Cerita Cinta Indonesia

by - Sabtu, Februari 28, 2015

Cerita Cinta Indonesia
45 Cerpen Terpilih
Alia Zalea dkk
Gramedia Pustaka Utama, 384 hal
Book Fair-IKAPI



Sinopsis:


Membaca ke-45 cerpen sungguh suatu petualangan yang menarik. Seakan melongok kehidupan lain yang sesaat keras lalu melongok ke pintu lain dengan kehidupan yang lembut dan berwarna-warni lagi. Diantara sekian banyak yang dibaca, tentu ada yang paling disukai ada yang tidak.  Kisah yang saya sukai biasanya tertuju pada sinergi antara alur dan tokoh. Ini memang tidak objektif  tapi begitulah, selera adalah sesuatu yang tak bisa diperdebatkan. Ada 10 judul cerpen yang saya suka di bawah ini, dan bukan karena yang tak saya sukai itu buruk  tetapi sekali lagi ini hanya masalah selera dan kedekatan emosi saja.



SK Pensiun-Ahmad Tohari
Yu Ngatemi-Anjar Anastasia
Nasihat Nenek-Clara Ng
Tabula Rasa-Debbie Widjaja
SMS-Luna Torashyingu
Bahagia Bersyarat-Okky Madasari
Persepsi-Maggie Tiojakin
Bau Laut-Ratih Kumala 
Lukisan Menangis-Syahmedi Dean
Pilihan-Retni Sb


Ulasan:


Buku ini berisi kumpulan cerpen yang ditulis oleh 45 pengarang yang seluruh karyanya pernah  diterbitkan oleh Gramedia. Cerpen-cerpen yang disuguhkan sangat beragam baik dari alur, latar, maupun temanya. Mengapa ada sebutan cinta di judulnya padahal hampir seluruh isi cerpennya justru bukan soal cinta yang melankolis atau apa. Ini mungkin pertanyaannya. Gramedia menampilkan generasi pengarang yang terwakili lewat tuturan kata dan foto diri pengarang. Memang, yang lama dan yang baru tak bisa ditipu bila dilihat dari gaya bahasanya dan jalinan cerita. Ada yang berkisah tentang keluarga, remaja, pribadi sendiri atau lingkungan. Ada tragedi (SMS), horor ( Nasihat Nenek) atau cinta remaja (Love, X).  Benang merah yang ditarik adalah tampilan kekhasan pengarangnya masing-masing dalam meramu plotnya. Kesepuluh cerpan yang saya sukai benar-benar membuat saya tercenung, senang, sekaligus gundah. Tapi, ada satu judul cerpen yang membuat saya mengernyitkan dahi bukan karena bagus atau buruk atau absurd tapi karena mengapa ada cerpen seperti ini di jajaran kumpulan cerpen. Menurut hemat saya  tak seharusnya cerpen ini ditampilkan karena tak senafas dengan semangat kumcernya. Cerpen  itu berjudul Bukit Tengkorak.

Karena pengarang yang diajak bercerita adalah khusus pilihan Gramedia, maka anggap saja itu jadi hak istimewanya Gramedia selaku penerbit yang sudah membesarkan nama para pengarang. Cuma, kenapa Leila S Chudori tak diajak ya? Mengapa lebih banyak pengarang Teenlit yang muncul di sini?  



You May Also Like

0 komentar