The Tavern on Maple Street

by - Monday, May 27, 2013




The Tavern on Maple Street
Sharon Owens
Penguin Books, 375 pages
Toko Gunung Agung, Senayan City



Jalan cerita:


Ada sebuah kedai minum di jalan Maple. Kedai minum ini juga disebut Kedai Beaumont karena dimiliki oleh pasangan suami istri, Jack Beaumont dan istrinya yang cantik, Lily. Lokasinya berada tepat di jantung kota Belfast, di ujung gang sempit berbatu, lepas dari jalan Royal Avenue. Gang ini selalu macet karena buntu dan tak ada ruang melintas lagi bahkan untuk mobil kecil sekali pun. Banyak orang merasa heran mengapa jalan ini disebut jalan Maple padahal tak ada pohon Maple yang tumbuh di sana. Kedainya sendiri adalah sebuah bangunan persegi panjang dengan deretan 8 tempat duduk mahoni di sisi kanan, konter bar berada di sebelah kirinya sementara kumpulan meja bulat kecil berada di tengah.

 Pasangan suami istri ini hidup dari membuka kedai dan menjalankan dengan senang hati karena kedai ini didatangi beragam pelanggan. Mereka telah mengelolanya selama 20 tahun. Salah satu pengunjung tetapnya adalah seorang penulis buku bernama Liam. Ia sedang mencari inspirasi dan sangat mengagumi sosok Lily. Liam sebenarnya sedang bermasalah dengan istrinya, Betsy dan sedang menyusun novel berjudul 'Bang, Bang'. Lalu pengunjung tetap lainnya seperti Francy Mac, Joey dan Barney yang sering menyambangi dan ngobrol berbagai hal.

Suatu ketika datang seorang pemodal besar bernama Vincent Halloran yang ingin membangun sebuah mal besar tepat di tengah kedai ini. Vincent berupaya untuk membeli sekaligus menghancurkan kedai bagaimanapun caranya. Mendengar kabar kedainya akan dihancurkan, pasangan yang sebelumnya bingung apakah kedai ini akan dijual atau dipertahankan justru malah mendapat ide baru. Gagasan itu berasal dari Lily yang ingin mengubah kedai dengan musik dan memperbanyak kegiatan di kedainya. Lily juga mengecat ulang dinding-dindingnya, memasang cermin besar, dan karena suasananya mendekati liburan Natal, ia juga merancang acara kedai yang tak terlupakan. Lily berharap dengan keramaian kedainya pihak investor akan mengurungkan niat membeli kedainya. Untuk itu pasangan ini mempekerjakan empat pelayan kedai wanita. 

Keempatnya hadir dengan membawa masing-masing cerita sekaligus mengisi hari-hari di kedai tersebut. Ada Bridget O'Malley yang bertubuh kecil tapi memiliki nafsu makan yang besar dan bersikap seperti bos sekaligus bermasalah dengan perabotan milik Lily. Lalu Daisy, siswi jurusan seni yang lincah, Trudy, siswi geografi yang memiliki banyak fobia salah satunya jeruk dan kancing. Dan gadis keempat bernama Marie, gadis pemalu yang lebih banyak menghabiskan waktu di dapur daripada di kedai. Mereka semua bahu membahu menyemarakkan suasana kedai yang tadinya muram itu. Bahkan keempatnya menemukan jodohnya di kedai itu.

Selagi Vincent tetap berupaya agar kedai itu dijual kepadanya, Lily dan Bridget secara tak sengaja menemukan bahwa kedai ini memiliki nilai sejarah yang amat langka. Di balik dinding yang terkelupas terdapat lukisan mural karya pelukis besar jaman dahulu, J. Lavery dan peristiwa ini menambah nilai jual kedai itu. Vincent setuju menaikkan nilai harganya dan berhasil membujuk pasangan Jack-Lily Beaumont untuk menjual dengan harga pantas dan berjanji akan memperlakukan kedai secara proporsional mengingat nilai muralnya yang tinggi. Jack dan Lily akhirnya merelakan kedai itu lepas dari mereka dan mendapat kompensasi yang sesuai. Keduanya lalu berkeliling dunia dan keempat gadis pelayan kedai yang telah begitu dekat dengan Lily pun ikut pergi dengan membawa kebahagiaannya masing-masing.


Ulasan cerita:

Kisah ini jika dituangkan dalam sebuah film paling cocok ditayangkan menjelang liburan Natal karena isinya sarat dengan suasana hangat yang ditawarkan dari keluarga pasangan Jack dan Lily Beaumont. Keduanya pasangan yang saling cinta, bahu membahu, kompak dalam segala hal meskipun tidak dikaruniai anak. Plot kisahnya sebenarnya sederhana sekali dan sudah bisa ditebak namun ada kelebihan tersendiri dari pengarangnya yang mampu secara detil mendeskripsikan berbagai suasana berikut elemen lain semisal latar, tokoh, konflik dan penyelesaian masalah. Kita seakan merasa berada di tempat itu. Belum lagi kepiawaian Lily dalam memasak. Pengarang cukup rinci menyebutkan berbagai hidangan kedainya. Ditambah dengan konflik serta emosi yang melanda masing-masing tokoh. Khas wanita sekali. Solusi yang dikeluarkan pun cukup masuk akal. 

Namun saya agak kecewa dengan akhir ceritanya. Saya kira kisah akan berakhir dengan terjualnya kedai yang diwarnai dengan  tarik ulur yang sengit namun ternyata pengarang mengakhirinya dengan gampang bahkan menurut saya mengada-ada atau dipaksakan. Lagi-lagi khas wanita. Pihak pengembang yang digambarkan jahat pada akhirnya memenangkan posisi ala win-win solution. Entah ini memang ciri khas pengarangnya atau tidak saya kurang jelas karena baru pertama kalinya saya membaca novel karya Sharon Owens ini. Secara keseluruhan, novel ini menarik dan tidak bertele-tele.



 



You May Also Like

0 komentar