9 dari Nadira

by - Monday, October 06, 2014





9 dari Nadira
Leila S Chudori
KPG, 270 hal
Kompas-Gramedia Fair-JCC



Sinopsis:

Di sebuah pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri di lantai rumahnya. Kematian sang ibu, Kemala Yunus sangat mengejutkan. Tewasnya Kemala menjadi awal serangkaian mimpi buruk yang mempengaruhi alam pikir Nadira berikut anggota keluarga lainnya. Masing-masing anggota yang terdiri dari Ayah -Bramantyo, Nina, Arya dan Nadira mencari ujung terowongan dengan upayanya sendiri-sendiri. 'Mencari Seikat Seruni' adalah awal pencarian Nadira dalam memandang keluarga dan kesedihan terpendam. Dalam 'Melukis Langit', Nadira harus menghadapi sosok ayah yang masih terpukau oleh masa dimana beliau pernah menjadi wartawan, lalu dalam 'Ciuman Terpanjang' untuk pertama kalinya Nadira bersedia membuka hati untuk seorang pria yang akan menjadi suaminya. 




Ulasan:

Leila S. Chudori, pengarang ini pertama saya kenal karyanya lewat Pulang. Kesan saya, pengarang ini sangat piawai dalam menulis cerita. Kali ini saya kembali membaca karyanya lewat 9 Dari Nadira. Sebagai sebuah kumpulan cerpen, pembaca sudah siap dengan cerpen-cerpen yang tak berurut, atau kisah yang tak ada hubungannya sama sekali satu sama lain. Namun lain perkara pada kum-cer ini.  Berurut seperti sebuah jalinan rumit dengan satu benang merah tokoh bernama Nadira, cerita meluncur secara gamblang, detail berikut perasaan-perasaan terdalam yang dialami masing-masing tokoh. Cerita pendek tapi tidak pendek karena berisi rangkaian kasih sayang dan pencarian jati diri yang tak habis-habisnya mendera sebuah keluarga. Saya suka dengan penggambaran tokoh-tokohnya mulai dari Ayah, Ibu, Kakak pertama, Kakak kedua, dan Nadira sendiri, lalu orang lain tapi sebenarnya lekat-sang kepala Biro, suami Nadira. Seluruhnya menyatu dalam pusaran kasih yang hingga di ambangnya tak juga terpecahkan masalahnya.

Kemampuan dalam mengolah suatu alur selalu sukses membuat saya terpaku dalam membaca kisah. Demikian pula dengan cerpen ini. Pengarang mampu menyusun detak-detak penasaran, kegetiran, kemarahan yang tertahan pada tokoh Nina dan Nadira, ketidakmampuan mengendalikan hasrat yang terpendam, bahkan untuk keluar dari kolong meja saja Nadira tak pernah sanggup sebelum bertemu dengan suaminya. Ada riak-riak psikologi yang bisa diamati melalui cerpen-cerpen ini. Kehilangan ibu tercinta begitu membekas dan keluarga Suwandi sibuk mencari muaranya, pelepasan semacam katarsis untuk menyucikan batin yang terluka. Tak ada cerpen yang lebih baik dari yang lain, seluruhnya sangat terkait dan kompleks. Dengan membaca keseluruhannya barulah kita memahami inti sari kisahnya.  Tapi saya suka sekali dengan cerpen Nina dan Nadira.

Hal lain yang saya suka dari karya Leila adalah, latar waktu dan tempat yang sangat 'dekat' dengan kehidupan sehari-hari kita. Keluarga yang bukan hidup di antah berantah tapi tinggal di Jalan Kesehatan, Salemba Beluntas, Petojo, Bintaro, dan bekerja sebagai wartawan. It's usual isn't? Tapi itu menjadi nilai yang lebih melegakan karena paling tidak toh  ternyata ada keluarga dengan permasalahan segunung, sama seperti masalah yang dihadapi kita pula. Rumah tangga, konflik antar saudara sekandung, dan kenyamanan di rumah. Keseharian yang mengagumkan. Leila seakan mengajak pembaca untuk lebih memahami ketidakberdayaan Nadira dalam mencari jawab. Galau yang sesuai porsinya dan disudahi oleh undangan pernikahan Kang Arya. Sampai di sini saya gemas dengan perasaan Nadira. Pengarang senantiasa mengaduk-aduk emosi. Ibarat belanga berisi sayur lalu perlahan-lahan dimasukkan racikan bumbu aneka rasa, diaduk, dan terakhir garam agar tidak hambar lagi. Cerpen ini tak sekadar penjelajahan waktu Nadira namun juga keluarganya.

Ah, saya menanti kisah-kisahnya lagi kalau begitu.



You May Also Like

0 komentar