Life Of Pi

by - Senin, April 08, 2013



Life of Pi
Yann Martel
Gramedia Pustaka Utama, 448 hal
Pameran Buku-Kompas Gramedia, Istora Senayan


Kisah Life Of Pi sungguh merupakan cerita yang bila kita renungkan akan menjadi suatu pelajaran hidup yang berharga. Kehidupan, agama, keyakinan, seni dan hidup itu sendiri telah terjalin dalam satu petualangan spiritual yang megah dalam satu sekoci bersama hewan-hewan yang notabene makhluk Tuhan juga. Usai membacanya kita seakan disodori pertanyaan  apa makna hidup dan mempercayai? 

Seorang pemuda bernama Piscine Molitor Patel dalam hidupnya yang lugu dan naif  menjalani ketiga agama secara sekaligus. Di sini makna Tuhan seakan dianggap sebagai sosok yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang agama itu sendiri. Dalam pelayaran menuju Kanada, mendadak sontak Pi dihadapkan oleh eksistensi Tuhan dari masing-masing agama itu kala ia mengalami kesengsaraan tak berkesudahan di tengah laut yang ganas. Kecelakaan yang membuatnya kehilangan ayah, ibu dan kakaknya  membimbingnya sedikit demi sedikit, hari demi hari untuk lebih mengenali hidup di tengah samudera yang tak terbatas. Ditambah lagi, sosok Richard Parker si harimau Bengal mencuri perhatian di sepanjang cerita. Menurut saya, hewan inilah yang justru sebagai maskot cerita. Tanpa kehadirannya, kisah akan berlalu dengan kering dan tak ada tantangan.

Selanjutnya usai berada dalam satu sekoci inilah, babak baru dari kehidupan Pi dimulai. Bagi kita yang menginginkan ada sosok-sosok lain selain hyena, zebra, orang-utan dan harimau, kehidupan Pi tentulah sangat monoton, seakan bermonolog terus menerus. Namun itulah yang terjadi pada kisah Life of Pi. Perjalanan bersama hewan dan satu manusia. Sungguh absurd bukan? Dan rupanya poin inilah yang menjadi kelebihannya. Dengan mereduksi sosok lain seperti orang tua dan kakak, pengarang seakan ingin lebih mengedepankan peran Pi beserta 'teman-temannya.'

Kebetulan saya sudah menonton filmnya lebih dulu daripada membaca bukunya. Bagi kita penikmat film dan buku selalu ada rasa ingin membandingkan keduanya. Dan menurut saya, film lebih membantu saya memahami arti dari gejolak perasaan seorang Pi.

 
movie action



Dalam bukunya saya merasa well, agak memahami dan mengenali siapakah diri Pi ini. Isi buku sangat bersifat merenung dan lebih detil sedangkan film karena dipatok durasi, saya hanya menyaksikan ibaratnya seperempatnya saja dari keseluruhan cerita.

Secara keseluruhan buku ini bagus dan menantang. Filosofinya tinggi. Tak diragukan lagi dan tak heran bila memenangkan penghargaan.

You May Also Like

0 komentar