Believing The Lie

by - Sunday, February 08, 2015



Believing The Lie
Elizabeth George
Penguin Group, New York, 610 hal
Book Fair-IKAPI, Istora Senayan




Jalan Cerita:




Zed Benyamin, adalah wartawan  yang ditugaskan untuk menguak kabar misteri pembunuhan seorang tokoh kaya bernama Ian Cresswell yang bertempat tinggal di Cumbria. Awalnya ia hanya tertarik mengekspos kehidupan seorang pria bernama Nicholas Creswell yang tak lain adalah sepupu korban dan memiliki catatan ketergantungan narkoba. Namun peristiwa pembunuhan yang menimpa Ian mebuat Zed berubah haluan untuk mengungkapnya. 

Di lain pihak inspektur Thomas Lynley atas perintah Hill juga diminta paman korban, Bernard Fairclough untuk menyelidiki kasus yang misterius ini. Ian Cresswell ditemukan mengambang dekat gudang kapal. Diduga ia terpeleset saat menginjak batu titian yang ada di dekatnya. Karena penyelidikan ini bersifat rahasia dan tak melibatkan markas besar Scotland Yard, maka Lynley mengajak  sahabatnya pasangan suami istri Deborah dan Simon St James. Selain mereka berdua, Lynley juga dibantu oleh Barbara, asisten sekaligus pasangan kerja. Mereka  berusaha mengungkapnya karena yakin bahwa kematian korban bukanlah kecelakaan namun pembunuhan. Seiring dengan kian jauh mereka menelusuri kasus, terungkap pula bahwa klan Fairclough penuh dengan rahasia, kebohongan dan motif. Bahkan kematian korban sendiri pun hanya menjadi pintu pembuka masalah yang justru lebih besar.



Ulasan:

Membaca sebuah novel misteri membutuhkan kesabaran untuk mengetahui hasil yang terungkap. Selain itu jangan lupakan proses untuk menuju ke sana. Setiap peristiwa sekecil apa pun adalah hasil yang tanpa sengaja bisa dijadikan kunci pembuka. Cerita ini penuh dengan subplot. Di sana-sini kita akan diperkenalkan masalah-masalah baru berkaitan dengan pribadi. Dan lucunya selalu berpasang-pasangan. Lynley dengan..., Bernard dengan..., Deborah dengan Simon, Manette dengan Freddy, Tim dengan Kaveh,  Barbara dengan Alatea, Deborah dengan Zed, Zed dengan Yaffa. Pengarang seakan ingin mengangkat ke permukaan seluruh karakter yang ada untuk lebih mempertegas konflik dan menunjukkan betapa rumitnya kehidupan yang dijalani dalam sebuah novel ini. Dalam kasus pembunuhan, biasanya ada penyelidikan, motif serta jejak. Namun karena cara penceritaan alur yang sepotong-sepotong dimana sesaat diceritakan tentang Simon dan Deborah, sesaat berikutnya tentang Barbara, maka kesinambungan cerita agak terhambat. Alih-alih menjaga agar tetap tegang jalan ceritanya, sebaliknya pengarang malah membuyarkan sekaligus memblok kisah berikutnya. Gaya penceritaan seperti ini jamak dilakukan oleh pengarang misteri yang ingin membangun rasa penasaran pembacanya dan mengulur waktu untuk tahu siapakah pelakunya. 

Ada berbagai hal yang menarik diungkap selain latarnya yang terletak di wilayah Inggris, yakni keluarga Fairclough sendiri yang terdiri dari Bernard sang kepala keluarga, Valerie istrinya, anaknya si kembar Mignon dan Manette yang bertolak belakang sifatnya serta Nicholas. Sebuah cerita dengan model ala sinetron dan terlalu dipaksakan terlebih ada berbagai isu dijejalkan dari mulai pasangan homo, transgender, dan bunuh diri. Mungkin ini disiapkan untuk cerita novel berikutnya.

Sebagai sebuah cerita, pengarang mengemas dengan rapi hingga sampai ke akhir cerita. Di pamungkasnya kita akan temui berbagai kejutan dan keseruan yang tak disangka. Mungkin inilah kelebihan dari pengarang. Hasil ramuan kisah mengerucut menjadi satu isu sentral dimana menurut saya kisah pembunuhan menjadi tak menarik lagi. Justru bagian yang menceritakan penyelamatan Tim oleh Manette dan pengungkapan jati diri Alatea menjadi hal yang sangat menawan. Mempercayai kebohongan memang menjadi senjata makan tuan.

You May Also Like

0 komentar