Kedai 1002 Mimpi: Dangkal

by - Rabu, Agustus 20, 2014




Kedai 1002 Mimpi
Valiant Budi Y
Gagas Media, 384 hal
Jakarta Book Fair-Istora 


Sinopsis:

Setelah menerbitkan buku yang berjudul Kedai 1001 Mimpi dan kembali menginjakkan kaki di Indonesia, kegembiraan tak berlangsung lama direguk. Tak lama kemudian pengarang mulai dihinggapi teror dari pihak-pihak yang tak menyukai kisahnya. Dari mulai teror lewat medsos hingga pengempisan ban mobil hingga menenangkan diri ke negerinya Harry Potter. Semuanya dilakukan agar pengarang merasa tenang dan tak menjadi sinting sendiri. Ketakutan akan teror tak hanya menyisakan kondisi paranoia dan mimpi buruk namun malah mendatangkan ide untuk membuka kedai minum yang herannya menyedot anak muda untuk mampir. Meski masih banyak yang membencinya, pengarang masih berupaya untuk berdamai dengan para penghujatnya dan menerima dengan lapang dada.



Ulasan:

Membeli novel ini terus terang karena saya mengharapkan cerita yang lebih dari buku pertama yang diterbitkan, Kedai 1001 Mimpi. Dan saat membacanya, isinya tak lebih dari keluh kesah dan ketakutan akibat menuliskan keburukan perilaku warga Arab dalam buku Kedai 1001 Mimpi. Meskipun mengusung embel-embel 'Kedai' ternyata bukan kedai yang kita harap pengarang akan kupas di negeri lain misalnya, namun malah kedai yang pengarang miliki dan kelola sendiri bersama sang Kakak. Isi buku hanya sekadar curhat dan perang batinnya akan kondisi ketidaknyamanannya sebagai penulis terkenal atau sebagai orang biasa saja atau apa. Bahkan untuk mencari nuansa humor (meski sedikit) tak juga saya temukan dalam novel ini. Sempat terpikir oleh saya jangan-jangan pengarang menerbitkan novel ini hanya sekadar untuk memenuhi tenggat, memperpanjang kesuksesan yang telah diraih dari buku pertama namun belum ada kisah yang menarik lagi sehingga ia memaksa diri menulis dengan mendompleng dan asal memasang label 'kedai' saja. Lalu diisilah dengan curhat penulis.

Dilihat dari bobotnya, menurut saya isi celotehnya dangkal, biasa, dan seperti dipaksakan. Mulai dari dimuatnya kesan-kesan penggemar yang cenderung memuja-muji sampai resep makanan dan minuman. Bahkan untuk lebih biasa lagi, pengarang menjejalinya dengan kisah jalan-jalannya ke London! Menurut saya, ini sangat gak relevan dengan tema yang hendak ia tuturkan. Apakah ia sedang pamer jalan-jalan ke luar negeri? Apakah ia sedang menunjukkan bahwa pelariannya ke London berhasil mengalihkan ketakutannya? Apakah ini cerita tentang traveling? Entahlah. 

Seperti yang saya bilang, buku ini terlalu dipaksakan dengan hal-hal yang gak ada relevansinya dengan judul 'Kedai 1002 Mimpi'. Kedainya mana? Mimpinya apa? Justru keresahan dan gelisah terus menerus yang diungkapkan. Meskipun tidak terus-terusan, tapi sebagian besar bercerita demikian. Kecewa sudah pasti. Atau saya terlalu berharap lebih mungkin? Oh ya poin lebihnya hanya ada pada jalinan kata yang selalu berima (itu pun juga dipaksakan sepertinya). Rima ini memang ciri pengarangnya.






You May Also Like

1 komentar