Partikel

by - Sunday, August 25, 2013



Partikel
Dee
Bentang Pustaka, 493 hal
Gramedia, Plaza Semanggi



Jalan Cerita:


Seorang gadis muda dengan berbekal pengetahuan yang diajarkan hanya dari sang Ayah, mencoba mencari jati dirinya. Zarah Amala, demikian nama gadis ini selama hidupnya berperang batin dengan Ibu, Abah, dan Umi.  Berawal dari sebuah kampung di pinggiran kota Bogor tersebutlah nama Batu Luhur yakni sebuah kawasan yang sangat keramat bagi masa kecil Zarah dan Hara. 

Sejak kecil Zarah Amala -yang artinya Partikel Cinta, tak mengenal bangku sekolah karena sang Ayah bersikeras mendidiknya sendiri melalui lingkungan sekitar. Meski mendapat tentangan dari berbagai pihak, Firas, ayah mereka yang dosen dan ahli mikologi ini bergeming dan tetap mengajarkan pendidikan ala Firas. Selain itu ia juga memiliki misteri yang kadang menimbulkan rasa ingin tahu dan mengusik ketenteraman keluarganya. 

Dalam keadaaan tertentu Firas selalu mendatangi sebuah hutan yang dipandang angker oleh penduduk sekitar. Tragedi  demi tragedi menimpa keluarga kecil ini. Kematian adik bungsu mereka menimbulkan gejolak dan memuncak dengan menghilangnya ayah di suatu pagi.

Zarah akhirnya terpaksa disekolahkan meskipun selalu menemui kesulitan yang parah akibat adaptasi yang terlalu dini. Di sinilah pertama kalinya ia memiliki teman dari Nigeria, Koso. 

Situasi yang selalu memanas, ibu yang tak mendukung dan memahami jalan pikirannya serta lenyapnya sang ayah makin membuat Zarah terpuruk.  Namun cahaya wajahnya bersinar ketika suatu hari ia menerima kiriman kamera Nikon Titanium dari seseorang yang misterius. Hadiah ulang tahunnya yang ke-17. 

Diawali dengan menang lomba foto di majalah Zarah memulai hidup baru di sebuah tempat konservasi orang utan di Tanjung Puting, Kalimantan. Di sana Zarah menemukan keluarga baru dan kedekatannya kembali dengan alam. Namun, bakat fotografinya membawa Zarah lebih jauh dari yang ia duga. Perkenalan dengan  Paul Daly dan kemampuannya berbahasa Inggris menggiringnya untuk bekerja di Inggris. 

Di London, tempat Zarah akhirnya bermarkas, ia menemukan segalanya. Cinta pertamanya dengan Storm Bradley seorang fotografer iklan, persahabatannya dengan Paul dan Zack, serta pengkhianatan yang dilakukan Koso. Termasuk petunjuk penting yang membawa titik terang bagi pencariannya. Pencarian yang menuntunnya berkenalan dengan sosok pria Indonesia namun kaya raya  pemilik puri Weston Palace, Simon Hardiman. Dan di situlah langkah Zarah terhenti.

Sementara itu, di Kota Bandung, Elektra dan Bodhi akhirnya bertemu. Secara bersamaan, keduanya mulai mengingat siapa diri mereka sesungguhnya.



Ulasan Cerita:


Membaca novel Dee tak bisa dilepaskan dengan berbagai pengetahuan yang diselipkan di sana-sini. Entah pengetahuan yang mendukung cerita, entah hanya berupa torehan istilah yang bisa jadi baru pertama kalinya kita ketahui atau wawasan yang benar-benar baru dan 'sulit ' dijangkau oleh alam pikir kita. 

Namun kesemuanya bagi saya novel adalah novel. Unsur yang harus menonjol adalah fiksinya serta ceritanya. Dan bila terus dijejali pengetahuan berarti itu bukan novel kan? Untunglah Dee telah mengantispasinya dengan mengawalinya murni dengan cerita pada umumnya lalu di hampir mendekati akhir barulah Dee memberikan teori-teori atau kupasan ilmiah akan sebuah peristiwa yang melatari pencarian Zarah. 

Menurut saya sampai di sini penceritaan tentang hal yang berkaitan dengan dunia alien terkesan lebay. Terus terang tanpa ada penonjolan dari simposium yang berlangsung di Glastonbury, menurut saya kisahnya tetap menarik koq. Kadar pengetahuannya menurut saya harus sesuai takaran dan jangan seakan-akan kita diceramahi terlalu lama yang mungkin bagi sebagian pembaca merasa sulit untuk mencernanya.

Kesukaan Dee akan kisah kehidupan alien dan alam gaib juga masih menghiasi novel ini. Awalnya saya anggap ini kontroversial namun sebagai sebuah kisah yang masih berhubungan dengan Supernova, barangkali Dee ingin selalu mengingatkan pembaca bahwa seperti di seri-seri sebelumnya ia akan selalu konsisten untuk  menampilkan hal yang berbeda, bahkan aneh. Yang patut dihargai adalah bahwa  kisah ini pasti berangkat dari sebuah riset ilmiah terlebih dahulu dan itu tak memerlukan waktu yang sebentar. 

Barangkali yang membuat saya tertarik bukan pada kisah Partikelnya tapi apa yang ada di novel Supernova selanjutnya dalam episode Gelombang dan Inteligensi Embun Pagi. Apakah masih mengusung kisah tentang yang sama atau berbeda? Wait and see.

You May Also Like

0 komentar