Mantra Dies Irae

by - Saturday, August 03, 2013



Mantra Dies Irae
Clara Ng
Gramedia Pustaka Utama, 348 hal
Gramedia, Gandaria City


Jalan Cerita:


Ini tentang kisah khusus antara Paxilian Tanjung dan Beatrice Nuna. Tidak lagi tentang Xander dengan Oryza. 

Setelah mengetahui bahwa Oryza akan menikah dengan Xander, dunia seakan runtuh dihadapan Pax. Ia mengalami patah hati yang teramat dalam sehingga mengabaikan perempuan yang selalu menyambutnya saat tiba di warung. Ya, Nuna adalah pemilik warung itu dan tempatnya selalu menjadi pelabuhan terakhir kekesalan yang dialami Pax karena Oryza lebih memilih Xander sebagai calon suaminya. Mengapa Pax sebegitu dalam mencintai Oryza, tentu saja ini masalah hati. Sebagaimana juga dengan Nuna yang sangat mencintai Xander namun juga bertepuk sebelah tangan. Lalu bertemulah kedua manusia yang patah hati ini Pax dan Nuna dalam satu atap bernama warung makan. 

Setiap hari mereka bertengkar, bercanda, saling membantu namun juga saling adu sihir. Lengkap. Sampai suatu ketika ketenangan mereka terusik oleh kedatangan si pengacau bernama Chao. Ia adalah teman sekolah Pax yang masih penasaran dengan kemampuan sihir Pax. Diawali dengan tantangang sihir  di  sebuah lapangan belakang warung makan Nuna, Pax dan Chao saling adu mantra sihir. Dalam pertarungan itu Pax melancarkan mantra hujan petir yang dahsyat hingga membuat semua penonton tak mampu menyaksikan dengan jelas karena derasnya air hujan. Yang Nuna tahu Pax hilang, lenyap. Berhari-hari Nuna mengharapkan Pax kembali karena ia yakin sebenarnya lelaki itu masih hidup. Sementara itu Pax yang tersasar di hutan dan dalam keadaaan terlunta-lunta bertemu dengan berbagai tokoh sihir dan memperoleh mantra baru yakni Mantra Dies Irae, kemampuan untuk membalikkan sosok manusia dari seekor singa jantan yang misterius. Setelah cukup berguru, Pax pun pulang kembali ke warung makan Nuna dan kisah berakhir bahagia.




Ulasan Cerita :


Kali ini Clara Ng berhasil memikat saya dengan kejadian lucu yang diselipkan diantara cerita. Permasalahan anak muda baik yang pria maupun wanita sengaja dibuat tak terlalu berat meskipun tema yang dibawa adalah soal sihir. Saya bisa membayangkan seandainya ada keluarga penyihir yang hidup di Indonesia apa jadinya bila sudah melancarkan tongkat sihir dan merapal mantranya, yang keluar justru sihir rasa Indonesia dan tidak menakutkan namun malah mengundang kelucuan di sana-sini. Dalam situasi sulit pun Clara Ng tahu bagaimana menyelamatkan plot agar pesona sihir itu tetap menjadi sebuah hal yang tak menyeramkan. Didukung oleh pemilihan tokoh yang nyentrik seperti Chao atau Tsungta, cerita ini jadi malah terasa segar karena tak hanya dialognya saja yang kadang menggelikan namun gambaran penampilan dari kedua tokoh ini sukses bagi saya dalam membayangkan tokoh komedi yang sangat lucu.

Kisah yang ringan saja diantara dua pasang anak muda yang saling mencintai namun terasa istimewa karena tema yang diusung tidak lazim bagi kebanyakan pengarang Indonesia. Soal sihir. Mungkin Clara Ng terinspirasi oleh kisah  Harry Potter sehingga menuangkannya dalam sebuah keluarga keturunan penyihir Indonesia. Jalannya plot juga tidak membosankan karena pengarang mampu mengolahnya dengan baik agar tetap di jalur benang merahnya yakni dua insan Pax dan Nuna yang selalu mempertanyakan cinta diantara keduanya. Tokoh-tokoh yang mendukung maupun yang menggagalkan kisah cinta ini masih tetap sama, ada Xander, Oryza, Strawberry, Tsungta bahkan tokoh baru di buku ketiga ini; Chao, menurut saya ia sekadar bumbu saja tak ada relevansinya dengan inti cerita.

Singkatnya, novel ini sangat ringan, tak bertele-tele, ada kelucuan yang segar dan tidak membosankan. Yang diacungi jempol adalah kemampuan pengarang meliuk-liukkan emosi, plot dan dialog yang tepat sekaligus mengundang tawa terutama saat Pax disihir menjadi orangutan oleh singa jantan, menurut saya ini benar-benar lucu karena pengarang sukses mengkondisikan sosok orangutan yang harus menulis. Sesaat membicarakan tentang bebek yang meronta-ronta namun di saat yang lain ternyata itu sihir tingkat tinggi. Bagi saya ini kelebihan dari sebuah novel.



Pin It!

You May Also Like

0 komentar