Nada Tanpa Kata

by - Sabtu, Juli 12, 2014



Nada Tanpa Kata
Mira W
Gramedia Pustaka Utama, 256 hal
Gramedia- Gancy



Jalan cerita:

Arista menyadari Alex telah mengidap autisme sejak kecil ketika ia mendapati anaknya tersayang tak mau menoleh apalagi bertatap muka dengan dirinya. Dengan rasa kasih sayang Arista menjadikan Alex sebagai pribadi mandiri dan pintar. Meskipun Arista orang tua tunggal, ia mampu mendidik hingga Alex menemukan passionnya sendiri yakni di dunia fotografi. 

Pertemuan Alex dengan sahabat penanya yang bernama Adelana membuka wawasan pergaulannya sebagai pria yang bertemu dengan wanita dewasa. Kedekatan keduanya  akhirnya membuahkan anak yang bernama Dion. Karena masih sama-sama muda, rumah tangga akhirnya tak bisa dipertahankan. Adelana giat menjadi seorang foto model sedangkan Alex, meskipun autis mampu berangkat menuju Taman Nasional Masai Mara, Kenya demi memenuhi hasrat sebagai seorang fotografer profesional. Di tempat ini Alex kian mempertajam keahliannya dalam berfotografi. Aneka hewan telah menjadi objek fotonya. Berbulan-bulan ia tinggal di negeri Afrika dan bergaul akrab dengan wanita setempat bernama Diani hingga hubungannya semakin jauh.

Sementara itu Adelana terdeteksi menderita kanker tulang dan hidupnya divonis tinggal beberapa bulan lagi.  Penderitaan kian lengkap dengan datangnya kabar bahwa Alex tewas tertembak  akibat ulah perampok di mal di kawasan Nairobi. Arista, sekali lagi menjadi ujung tombak sebuah keluarga yang tercerai berai oleh nasib. Ia harus menjadi wanita tangguh bagi Dion sang cucu dan Chui, anak hasil dari hubungan Alex dengan Diani.


Ulasan:

Membaca novel Mira W selalu saja membawa rasa haru yang dalam. Dramatisasi sebuah kisah adalah ciri khas yang terus terbawa di ingatan semenjak pertama kalinya saya membaca karyanya yang berjudul Galau Remaja di SMA. 



Penuh konflik, alur yang meliuk-liuk ditingkah oleh tokoh yang penuh masalah pula. Dialog masih tetap bernas dan sarat dengan kegalauan dan keresahan. Hal yang baru di sini adalah pengarang mampu menuturkan dengan gaya bahasa sederhana dalam menyampaikan tentang Autisme. Lalu pengenalan lokasi yang merambah ke Afrika bagi saya itu merupakan hawa baru dan benar-benar sesuatu banget. Seakan pembaca diajak ke wilayah yang nuansanya lain dari yang lain.


Bagi saya novel ini masih tetap mengukuhkan Mira W sebagai satu-satunya pengarang wanita yang mumpuni dan ajeg. Tak lekang oleh zaman yang kian menjurus ke metropop style.
 

You May Also Like

0 komentar