And the Mountains Echoed

by - Sunday, November 24, 2013






And the Mountains Echoed
Khaled Hosseini
Penerbit Qanita, 512 hal
Gunung Agung, Blok-M plaza


Jalan cerita:

Abdullah dan Pari dua kakak beradik sedang bepergian bersama Ayahnya, Saboor menuju kota Kabul. Sang Abang bersedia berjalan kaki berkilo-kilo meter mengikuti Ayah yang mendapat panggilan kerja sebagai tukang bangunan di rumah majikan paman Nabi, paman tiri mereka. Ya, paman Nabi adalah kakak dari ibu tiri keduanya yang bekerja sebagai supir merangkap tukang masak keluarga Wahdati. Keduanya tak menyadari bahwa sebenarnya Nila Wahdati, istri Tn. Wahdati berniat mengadopsi Pari gadis cilik yang baru berumur 3 tahun. Perpisahan mengharukan di sebuah pasar antara Abdullah dan Pari menutup sesaat kisah ini.
 Paman Nabi sendiri sebenarnya mempunyai kisah sendiri yang dituangkan dalam sebuah surat wasiat yang ditujukan pada Tuan Markos. Ia adalah pemuda gagah berusia 21 tahun yang mencoba mencari pengalaman ke kota Kabul karena ingin melepaskan diri dari kesumpekan masalah di rumah. Selama terdampar di rumah keluarga Wahdati, Nabi mendapati dirinya jatuh cinta pada sang Nyonya yang dimatanya wanita yang sangat menakjubkan kendati ia hanya mengagumi dari jauh saja. Dalam wasiatnya pula ia menceritakan betapa Tn. Wahdati sangat tak peduli namun di akhir-akhir hidupnya justru keduanya mampu menjalin persahabatan yang unik, yang awalnya antara pesuruh dengan majikan, hingga menjadi teman yang saling memaki. Rumah dan isinya diserahkan pada paman Nabi dan seiring dengan pergolakan politik yang mengharu biru Afghanistan selama bertahun-tahun, rumah sempat dijadikan markas pengobatan tim kesehatan. Dalam surat wasiat itu pula paman Nabi menyerahkan rumah pada kemenakannya, Pari. Cerita sementara ditutup di sini.



Kisah lainnya, antara Idris dengan Timur saudara sepupu yang selalu bersama-sama termasuk saat mereka pergi mengunjungi Afghanistan untuk mengurus properti  milik keluarga yang porak poranda akibat perang. Keduanya semasa kecil pernah bertetangga dengan paman Nabi dan bermain bersama di taman. Idris sosok yang pendiam sementara Timur lebih terbuka dan spontan serta mampu mencairkan suasana dengan kemampuan basa-basi dan humornya.
Kisah lainnya adalah tentang Pari yang sudah dewasa dan menetap di Paris bersama Nila ibu angkatnya. Ia menjadi wanita dengan segala kemudaannya bergaul dengan kawan-kawan Parisnya, bersekolah, bekerja, menikah hingga memiliki 3 anak dan sukses memiliki jabatan tinggi. Di usia ke-48 ia menerima kabar dari Markos seorang dokter bedah Yunani yang lama mendiami rumah warisan Nabi.

Kisah berganti lagi kali ini melalui sudut pandang seorang Markos Vivaris, yang memiliki kisah panjang sebelum akhirnya memilih menjadi seorang dokter bedah dan mengabdikan ilmunya hingga ke Afghanistan. Cerita beralih ke masa seorang anak bernama Adel yang berteman dengan anak Iqbal -saudara tiri Abdulah-. Seluruh cerita ditutup oleh pertemuan mengharukan antara Abdullah dengan Pari di usia yang sama-sama senja.


Ulasan:

Khaled Hosseini adalah salah satu pengarang yang sangat saya kagumi terutama dalam mengolah plot ceritanya. Ia mampu dan terlihat asyik sekali dalam menceritakan kisah hingga menjadi sesuatu yang mengharukan lalu bangkit menjadi semangat pantang menyerah. Sesuatu yang menjadi ciri khasnya adalah menjaga agar kisah tetap dalam relnya dan takkan melenceng jauh. Maka, ketika membaca novel ini, saya bertanya-tanya, 'Akan dibawa kemanakah alur cerita ini?" Karena sampai melewati pertengahan ketebalan buku, saya masih belum tahu apa rapport -hubungan dan tujuan pengarang berkisah dengan gaya fragmen seperti ini? Ini juga sekaligus mendorong kita untuk terus melanjutkan baca karena well, memang mengasyikkan membaca kata demi kata yang tertuang dalam cerita ini.


Meskipun kisahnya dipecah berdasarkan perspektif masing-masing pelakunya, namun yang menjadi benang merahnya adalah tetap perpisahan antara Abdullah dengan sang adik, Pari. Perjalanan mengarungi perubahan jaman, waktu, jarak, dan kepribadian menjadikan keduanya saling mencari-cari.
mengena pada temanya
Untuk sebuah tema kehilangan, perpisahan dan pertemuan, tokoh yang tak berhubungan langsung semestinya tak perlu berpanjang-panjang namun mungkin pengarang memiliki alasan tersendiri  mengapa Adel, Idris dan Markos Varvaris dimasukkan ke dalam kisah, Mungkin untuk memperkuat plot. Bahkan wilayah antara Kabul, Paris, San Francisco, Yunani dengan kepulauan Tinosnya serasa hanya sepelemparan batu saja.

Novel ini membuktikan bahwa kenangan, rasa kehilangan, keharuan yang berloncatan saling bersisian mencari penawarnya takkan lekang oleh waktu yang panjang merambat. Seluruhnya menyimpan rasa pertemuan yang tertunda hingga mencapai klimaksya. Cerita yang secara emosi sangat rumit, kuat, dan mengejutkan di setiap halamannya. Dan keragaman tokohnya membuat pembacanya diharapkan memperoleh pemahaman lebih baik akan budaya Afghan. Itu  inti sarinya menurut saya.



You May Also Like

0 komentar