Antologi Rasa (Illustrated Edition)

by - Thursday, August 14, 2014




Antologi Rasa (Illustrated Edition)
Ika Natassa
Gramedia Pustaka Utama, 336 hal
Kompas-Gramedia Book Fair-JCC


Sinopsis:



Adalah empat orang sahabat yang sama-sama bekerja sebagai bankir. Harris, Ruly, Denise dan Keara. Kesemuanya memiliki rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ada Harris yang memendam begitu lama rasa tertariknya pada Keara, ada Keara yang diam-diam jatuh hati pada Ruly, Ruly yang sangat memuja Denise dan Denise yang menderita karena suaminya berkali-kali selingkuh. Dua diantara sahabat; Harris dan Keara selalu mengalami peristiwa dimana keduanya bersinggungan terus menerus dengan orang-orang  di sekitarnya. Ada suatu kejadian yang membuat hubungan Harris dan Keara menjadi renggang. Dan ini sangat mempengaruhi hubungan persahabatan. Antara benci dan demi kepentingan sahabat keduanya harus terus bersandiwara di depan Ruly dan Denise yang tak tahu menahu peristiwa yang terjadi di Singapura. Ya, sebuah kejadian dimana Harris telah menodai persahabatannya dengan Keara.

Namun lambat laun meski hubungan mereka diuji sedemikian rupa, toh pada akhirnya persahabatan di atas segalanya. 



Ulasan:


Membaca novel metropop ini seakan kembali ke masa centilnya anak muda usia 25-an yang penuh dengan keceriaan hidup, mandiri, dan kebebasan yang absolut. Memiliki pekerjaan, hidup terpisah dari orang tua (tinggal di apartemen), 


tak kekurangan uang, memiliki sahabat yang saban minggu saling bertemu adalah gambaran dunia anak muda masa kini. Dengan sejumlah atribut demikian, pengarang seakan ingin memberi kesan bahwa tokoh-tokohnya adalah orang-orang mampu namun tak bisa lepas dari masalah klasik; cinta.
 
Ditinjau dari segi cerita, ini sebenarnya tema yang biasa namun karena dikemas melalui sudut pandang masing-masing tokoh, maka jadinya menarik tapi juga melelahkan. Menarik karena pengarang mampu menjabarkan diri pribadi karakternya yang khas tanpa terpengaruh karakter lainnya. Melelahkan karena pembaca dipaksa untuk sebentar menelusuri perasaan Keara, lalu sebentar pindah ke perasaan Harris, sebentar kemudian pindah ke perasaannya Ruly. Begitu terus berulang-ulang dan berputar-putar. Seolah pembaca tidak boleh fokus dengan hanya satu tokoh dan ini tentu saja sangat mengganggu kenikmatan membaca. Efeknya tidak mendalam dan hanya sepintas saja.

Ditinjau dari alurnya, cerita bersifat maju mundur bergantung pada sudut pandang tokohnya. Novel ini memiliki kejutan justru di akhir cerita yang tidak diduga. Entah bagaimana, pengarang memilih menyudahi konflik hubungan antara Keara dan Harris seperti ini dan menurut saya kurang 'nendang' dan hambar. Apa pun itu, sebuah metro pop memang memiliki jalan cerita yang melenceng seperti itu sesuai dengan gaya hidup urban dan ringan-ringan saja seringan hidup yang dijalaninya. Kekurangan novel ini justru ada pada penggunaan bahasa Inggris yang terlalu banyak. Bagi pembaca yang fasih memang tak masalah, tapi bagaimana jika orang tua yang suka membaca tapi tak pernah mengenyam bahasa Inggris misalnya? Dan satu lagi, saya koq merasa kurang suka dengan sampul bukunya yang berlatar putih dan hanya ada jantung di tengah-tengahnya.

Well, memang itu haknya pengarang sih untuk menggunakan bahasa lain di tengah-tengahnya. Dan mungkin itu bagian dari ciri seorang pengarang. Sah-sah saja.




You May Also Like

0 komentar