Berjalan di Atas Cahaya

by - Sabtu, Januari 25, 2014



Berjalan di Atas Cahaya
Hanum Salsabiela Rais
Gramedia Pustaka Utama, 224 hal
Pameran Buku-Indo Book Fair, Istora Senayan


Sinopsis:

Kisah diawali dengan kesibukan Hanum yang berencana akan menayangkan sebuah acara tentang kehidupan kaum muslim yang tinggal di Eropa dan berbagai kisah kehidupan mereka yang berperan sebagai agen muslim untuk sebuah stasiun televisi swasta. Meskipun dana minim, selalu saja ada jalan yang memudahkan tim ini mencapai  tempat dan menemui nara sumbernya. Nara sumber di sini sungguh luar biasa dalam menjalani hidup sebagai agen muslim di tengah masyarakat yang mengidap Islamophobia. Kisah kedua tentang perjuangan wanita bernama Tutie Amaliah yang tertatih-tatih menjalani studi masternya di tengah sorotan teman kuliah yang berprasangka buruk tentang ajaran Islam atau pertemanannya dengan orang tua murid yang ternyata beragama Islam meskipun perawakannya benar-benar bule. Kisah yang terakhir, Wardatul Ula seorang wanita Aceh yang mendalami teologi dan mengalami kehidupan berhijab di Turki.






Ulasan:



Membaca kisah yang tertuang dalam buku ini ada perasaan sedikit kecewa karena sebenarnya saat melihat sampul bukunya saya merasa dijanjikan dengan petualangan yang lebih spiritual lagi dari buku karangan Hanum sebelumnya. Isi yang saya dapatkan hanyalah petikan kisah tiga wanita saat mengalami peristiwa religius sekaligus peran sebagai agen muslim di benua biru, Eropa. Karena masih ada embel-embel cahayanya saya kira perjalanannya akan lebih mendalam namun ternyata tidak demikian. Bahkan saya terjebak untuk selalu membanding-bandingkan diantara kedua buku tersebut. Buku yang pertama sangat baik sekali menerjemahkan perjalanan cahayanya dengan kota dan lanskapnya. Sementara kisah yang ini rasanya tak ada semangat seperti itu lagi. Apalagi setelah mendapati buku ini lebih  tipis seakan memberi pesan bahwa isinya sekadar pelengkap buku yang pertama. Tak bisa dipungkiri setelah sukses dengan buku yang dulu, saya selaku pembaca mengharapkan kisah yang lebih heboh lagi. Saya merasa tidak menemukan hal yang 'duaar' di buku ini. Kisahnya hanya tentang pengalaman seorang wanita yang menemui perbedaan dan benturan berkenaan dengan kehidupan di negeri Eropa.  Menurut saya justru yang mendatangkan inspirasi adalah para narasumber yang dihubungi Hanum. Bahkan sang suami mereka pun ikut masuk Islam. Bukankah inilah yang sebenarnya yang disebut agen muslim. Mampu menyebarkan ajaran Islam ke orang yang terdekat.

Well, meskipun begitu ada hal yang patut diselami yakni di bagian epilognya. Bisa dibilang, epilog ini berbobot dan bisa sebagai penyelamat kisah yang menurut saya biasa saja itu. 

Pin It!

You May Also Like

0 komentar