Amba: Sebuah Pencarian Tanpa Henti

by - Tuesday, November 18, 2014

Amba
Sebuah Novel
Gramedia Pustaka Utama, 496 hal
Kompas-Gramedia Fair-JCC

Sinopsis:


Seorang wanita kuat, pemberani, teguh dan keras hati mencoba mencari jawab akan keberadaan seorang pria yang menjadi tambatan hidupnya. Wanita tegar ini bernama Amba yang dengan kukuh bertekad menyibak misteri kematian sosok pria bernama Bhisma. Diceritakan bahwa semasa kecil hingga remaja, Amba selalu mengerti, memahami bahwa kehidupan tak selalu lurus-lurus saja, di usia dua belas sekalipun Amba tahu sesuatu tentang arti kesetiaan. Ada masanya hidup tak berpihak bagi dirinya. Keluarganya adalah keluarga terhormat dengan sosok orang tua yang mengayomi dan mengerti gejolak diri Amba beserta adik-adiknya, Ambika dan Ambalika. 

Pertemuannya dengan Salwa Munir, seorang mahasiswa UGM cukup membuat Amba merasa bebas dalam menempuh kelanjutan studinya di fakultas Sastra Inggris. Namun perjumpaannya dengan Bhisma-lah yang membuat pikiran Amba menjadi lebih luas dan menyadari bahwa dirinya memang tercipta untuk Bhisma bukan Salwa. Percintaan Amba dan Bhisma menjadi bunga-bunga di taman hati keduanya. Bhisma adalah dokter lulusan Leipzig Jerman yang memilih untuk berpraktik di tempat terpencil dan mengabdikan hidupnya untuk menolong. 

Dalam suatu peringatan kematian seorang rekan yang terbunuh, keduanya berpisah akibat serbuan tentara yang mendadak menyerang Universitas Res Publica. Tak pernah disangka, itulah perpisahan Amba dengan Bhisma sang "Resi dari Waeapo" selama-lamanya.


"Dan rongga langit pun diselaputi sedih dan sang Surya sendiri meredup. Bumi seakan-akan memekik keras...'Dialah yang paling kenal Veda! Dialah yang terbaik dari semua yang mengenal Veda'! Begitulah para makhluk bersuara ketika Bhisma tergeletak di tanah, ditopang ribuan anak panah yang menembus raganya"

Bhisma Parva, CCXI



Ulasan:


Membaca novel karya pengarang ini memang membutuhkan konsentrasi yang tinggi karena segala renungan, letupan dan masa lalu saling berkelindan. Dalam lakon wayang, Amba benar-benar sangat mencintai Bhisma namun bertepuk sebelah tangan. Dalam Mahabharata, Bhisma menginginkan Amba untuk dipersandingkan dengan adiknya. Dalam novel ini kisah dituturkan kilas balik dan keduanya terlibat cinta yang sendu. Amba mendatangi Pulau Buru karena menerima surel yang mengabarkan Bhisma sang dokter itu telah lama wafat. Ditemani Samuel  dan Zulfikar -masing-masing seorang intel dan mantan tapol- Amba menjelajah pulau Buru.

Dalam novel ini perasaan hati seorang Amba begitu jelas dan berakhir pada satu tujuan yakni mengejar cinta sejati seorang Bhisma. Amba yang hingga berusia 60 tahun tetap setia pada kekasihnya dan telah membuatnya mengandung -meski bersedia menikah dengan Adalhard ini- bersedia menekuni celah ceruk pulau Buru berikut masa lalu penjaranya. Selain kisah yang menarik, diksi dan tata kalimatnya begitu bermakna sehingga apa pun yang tergores dalam tiap-tiap lembarnya akan menghasilkan perenungan. Sebenarnya kalau ditelaah lebih detail lagi, rasanya pengarang ingin menjejalkan hal-hal yang berkaitan dengan pulau Buru beserta tapolnya lebih jauh ketimbang sekadar mengangkat kisah Amba-Bhisma. Hari-hari yang dilalui para tapol dengan ganasnya alam bukan sekadar ilustrasi pemanis namun inilah fakta yang telah dihadapi sekaligus dijalani. 

Penceritaan yang berkaitan dengan sejarah masa lalu yang kelam terlebih lagi masa-masa pasca peristiwa G30S/PKI adalah momen menantang untuk dikeluarkan. Pengarang perlu melakukan riset, wawancara dengan semua pihak dan mengolahnya menjadi alur cerita yang mulus tanpa harus merasa seperti sedang membaca sejarah. Inilah yang mungkin bagi saya menjadi nilai tambah sebuah novel. Ada sesuatu yang harus diungkapkan dan sangat perlu diketahui kehidupan yang seperti apa di Pulau Buru itu.

Hal yang kita dapat setelah membaca novel ini adalah keteguhan dalam menginginkan sesuatu serta rahasia kelam tempat pembuangan yang jarang kita ketahui lewat buku bacaan sekolah.



You May Also Like

0 komentar