut dan tak terawat barangkali. Eropa dengan segala kemajuannya dan di tengah sekulerisme, masih ada kesadaran untuk merawat, menjaga dan memelihara beberapa situs berharga itu.
Menurut saya buku ini penting dan enak dibaca, tidak menggurui tapi juga tidak dipandang ringan. Kekurangannya hanya pada foto-foto yang menurut saya kenapa harus diletakkan di halaman belakang dan tidak menjadi satu kesatuan dalam cerita. Dan apakah sosok Fatma dan Marion benar-benar ada? Itu saja.

You May Also Like

0 komentar