The Rossetti Letter

by - Senin, Maret 18, 2013




 
The Rossetti Letter
Christi Phillips
Penerjemah, Gita Yuliani K
Gramedia Pustaka  Utama, 528 hal
Gramedia, Melawai


Lumayan sebagai bacaan kalau lagi bete di kantor, di mikrolet atau pas jam makan siang atau pengantar tidur. Dua masa dalam satu cerita. Venesia tahun 1618 dan dunia masa kini tempat Claire Donovan berjuang menyelesaikan disertasinya tentang konspirasi Spanyol tahun 1618.
Dikisahkan tentang Alessandra Rossetti seorang putri pedagang dari Venesia yang harus menjumpai nasib menjadi yatim dan jatuh miskin hingga akhirnya menjadi seorang pelacur yang paling diinginkan di jamannya.

Karena profesinya inilah Alessandra bertemu dengan Marquis Bedmar, duta besar Spanyol untuk Venesia yang akhirnya membawa dirinya terlibat dalam masalah politik yang rumit, karena sang duta besar dituduh merancang serangan terhadap Venesia bersama dengan Duke Osuna.

Di masa kini, Claire Donovan yang sedang menulis disertasi mengenai konspirasi Spanyol mendapatkan kesempatan untuk melengkapi data dan menyelesaikan disertasinya ketika dirinya diminta untuk menjadi pendamping seorang remaja yang hendak bertamasya ke Venesia.
Perjalanan ini menjadi sangat menarik karena di sana dia bertemu dengan seorang pakar sejarah yang menjadi saingannya dalam menyelesaikan disertasi tersebut.
Akhirnya mereka malah bekerjasama dalam menyelesaikan disertasi mengenai Konspirasi Spanyol 1618.
Cerita ini bisa jadi lebih menarik, kalau akhirnya dibuat menjadi sedikit lebih romantis untuk Claire dan Andrew. Setidaknya pembaca masih menginginkan terbangun rangka cerita seperti film Hollywood. Atau setidaknya lagi saya menginginkannya demikian.

Tapi sebenarnya yang paling saya minati dari buku ini adalah, si penulis sangat fasih sekali menggambarkan setiap sudut tata kota Venesia. Setiap lekuk kanal, rumah, pakaian yang dikenakan sang tokoh begitu detil dan subtil. Setiap hal dari yang kecil hingga besar dideskripsikan dengan begitu fokus.

Tak ketinggalan sejarah yang mengayomi inti cerita itu sendiri. Mungkin si penulis memiliki kepekaan tertentu untuk menjalin cerita yang disesuaikan dengan alur sejarah hingga seakan kita terbawa oleh suasana kota empat ratus tahun lalu dan dibandingkan dengan saat kini. Benar-benar buku yang 'berat'. Kalau sekedar membaca aku rasa semua orang mudah mengerti. Tapi yang diinginkan buku ini pembaca diajak untuk merasai semua yang dialami kedua tokoh yang hidup di jaman yang berbeda.

Sebentar melompat ke masa 1600-an, sebentar balik lagi ke abad 21. Ini yang harus diresapi. Ini yang 'berat' menurutku. Meskipun alurnya paralel, tapi pasti kita harus mengingat nama tokoh, tahun, nama wilayah, nama tempat kejadian seperti gereja, kanal, gondola, dsb. Akhir kata buku ini sip untuk dikoleksi. Kalau difilmkan pasti butuh penata artistik dan sinematografi yang handal



You May Also Like

0 komentar