Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

by - Friday, September 27, 2013




Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
Umar Kayam
Pustaka Utama Grafiti, 260 hal
inibuku.com

Jalan cerita :


Buku ini berisi kumpulan cerpen terbaik dari pengarangnya. Ada sepuluh  cerita yang beraneka tema dan sangat menarik yaitu :


  • Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
  • Istriku, Madame Schlitz dan sang Raksasa
  • Sybil
  • Secangkir Kopi dan Sepotong Donat
  • Chief Sitting Bull
  • There Goes Tatum
  • Musim Gugur Kembali di Connecticut
  • Bawuk
  • Kimono Biru buat Istri
  • Sri Sumarah

Kisah pertama hingga ketujuh berlatar belakang di Amerika dan penokohannya pun juga bermacam-macam. Ada tokoh Marno dengan Jean yang hanya bercakap-cakap tak berujung pangkal dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, tokoh Madame Schlitz yang tinggal di apartemen sebelah dengan aksen Austria dan sempat berkenalan dengan tokoh .'Istriku' dalam Istriku, Madame Schlitz dan sang Raksasa. Sosok Madame ini sangat akrab sekaligus misterius sehingga di saat ia menghilang, tokoh 'istriku' ini benar-benar  kehilangan dan berkesimpulan bahwa sang Madame telan tertelan Raksasa. Dalam Sybil, diceritakan petualangan seorang anak bernama Sybil yang hidup dengan orang tua tunggal sekaligus ibu yang bekerja sebagai pelayan restoran.

Dari kesepuluh kisah,  Sri Sumarah adalah kisah yang sangat menantang. Seorang wanita yang terlahir sebagai Sri Sumarah yang harus pasrah pada nasib. Dengan berlatar pada zaman peralihan antara merebaknya  BTI dan Gerwani serta PKI dengan kemunculan Orba, ia pasrah menjalani hidup. Meski tamat Sekolah Kepandaian Putri, ia nrimo saja untuk dinikahkan dengan pemuda bernama Martokusumo. Pernikahan inilah yang menjadi pintu kehidupannya kelak. Pernikahannya harmonis karena Sri Sumarah selalu menuruti nasehat neneknya untuk selalu menyenangkan suami termasuk bila suami kelelahan, istri harus sigap untuk memijit tubuhnya. Ya, hanya dengan ketrampilan memijit selama bertahun-tahun, kelak ia akhirnya tersohor sebagai pemijat yang dicari-cari mulai dari kalangan biasa hingga orang-orang berduit.

Dalam menjalani hidupnya Sri Sumarah selalu mengikuti air mengalir. Di masa merebaknya BTI dan Gerwani ia dengan naifnya menggadaikan sawah satu-satunya agar dapat menggelar pesta pernikahan termegah putri tunggal di desanya. Yang ia tahu, sebagai seorang ibu,  ia harus menyelenggarakan pesta agar si anak nantinya hanya tahu kemanisan hidup saja meski ia tahu Tun, putrinya sudah takperawan lagi dan tengah mengandung cucunya.

Ketenangan hidup Sri Sumarah kembali diuji dengan tertangkapnya sang menantu yang ternyata seorang aktivis PKI dan Tun sang istri harus rela menjalani hidup di balik jeruji agar tidak ditembak. Hidup bersama cucu mendorongnya untk menerima panggilan untuk memijat hingga di hari tuanya.

Ulasan cerita:

Menarik sekali membaca karya-karya Umar Kayam yang tertuang dalam kumpulan cerpen ini. Menelaah kesepuluhnya seakan kita dibawa ke dalam suasana latar dan kondisi pada saat pengarang itu mendapat idenya. Hal yang jadi pertanyaan mengapa latar sejarah dan nuansa luar negeri sangat kuat dikedepankan dalam cerpen ini? Apakah saat menulis itu pengarang sedang mendapat ide atau memang kondisi penulisan memang dalam posisi berada di sana? Entah, yang jelas membaca tiga judul ; Bawuk , Kimono buat istri, dan Sri Sumarah menjelaskan pada kita bahwa kondisi yang melatari berupa sejarah kelam di republik ini telah menggoyang sendi-sendi kehidupan seorang pribadi, keluarga dan juga pikiran seseorang. Dalam Bawuk, tak terelakkan lagi bayangan tentang PKI dan Gerwani begitu kuat dan membuat seorang istri bernama Bawuk memilih jalan untuk kembali ke kegelapan daripada harus bersama dengan keluarga yang mengasihinya. Pada Kimono buat istri ada rasa seakan kenangan bergaul semasa masih menjadi pemuda dan hidup dalam suasana mencari makan yang sangat susah telah membuat persahabatan Wandi dan Mus tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan meski telah sama-sama menjadi orang yang berhasil dan bertemu kembali di Jepang dalam suasana yang berbeda. Kimono buat istri pada akhirnya hanya menjadi oleh-oleh untuk menutupi kenakalan Mus yang telah bermain-main dengan geisha Jepang.

Dibandingkan dengan cerpen yang lain, dalam Sri Sumarah, serasa ada kedalaman emosi yang melatari kisah selain juga kematangan ide untuk dicurahkan. Alur cerita yang linier dengan sedikit kilas balik seakan memperkuat posisi tokoh Sri Sumarah yang harus sumarah, pasrah, hingga di masa tuanya. Dalam kehidupan nyata, masih banyak sosok-sosok perempuan seperti ini yang pasrah pada nasib dan menjalani hidup hingga di akhir masanya. Saya melihat seakan Umar Khayam mampu membaca situasi dan kondisi perempuan pada umumnya di masa dahulu yang masih tercermin hingga masa kini. Bahwa karakter perempuan yang ditonjolkan seperti demikian adanya, pastilah pengarang telah membaca situasi ini dengan cermat ditunjang oleh sejarah yang hitam akibat sepak terjang PKI. Jarang ada pengarang cerita yang mengangkat tema kegetiran akibat PKI.

Pertanyaannya mengapa pengarang banyak mengaitkan tentang PKI pada ketiga cerpen terakhirnya? Mungkin untuk lebih menegaskan lagi bahwa cerita yang terkait dengan sejarah tetap akan menarik bila diramu dengan tepat terlebih dengan tokoh marjinal yang tersingkirkan.





You May Also Like

0 komentar