Menyemai Harapan

by - Kamis, April 17, 2014



Menyemai Harapan
Maria A, Sardjono
Gramedia Pustaka Utama, 375 hal
Indo Book Fair-Istora Senayan



Jalan cerita:



Kisah diawali dengan kesibukan persiapan pesta pernikahan yang akan dijalani sebentar lagi oleh Dewi. Meskipun sebenarnya ia bimbang akan  pernikahannya dengan pria bernama Puji karena jelas-jelas telah mengkhianati cinta Dewi dengan berselingkuh, namun Dewi bertekad untuk terus menyelenggarakan pesta pernikahannya hanya karena tak tega menyaksikan semangat dan kegembiraan sang ibu. Dewi merasa pernikahan yang akan dijalani ini akan penuh kepalsuan karena Puji tergoda perempuan lagi dan rasa cintanya perlahan luntur.

Cinta yang dibangun di atas kepura-puraan ini akhirnya berlangsung tak mulus karena Dewi memutuskan untuk bersedia menikahi Puji yang nyata-nyata telah menghamili gadis lain. Persoalannya adalah bagaimana mengarungi hari-hari bersama suami yang tidak dicintainya lagi dan harus berbagi perhatian dengan istri yang lain. 

Di lain pihak Dewi pun bertemu kembali dengan mantan kekasihnya di masa lalu, Pramono yang seolah-olah memberi kesegaran. Konflik kian runcing karena Dewi tak mampu memberi keputusan akhir pilihan yang dia ambil. Memilih keutuhan rumah tangga yang palsu demi menjaga nama baik keluarga atau mengejar impian manis hidup bersama lelaki yang pernah ia cintai.





Ulasan cerita:
 

 Menelisik karya Maria A. Sardjono kali ini amat berbeda dari yang sudah-sudah karena gambaran awal begitu berbeda dari plot umumnya. Ini pun mengusung tema poligami yang  menurut saya serius. Namun benang merahnya tetaplah tentang pertemuan dua manusia yang saling cinta. Memang kita pasti sudah bisa menebak akhir ceritanya tapi yang selalu menarik adalah bagaimana konflik yang terbangun diantara Dewi, Puji, Pramono, mertua, Indah, dan hatinya sendiri dapat dieksekusi dengan mulus. Pertikaian-pertikaian kecil selalu membuat pembaca gemas pada Dewi yang perlu berlama-lama memutuskan untuk meninggalkan Puji. Padahal, masalah tentunya tidak sesederhana itu. Melibatkan keluarga kedua pihak adalah kesulitan Dewi selanjutnya untuk menjelaskan hatinya yang terluka. 

Menurut saya novel ini meski tak menarik di awalnya namun surprisingly, di tengah ceritanya  plotnya menjadi lebih baik dan memberi pencerahan. Ada riak-riak kecil yang membuat Dewi justru menjadi kuat dan terdorong untuk bercerai setelah hidup dalam poligami. Ini gambaran wanita pada umumnya di sekitar kita bukan? Ingin bercerai tapi ada banyak pertimbangan dan nama baik keluarga  yang dipertaruhkan. Dari sosok yang lemah, rapuh dan bimbang berubah menjadi wanita yang tegar, berani dan legawa. Cinta tak hanya disorot dalam bingkai indah namun ada saat-saat dimana cinta perlu dilepas demi menyambut yang lain.

Novel ini bisa menjadi cermin betapa pun rapuhnya wanita akibat dikhianati, namun ada tekad kuat untuk bangkit.



You May Also Like

0 komentar