Gadis Kretek

by - Monday, May 27, 2013




Gadis Kretek
Ratih Kumala
Gramedia Pustaka Utama, 274 hal
Pameran Buku Kompas-Gramedia, Istora Senayan



Jalan cerita:


Romo Raja (baca: Raya) tiba-tiba saja kambuh strokenya dan dalam keadaan tak sadar ia selalu memanggil-manggil seorang wanita bernama Jeng Yah. Jeng Yah ini merupakan misteri bagi ketiga putra pewaris kerajaan rokok beliau, Tegar, Karim dan Lebas. Mereka bertiga berencana mencari tahu siapakah gerangan perempuan ini. Disamping ketiganya merupakan pewaris kerajaan rokok ternama, kepergian mereka ke wilayah Jawa Tengah menjadi ajang saling memahami diantara ketiga  bersaudara  sekaligus napak tilas masa kecil bagi Tegar dan Karim. 

Perjalanan mereka menjadi pintu pembuka sejarah berdirinya perusahaan rokok kretek yang diawali seorang pemuda bernama Idroes Moeria. Dengan kemiskinannya ia telah melompat menjadi seorang pengusaha rokok klobot dengan memakai etiket yang pada saat itu merupakan hal yang maju sekali. Perjuangan Idroes dalam membangun dan merintis rokok klobot hingga menjadi kretek sangat berliku-liku apalagi ia selalu dibayang-bayangi oleh perusahaan rokok pesaing yang juga temannya sendiri sewaktu magang di rumah Pak Trisno, si pengusaha klobot. Idroes selalu selangkah lebih maju dalam mengembangkan usahanya termasuk dalam melamar gadis pilihannya Roemaisa. Perempuan anak juru tulis ini diperebutkan antara Idroes dengan Soedjagad pesaingnya. Dan kekalahan Soedjagad dalam melamar gadis itu membuatnya untuk terus menyaingi segala hal yang dilakukan Idroes hingga jaman berganti.

Idroes Moeria memiliki dua putri bernama Dasiyah dan Roekayah. Sejak kecil si sulung Dasiyah sudah menunjukkan bakat sebagai calon pengsusaha rokok. Dasiyah mahir mencampur-campur cengkeh yang sudah dirajang, dibuat tingwe dan bisa memberikan saus yang tepat hingga menghasilkan rokok kretek yang pas serta enak.

Setelah Dasiyah diberi kepercayaan besar untuk mengelola perusahaan, rokok kretek cap Merdeka! dan Kretek Gadis menjadi maju pesat. Di tengah kesuksesannya Dasiyah berjumpa seorang pemuda bernama Soeraja. Akibat perjalanan waktu salah satunya penjajahan Jepang, Soeraja urung menikahi Dasiyah. Pemuda itu malah bertemu dengan Purwanti anak pesaing Idroes Moeria, Soedjagad. Mereka menikah dan Soeraja diserahi tanggung jawab mengelola rokok kretek Djagad Raja, pesaing utama rokok Idroes Moeria. Formula rahasia rokok kretek yang pernah diberitahukan Dasiyah akhirnya digunakan tanpa meminta ijin Dasiyah. Padahal kretek ciptaan Dasiyah terkenal enak karena ditambahi air ludah Dasiyah.

Mengetahui  rokok kretek ciptaannya dibajak pesaingnya, dengan penuh kemarahan Dasiyah memukul dahi Soeraja dengan semprong petromaks di hari pernikahan Raja. Rasa bersalah selama bertahun-tahun membuat  Romo Raja di hari-hari terakhirnya mengigau menyebut nama Jeng Yah.

Sementara itu ketiga putra Romo Raja akhirnya mengetahui bahwa perempuan bernama Jeng Yah atau Dasiyah ternyata sudah meninggal dan rupanya ia sudah menemui Romo lewat mimpi.


Ulasan Cerita:

Gagasan untuk membuat cerita tentang rokok kretek benar-benar orisinil. Meski dibalut dengan fiksi tapi kita bisa mengetahui sejarah rokok kretek hingga ke proses produksinya. Pengarangnya memang sudah membuat riset sehingga tanpa kesulitan  mampu menjabarkan suasana, latar, tokoh hingga eksekusi akhir. Menurut saya novel ini unik karena mengangkat tema yang jarang, yakni tentang rokok. Peran tiga bersaudara pewaris rokok malah hanya sekadar tempelan saja. Justru yang seharusnya lebih dikedepankan adalah kisah sesudah Romo wafat. Mungkin itu terlihat lebih menarik lagi. Alur kisahnya kilas balik dan berlatar sejarah yang ringan ditambah intrik bisnis yang dilancarkan pesaingnya cukup memberi gambaran pada kita bahwa dahulu persaingan rokok dalam hal apa pun sudah muncul. Mulai dari jenis tembakau, jenis kertas pelinting dan kemasan, etiket, warna hingga formula saus rahasia yang menjadi kekhasan sebuah rokok kretek. Itu semua menjadi bahan informasi yang diungkapkan pengarang. Bagi saya di bagian ini pengarang berhasil memberi pemahaman baru akan perjalanan sebuah rokok kretek. Tidak semata-mata karena ketajaman naluri dan rasa yang keluar dari air ludah Jeng Yah yang mirip-mirip rokok Roro Mendut, tapi juga segi pemasaran jaman dahulu yang unik melalui pasar malam. Dan promosi ala pasar malam sampai saat ini masih berlangsung di kota-kota di Jawa Tengah.




Pin It!

You May Also Like

0 komentar