The Cuckoo's Calling

by - Saturday, April 26, 2014




The Cuckoo's Calling
Roberth Galbraith (Pseudonym) JK Rowling
Gramedia Pustaka Utama, 517 hal
Book Launch 1st-Gramedia Gandaria City



Jalan cerita:


Seorang supermodel cantik bernama Lula Landry tewas karena jatuh dari balkon apartemennya. Semua orang menduga korban memang berniat bunuh diri dan fakta itu tak terbantahkan hingga pada suatu hari datang seorang pengacara bernama John Bristow menemui Cormoran Strike, seorang veterang perang Afghanistan yang timpang kakinya namun berprofesi sebagai detektif partikelir. John menghadap Cormoran bukan tanpa alasan. Ia merasa Lula -adik tirinya- tidak mati karena bunuh diri namun oleh sebab lain yang belum terpecahkan alias dibunuh.

Cormoran diminta menelusuri sekaligus memecahkan misteri pembunuhan yang paling menarik perhatian seluruh paparrazi London ini. Dibantu oleh seorang pegawai temporer, Robin Ellacott, ia menyelidiki dan mengenali satu per satu teman-teman korban dalam 24 jam terakhir sebelum peristiwa tewasnya Lula. Mulai dari John Bristow sendiri selaku kakak tiri, satpam apartemen Derrick Wilson, teman sesama terapi Rochele Onifade, paman korban Tony Landry, pacar korban Evan Duffield, perancang busana Guy Some, teman-teman korban Ciara Porter, Bryony, dan ibu tiri Lady Bristow. Kesemuanya memiliki peluang untuk melakukan kejahatan namun dengan kejelian dan naluri detektif serta kesimpulan akhir yang tepat, Cormoran mampu mengetahui segera siapa sesungguhnya dalang pembunuhan supermodel ini.




Ulasan:


Membaca novel fiksi karya pseudonym JK. Rowling seperti merasakan aura baru dari novel sebelumnya yakni  seri Harry Potter atau yang bergaya komunal seperti Casual Vacancy. Menyimak jalan ceritanya yang beralur linier kita akan disodori berbagai kemungkinan-kemungkinan akan adanya tokoh baru yang bisa menjadi tersangkanya. Sampai di pertengahan cerita, pengarang masih tetap seperti di novel terdahulunya yakni masih menggiring pembacanya untuk mengenali beberapa orang yang terlibat langsung. Ada kesan kita dipaksa untuk mengenali sebanyak mungkin orang-orang terakhir saat bersama korban dan kita harus ikut menduga, mengira-ngira serta berprasangka pada setiap orang yang ditemui Cormoran. 
Kemajuan dari gaya penceritaan Rowling ini adalah diperkenalkannya relung-relung gelap perasaan sang detektif  dengan masa lalunya sebagai mantan prajurit perang serta hubungannya dengan Carlotte dan Robin.

 Other people his age had houses and washing machines, cars and television sets, furniture and gardens and mountain bikes and lawn mowers: he had four boxes of crap, and a set of matchless memories.

Robin Ellacott -Cormoran Strike
Menurut saya ada kalanya pengarang ingin pembaca tahu apa isi hati Cormoran selain sebagai seorang detektif. Namun yang dilupakan pengarang adalah justru tidak diceritakannya pengalaman sebagai detektif sebelumnya. Mungkin nanti dalam seri berikutnya. Tarik ulur perasaan dengan pegawai temporernya pun cukup membuat kita gemas. Meski kita tahu pada dasarnya Cormoran suka dengan cara kerja Robin yang tangkas dan efisien.

Mungkin inilah yang ditawarkan oleh rasa baru ala Rowling; keasyikan menelaah para  tokoh yang banyak sehingga lupa bahwa sebenarnya detektif ini telah mengantongi sebuah nama dan kita hanya bersiap menunggu Cormoran menyebutkannya.

Debut Rowling dalam menulis fiksi kriminal ini patut dipuji karena jarang ada pengarang yang awalnya menulis kisah anak-anak, lalu melompat ke wilayah dewasa dengan bumbu kriminal. Apalagi ia melakukan pendekatan secara deskriptif  untuk melukiskan suasana jalanan, rumah, apartemen, kantor yang sangat detail dan khas Inggris sehingga kita merasa dekat untuk mengamati sepak terjang Cormoran terlebih di kota London. Sosok yang tidak sempurna, berjalan dengan kaki palsu dan selalu kepayahan akibat tubuh besarnya.

Setelah misteri terkuak, penemuan si tersangka menjadi tak penting lagi menurut saya. Justru kesan mendalam ada pada penelusuran dan proses.

Saya pribadi lebih menyukai tuturan deskripsi demikian karena ini sesungguhnya menunjukkan kepiawaian seorang JK Rowling dalam berkarya.


It was nearly eight before he returned to the office. This was the hour when he found London most lovable; the working day over, her pub windows were warm and jewel-like, her streets thrummed with life, and the indefatigable permanence of her aged buildings, softened by the street lights, became strangely reassuring. We have seen plenty like you, they seemed to murmur soothingly, as he limped along Oxford Street carrying a boxed-up camp bed. Seven and a half million hearts were beating in close proximity in this heaving old city, and many, after all, would be aching far worse than his. Walking wearily past closing shops, while the heavens turned indigo above him, Strike found solace in vastness and anonymity.

"Menjelang pukul delapan, barulah dia kembali ke kantor, London pada jam ini adalah saat yang paling disukainya, hari kerja sudah usai, jendela-jendela bar tampak hangat dan berkilauan seperti batu mulia, jalanan berdengung penuh kehidupan, serta gedung-gedung yang ajek dan tak kenal lelah, tampak lembut dalam cahaya lampu jalan; anehnya terasa menenangkan. Kami sudah sering melihat yang seperti dirimu, begitu seolah-olah mereka berbisik menghibur, sementara dia berjalan timpang di sepanjang Oxford Street sambil membawa ranjang lipat dalam kardus. Tujuh setengah juta jantung berdetak berdesak-desakan di kota yang sudah tua dan terengah-engah ini dan banyak yang merasa jauh lebih kesakitan daripada dirinya. Sambil berjalan letih melewati toko-toko yang mulai tutup, sementara langit berubah  biru indigo di atasnya, Strike menemukan kesenangan dalam keluasan dan ketakbernamaan ini."


You May Also Like

0 komentar