The Tokyo Zodiac Murder

by - Selasa, April 30, 2013





The Tokyo Zodiac Murder
Detective Mitarai's Casebook
Soji Shimada
Gramedia Pustaka Utama, 354 hal
Pameran Buku Kompas-Gramedia, Istora Senayan


Membaca judulnya saja, kita pasti bisa menebak kalau kisah yang disajikan adalah misteri pembunuhan. Dan kisah pembunuhan biasanya selalu bermuara pada pertanyaan siapakah yang melakukan pembunuhan ini? Adakah petunjuk khusus yang mampu menjadi kunci untuk menguak tabir misteri ini?


Jalan Cerita


Pada suatu malam yang bersalju  tahun 1936 seorang seniman bernama Heikichi Umezawa ditemukan tewas di dalam studionya sendiri. Dalam surat wasiatnya ia tengah merancang sesosok wanita sempurna, sebuah mahakarya yang materi utamanya berupa potongan-potongan tubuh manusia yang disatukan dan diberi nama Azoth. Azoth akan terwujud melalui potongan tubuh kelima putrinya. Anaknya yang tertua bernama Kazue, lalu Tomoko, Akiko, Tokiko, dan Yukiko. Tiga putri pertama adalah anak-anak tiri Heikichi dari pernikahan keduanya dengan Masako. Sementara Tokiko putri hasil pernikahan Heikichi dengan Tae -istri pertama- dan Yukiko adalah putri hasil pernikahan  Heikichi dengan Masako -istri kedua-.

Tokyo menjadi geger karena adanya pembunuhan terhadap enam wanita muda yang disinyalir adalah putri-putri dari Heikichi Umezawa. Mayat mereka diketemukan di tempat yang berbeda-beda serta saling berjauhan. Bahkan Heikichi pun ikut terbunuh. Polisi dan detektif masa itu telah berupaya untuk menyelidiki tapi selalu menemui jalan buntu.

Tersebutlah seorang astrolog bernama Kiyoshi Mitarai seorang detektif eksentrik dan juga astrolog serta temannya yang setia, Kazumi  Ishioka, seorang ilustrator merasa tertantang untuk memecahkan teka-teki dan mengungkapkan misteri pembunuhan tersebut sekaligus mengetahui siapa pembunuhnya.

Saat pencarian itu, keduanya menemui banyak petunjuk yang mengarah ke pelaku namun selalu saja penemuan ini tidak banyak berarti karena masing-masing memiliki arah yang tak pasti. Di tengah-tengah pencarian itu, keduanya dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita yang mengaku anak dari Bunjiro Takegoshi seorang inspektur polisi pada masa pembunuhan itu terjadi. Wanita yang bernama Misako Iida ini membawa sebuah catatan yang ditulis oleh ayahnya dan menyerahkannya pada detektif Kiyoshi agar bisa ditindak lanjuti karena terkesan isi surat itu menyiratkan sebagian kisah peristiwa pembunuhan itu.

Berbekal isi pengakuan Bunjiro yang sangat mencengangkan itulah, Kiyoshi seakan mendapatkan pencerahan baru dalam mengungkap misteri yang rumit ini. Mereka berdua segera bertolak ke Kyoto usai mendapat tantangan yang dilontarkan oleh putra Takegoshi. Tantangannya adalah Kiyoshi akan memecahkan kasus ini dalam waktu satu minggu.

Selama berada di Kyoto keduanya berpisah jalan dalam mengembangkan kasus ini.  Kazumi mencari jejak dengan mengunjungi si pembuat manekin sahabat lama Heikichi namun ternyata orangnya sudah tiada, lalu ia mendatangi pembuat manekin lainnya yang bernama Shusai Yosida. Melalui Yosida, Kazumi seakan memperoleh petunjuk semu yang mengabarkan bahwa patung Azoth disimpan di sebuah taman Meiji-Mura. Dan Kazumi sangat ingin melihatnya. Berbeda dengan petualangan Kazumi, perilaku Kiyoshi selama berada di Kyoto sangat misterius, bahkan ia pernah tak pulang ke rumah.

Titik terang muncul ketika Kazumi menunjukkan uang lembaran seribu yen yang telah diselotip usai mereka minum kopi di kedai. Lembaran yang diselotip itu tak dinyana  telah membuka teka-teki. Selanjutnya, dengan gayanya yang misterius dan eksentrik detektif ini akhirnya telah mampu mengetahui siapa pembunuh kelima wanita putri dari Heikichi berikut Heikichi itu sendiri. Ia membeberkan keberhasilannya di depan sahabatnya, Kazumi, Ny. Misako Iida dan suaminya Tn. Iida. Temuan yang lebih mencengangkan sekaligus membersihkan nama baik almarhum ayah dari Ny. Misako Iida, Bunjiro Takegoshi.

Membaca kisah ini alur ceritanya mengingatkan saya pada petualangan Sherlock Holmes dan Dr. Watson. Disesuaikan dengan suasana dan kondisi lingkungan Jepang pada tahun 30-an sungguh merupakan latar yang cocok karena pada masa itu ilmu dalam mengungkap kejahatan belumlah canggih sehingga tak heran  kasusnya baru terungkap setelah 40 tahun kemudian. Saya suka dengan pengarangnya yang mampu meramu kisah ini dengan begitu berkelok-kelok apalagi dengan tema pembunuhan yang menyeramkan -potongan tubuh dari masing-masing korban disatukan untuk mewujudkan patung wanita lain bernama Azoth . Bahkan pada saat pengarang menanyakan apakah sudah bisa meraba siapa pembunuhnya di sela-sela halaman cerita, saya masih belum bisa mengetahui siapa pelakunya. Mungkin karena saya masih asyik dengan perdebatan antara Kiyoshi dan Kazumi. Terlebih lagi pengarang nampak ingin menyesatkan (atau mengecoh?) pembacanya untuk harus terus menerus memikirkan patung mayat Azoth ini. Brilian bukan? 

Selagi pikiran kita sibuk mencari dimana Azoth berada, ternyata akhir cerita justru melenceng jauh dan tak disangka-sangka. Sang pelaku justru orang terdekat dalam keluarga Umezawa dan menderita sejak kecil, mengharukan memang. Menarik dan orisinil kisahnya.


You May Also Like

0 komentar