Menari Di Atas Awan

by - Selasa, Juli 02, 2013






Menari Di Atas Awan
Maria A Sardjono
Gramedia Pustaka Utama, 512 hal
Pameran Buku Kompas-Gramedia 




 Jalan Cerita:


Dewi sangat sedih ketika menyadari bahwa ibu Rayhan, kekasihnya, sangat tidak menyukainya. Bagi Ibu Susetyo, Dewi yang bekerja sebagai penyanyi kafe adalah gadis murahan yang tidak pantas bersanding dengan putranya yang calon direktur. Oleh sebab itu, Dewi memutuskan untuk menjauhi Rayhan.

Namun Dewi tak mengira bahwa hubungan sesaat dengan Rayhan telah membuahkan janin dalam rahimnya. Panik, karena tahu bahwa dia tak mungkin lagi mencari nafkah dalam keadaan hamil, membuat Dewi berusaha mencari Rayhan kembali. Namun laki-laki itu telah pergi jauh, tanpa mengabari dirinya.

Dalam keadaan putus asa Dewi menerima uluran tangan Didit, kakak Rayhan, yang menawarinya perkawinan di atas kertas, agar bayinya memiliki bapak. Sementara Didit sendiri juga berkepentingan dengan perkawinan pura-pura ini.

Tentu saja perkawinan mereka membuat Ibu Susetyo semakin membenci Dewi. Dan puncak kesengsaraan Dewi adalah ketika Rayhan tiba-tiba muncul kembali di hadapannya, memandangnya dengan sinis, karena yakin bahwa Dewi memang tipe gadis seperti yang dikatakan ibunya. Padahal kemunculan Rayhan telah menghidupkan kembali kuncup-kuncup cinta Dewi pada lelaki itu.
Status perkawinan pura-pura mereka tak lama kemudian terbongkar akibat peristiwa yang mengharukan dan pada akhirnya menyatukan semua pihak.



Ulasan cerita:


Membaca karya Maria A Sardjono seperti bernostalgia dengan kisah-kisah yang hampir senada plotnya dengan karya beliau sebelumnya. Tentang pertemuan dua insan yang sama-sama saling berjauhan entah karena keadaan, waktu, atau emosi. Dan oleh keadaan yang krusial mereka akhirnya berhasil disatukan. Dan plot seperti ini kadang membuat kisahnya mudah ditebak meskipun saya juga ingin mengetahui liku-liku atau bahkan menemukan surprise element-nya. Kadang ada gambaran yang meleset kadang tepat happy endingnya. Namun sebagian besar karya Maria betul-betul menitik beratkan pada hubungan kedua anak manusia -pria dan wanita- yang tak lepas dari masalah cinta. Selain settingnya yang bernuansa Jawa, meskipun bukan jawa-minded, jalinan kisah awalnya selalu menyuguhkan wanita yang 'sengsara', nrimo dan pasrah tapi pada akhirnya bangkit dan menjadi tegar. 

Novel-novel Maria A Sardjono dalam lintasan waktu yang panjang hingga sekarang ini masih tetap mampu menarik perhatian saya. Kadang berisi hal yang sudah bisa diduga, namun kadang saya akan kembali kangen untuk menelusuri kata-katanya. Konsistensinya tetap ada dan menurut saya mengagumkan.

Tetap saja ini menjadi koleksi bacaan wajib saya dan dalam setiap kunjungan ke toko buku, apabila ada terbitan novel Maria A Sardjono yang terbaru, pasti tak perlu waktu lama untuk membeli dan mengoleksinya..


 

You May Also Like

0 komentar