The Hunter, Pemburu

by - Sunday, July 06, 2014


The Hunter: A Detective Takako Otomichi Mystery (Kogoeru Kiba)
Asa Nonami
Gramedia Pustaka Utama, 536 hal
Kompas-Gramedia Book Fair- JCC


Sinopsis:

Kisah dibuka dengan peristiwa kebakaran yang menimpa sebuah restoran keluarga. Kejadian  ini bukan kebakaran yang biasa karena selain korban satu-satunya yang tewas adalah seorang pemuda yang kebetulan sedang makan dan terbakar hidup-hidup, namun cara terbakarnya sangatlah unik yakni melalui ikat pinggang yang dipakainya. Semula korban diperkirakan bunuh diri namun seiring dengan arah penyelidikan, ternyata banyak yang melibatkan korban yang dketahui bernama Teruo Hara, alias Takuma Sugawara seorang mucikari bagi siswi SMU. Departeman Kepolisian Metropolitan Tokyo menurunkan dua detektifnya Opsir Takako Otomichi dan Tamotzu Takizawa guna menyelidiki rangkaian kejadian sebelum peristiwa kebakaran tsb.

Dalam kerjasamanya  bersama seorang detektif tua dan selalu meremehkan, Takako selalu menemui banyak persoalan baik mengenai gender dan kemampuannya yang diragukan. Namun seiring waktu berjalan keduanya menjadi kompak dalam mengungkap kasus yang merembet hingga ke bekas gigitan mahkluk buas.
Satu yang menjadi kunci adalah seluruh korban yang jatuh kemudian selalu ditemui bekas gigitan semacam anjing serigala di salah satu anggota tubuhnya - hal yang sama dijumpai oleh korban pertama yang terbakar, Teruo Hara-. Titik terang mulai terlihat saat penyelidikan mengarah ke seorang mantan sersan polisi bernama Katsuhiro Takagi.

Dan begitu terungkap, maka segalanya menjadi jelas dan saling berkaitan.
 
Ulasan:

Membaca kisah kriminal memang harus bersabar untuk mengetahui motif dan pelakunya. Dalam membaca kisah ini kita seakan dituntun untuk ke arah yang benar atau malah menyesatkan penyelidikan. 


Apalagi novel ini tak melulu membicarakan kasus. Pribadi Otomichi  dan Takizawa juga ikut terbawa. Meski menurut saya  karakter opsir wanitanya terlalu 'lembek' dan tidak beraksi seperti halnya reserse wanita dalam film seri CSI. Ini lebih merupakan pilihan pengarangnya yang berprinsip  wanita boleh saja tidak dianggap dan dipandang sebelah mata tapi jangan remehkan bila sudah bertindak. Takizawa seakan baru terbuka matanya menyaksikan betapa gesitnya Otomichi mengikuti  Topan, anjing hasil kawin silang dengan srigala dengan mengendarai motor besarnya. Luruh sudah penilaian rendah terhadap wanita ini dan berganti dengan perasaan kagum akan kecepatan Otomichi dalam bertindak.

Dibanding dengan novel genre kriminal Jepang yang sebelumnya saya baca, The Tokyo Zodiac Murder jelas sekali ada perbedaan yang signifikan. Mungkin karena pengarangnya berbeda, dan sudut pandang berbeda. Namun keduanya memiliki kesamaan; jenis pembunuhan yang tak lazim dan nyeleneh. Atau bisa dikatakan pembunuhan yang di luar prasangka alam pikiran kita. Dalam menyusuri penyelidikan, semua metode ala kepolisian Jepang dikerahkan dan pada akhirnya penemuan pelaku bukan hal yang penting lagi. Kedalaman proses barulah yang  menjadi intisarinya.  Pengarang masih mengadopsi gaya lama, alur bersifat paralel, tak ada kilas balik dan tak ada petunjuk maupun letupan yang membuat terkesima. Semuanya serba 'biasa' serta monoton dan makanya saya heran apa yang membuat novel ini jadi pemenang penghargaan Japanese Mystery? Karena pengarangnya wanitakah? Karena pembunuhnya bukan manusiakah? atau karena ada misi feminisme di sini? 

Well, mungkin beda gaya beda selera. 

 






Pin It!

You May Also Like

0 komentar