Titik Nol

by - Selasa, Juni 17, 2014


Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan
Agustinus Wibowo
Gramedia Pustaka Utama, 552 hal
Indonesia Book Fair


Jalan cerita:


Kisah dibuka dengan kepulangan sang petualang untuk menemui ibunda yang tergolek di ranjang akibat menderita kanker. Si petualang yang tak lain adalah penulis sendiri terpaksa kembali menunda rangkaian perjalanannya demi menyaksikan sang ibu yang di saat-saat terakhirnya masih tetap terlihat bersemangat. Angan-angannya yang ingin menelusuri rute musafir legendaris; Jalur Sutra agak tertahan sejenak. Sembari menemani ibu, pikiran melayang hinggap di awal perjalanan dalam sebuah kereta penuh sesak dari Beijing menuju Urumqi. Dalam perjalanan ini ia berkenalan dengan suku Uyghur, bangsa yang dibesarkan perjalanan.

Dari sudut gersang berdebu di selatan Xinjiang yang dijuluki Kilometer Nol, jalan menuju Tibet bermula. Perjalanan di Tibet adalah sebuah tantangan. Setelah mencapai gunung Kailash, penulis meneruskan petualangan menuju Kathmandu yang nyaman dengan fasilitas pijat, cuci baju, internet, hotel, visa India, tur Tibet, tiket bus, kartu pos dll. Lalu menuju Nepal dan kecopetan. Sosok Lam Li sebagai penyemangat perjalanan cukup membantu mengembalikan perasaan terpuruk.

Selanjutnya petualangan berlanjut ke Annapurna. Di sini penulis mengalami efek ketinggian. Mual, muntah, pusing. Kemudian sebelum ke Pakistan, penulis harus melintasi India diikuti pengalaman yang mengesankan; benci total atau cinta total. 

Pengalaman di Pakistan cukup mengesankan namun yang paling membuka mata adalah Afghanistan. Negeri yang penuh kontradiksi dan ironi. Di negeri inilah penulis memulai suatu perjalanan triloginya sekaligus kembali dan pulang.






Ulasan:



Agustinus kali ini menuliskan sesuatu yang berbeda dari buku-buku yang ia terbitkan sebelumnya. Sesuatu yang lebih personal, lebih merenung dan lebih menyentuh kedalaman hati. Apa pun yang ia tuliskan sangat mencerminkan kegundahan hati, kebimbangan dan kesan selama menjelajahi negeri-negeri yang menarik nan eksotis itu. Tak lupa diselipkan pula curahan hati perasaannya terhadap Ibunda tercinta yang menderita sakit dan tinggal menunggu waktu saja. Sebagai penulis pria, ia sangat piawai membagi kisah antara perjalanan itu sendiri dengan kondisi kekinian saat duduk di tepi ranjang ibunya, selain lebih detail dalam menuliskan sisik melik kehidupan di negeri yang dikunjungi, ia juga mampu merangkai jalinan cerita yang panjang tanpa harus kehilangan momen istimewanya. 

Menurut saya, suatu keberanian ada penulis yang mencampur-campur secara berselang-seling antara cerita petualangan dengan suasana muram yang dipenuhi kesedihan. Antara keinginan membahagiakan dan menemani ibu namun terselip rasa keinginan untuk menyelesaikan perjalanan yang tertunda. Seluruhnya tercermin di tulisannya.

Ia tak perlu neko-neko, malahan ia lebih bersikap apa adanya dalam menghadapi kedua permasalahan besar. Masalah menghadapi penduduk berikut konflik di negeri yang ia kunjungi juga masalah dalam menerima kenyataan pahit yang dihadapi ibunda. Baginya kedua masalah sama-sama perjalanan awal, kembali ke Titik Nol dan harus diselesaikan. Meskipun tak semudah itu.

Menurut saya buku ini merupakan pencapaian terbesar dalam penulisan buku dengan sketsa perjalanan yang sulit. Ada keinginan penulis memperkenalkan sisi pribadinya pada pembaca melalui pengungkapan latar belakang keluarga yang ternyata menganut agama berbeda-beda. 

Titik Nol memang bagus. Esensinya tersampaikan. Bicara kelemahan dari buku ini, kekurangannya mungkin lebih pada sosok Ibu dan bukan adik atau Papa yang lebih bersifat keras yang harus ditonjolkan.


Perjalananku ini adalah perjalanan bertahun-tahun bukan sekadar 
liburan ala backpacker untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas.



You May Also Like

1 komentar