Dark Places

by - Sabtu, Februari 15, 2014




 Dark Places
Gillian Flynn
Crown Publisher, New York, 544 hal
Pameran Buku-Indo Book Fair, Istora Senayan


Jalan cerita:


Ketika Libby Day berusia tujuh tahun, ibu dan kedua kakak perempuannya Michelle dan Debby ditemukan terbunuh di rumah petani mereka, sebuah pedesaan di Kansas. Darah para korban telah dipakai untuk menuliskan suatu simbol pemujaan setan di dinding rumah mereka. Ben Day, abang Libby yang berusia 15 tahun saat itu akhirnya ditetapkan sebagai pembunuh berdasarkan kesaksian Libby. Dua puluh lima tahun kemudian sebuah  badan amal yang telah menyokong dana hidup bagi Libby menemui kebangkrutan dan Libby tak tahu cara untuk mendapatkan uang lagi.

Suatu hari ia dihubungi oleh Lyle Wirth, seorang pria muda yang menjadi ketua perkumpulan Kill Club. Kill Club adalah kelompok yang para anggotanya sangat fanatik dengan kisah kejahatan misterius dan terobsesi untuk menggali kebenaran tentang kasus yang disebut dengan "pengorbanan setan rumah petani". Dan Lyle membayar Libby agar bersedia melakukan penyelidikan tentang pembunuhan keluarganya. Meskipun selama hidupnya ia yakin bahwa Ben telah melakukan kejahatan, Libby ternyata menemukan beberapa ketidaksesuaian cerita yang mendorongnya untuk terus melakukan penelusuran dan mencari kebenaran sesuai dengan yang diinginkan para anggota Kill Club, kelompok yang semakin membuatnya terlibat dengan kasus ini. Mereka yakin bahwa Ben tak bersalah dan mau tak mau Libby harus membuktikannya.





Ulasan:


Dark Places dikisahkan dengan alur cerita yang maju mundur, masa lalu dan masa kini. Dengan memakai sudut pandang 'aku' untuk bab yang berisikan kisah Libby ditambah dengan latar waktunya yang kian mendekati saat-saat pembantaian, pengarang sepertinya ingin memberi suasana yang mendebarkan sekaligus penasaran. Penggambaran tiap tokoh pada masing-masing bab secara berganti-gantian cukup merepotkan karena kengerian yang hampir terbangun malah akan hancur karena bab berikutnya pengarang justru menampilkan kisah masa kini yang diwakili oleh sepak terjang Libby. Ketiga tokoh utama yakni Patty Day sebagai ibu Libby, Ben Day sebagai abang Libby dan Libby sendiri masing-masing tampil dalam setiap bab. Gaya penceritaan seperti ini dimungkinkan untuk menambah suasana seru dan mencekam. Memang ada kelebihan dan kekurangannya. Menurut saya hal ini membuat kisah menjadi tidak runtut dan konsentrasi menjadi berkurang serta menggantung. Alih-alih ingin fokus malah menjadi lupa benang merahnya. Namun kombinasi antara masa lalu saat pembunuhan dan masa kini ketika Libby hampir mendekati si pembunuh merupakan ide penceritaan yang menakjubkan seakan kita tanpa sadar dituntun ke arah pembunuhnya. Dan pembaca menjadi tahu situasi yang terjadi menjelang detik-detik terbunuhnya ibu dan anak ini.

Meski demikian cerita ini tak menampilkan hanya satu tokoh saja. Tokoh Ben adalah sosok yang paling galau menurut saya dan bikin gemas karena sebagai pria ia seperti tak punya pendirian dan mengikuti arus kenakalan pacar dan temannya, Diondra dan Trey. Melalui penceritaan masa lalu kita jadi tahu apa masalah yang dihadapi Ben. Demikian juga dengan Patty. Sebagai seorang ibu yang mengalami perlakuan kasar dari suaminya ia adalah sosok yang rapuh dan tak memiliki kemampuan lebih untuk menata keluarganya. 

After all novel ini bagus dan cukup baik untuk diangkat ke film.

Saya baru mengenal pengarang ini dan terpikat pada kalimat-kalimat yang tertuang, contohnya ini:

But he wasn’t home when we went to bed, and when I woke up the light was on. I remember a flush of relief because Ben was home because his light was on and the fight was over between him and my mom at least for today because the light was on and he was talking behind the door, maybe on his new phone, or to himself, but the light was on.



Pin It!

You May Also Like

0 komentar