The Silkworm

by - Saturday, March 21, 2015



The Silkworm
Roberth Galbraith  (Pseudonym) JK Rowling
Gramedia Pustaka Utama,
Book Launch 1st, Gramedia Matraman


Sinopsis:

Petualangan detektif partikelir Cormoran Strike berlanjut dengan kasus hilangnya seorang pengarang novel bernama Owen Quine. Ia dilaporkan menghilang beberapa lama. Menurut sang istri Leonora, Quine biasanya hanya menghilang sesaat dan setelahnya ia akan muncul kembali ke rumah. Namun kali ini berbeda dan mencemaskan hingga mendorong Leonora meminta bantuan Strike untuk melacak jejak kepergian suaminya. Berdasarkan keterangan dari Leonora, pencarian mengarah pertama ke Christian Fisher, pimpinan penerbit kecil lalu si agen  bernama Elizabeth Tassel lalu menjalar ke penerbitnya Roper Chard. 

Ada beberapa nama yang selalu lekat  di kehidupan penulisan Quine. Michael Fancourt, rekan dan sesama pengarang, Daniel Chard- si kepala penerbitan, dan Jerry Waldegrave. Strike melakukan pendekatan, penyusupan ke tengah-tengah dunia penerbitan, hadir dalam pesta ditemani Nina Lascelles salah satu karyawan Daniel Chard, hingga tersungkur karena dikejar-kejar penguntit misterius.

Campur tangan Richard Anstis dari Kepolisian Metropolitan sekaligus teman lama, kisruh segitiga antara Robin, Matthew, Strike, percobaan penusukan yang dilakukan oleh Pippa Midgley, sahabat Kathryn Kent -kekasih gelap Owen- seluruhnya  ikut mewarnai  sepak terjang sang detektif dalam memecahkan kasus yang cukup sadis dan keji ini. Keji karena mayat ditemukan di sebuah rumah di Talgarth Road  No. 179 dalam keadaan perut korban growong, ususnya telah dikeluarkan dan disembunyikan di suatu tempat. Sadis karena pembunuhannya sesuai dengan novel yang akan diterbitkan, Bombyx Mori. Menjadi suatu motivasi  tertentu bagi Strike untuk menemukan siapa pelakunya setelah Leonora ditangkap polisi atas tuduhan pembunuhan suaminya. Padahal menurut Strike bukan dia pelakunya.

Ulasan:
 

Sejak antre buku ini,  baru sekarang sempat dibaca. Padahal, ada banyak desakan untuk lekas-lekas membacanya namun apa daya waktu dan peluang baru terbuka sekarang ini. Dan, perasaan itu semakin menggebu kala huruf demi huruf, kalimat demi kalimat berloncatan masuk ke pikiran seraya membayangkan sepak terjang Strike. Kita harus akui  transformasi dari menulis cerita anak-anak ke kisah dewasa di ranah kriminal adalah suatu lompatan yang sangat dahsyat bagi pengarangnya terlebih bagi kita pembaca setia Harry Potter. Cerita di buku ini lebih seram, lebih keji karena alam khayal kita dipaksa ke arah metode pembunuhan ala CSI dan Criminal Mind. Cara menggiring pengarangnya ke orang-orang terdekat yang dicurigai pelakunya adalah sama dengan kasus Lula Landry dalam buku terdahulu, Cuckoo Calling. Ada proses dimana kasus itu ditemukan, lalu TKP, lalu penggiringan ke berbagai pihak. Seluruhnya menarik. Seakan-akan inilah tur penjelajahan ala detektif yang timpang dengan ditemani oleh suasana kelabu, suram, penuh turun salju, dan kesendirian.

Ada bagian saat Rowling sangat menonjolkan suasana melankoli dan muram, sedikit ruang pribadi bagi si tokoh Strike yang masih dirundung sedih karena ditinggal menikah tunangannya, Charlotte. Ada kompromi yang tegar yang dilakukan antar relasi Robin, Matthew dan Strike. Novel ini mengalami peningkatan dalam hal bobot kisah. Meskipun terkesan biasa saja, namun ada semacam daya tarik yang membuat alur cerita tak membosankan dan pembaca ingin terus mengikuti penyelidikan Strike. Selain latar ceritanya di kota London, hal yang tak kalah menariknya adalah kunjungan Strike ke sejumlah kafe, klub, tempat minum atau restoran sebagai lokasi pertemuan para calon tersangka yang akan diwawancarai sang detektif. Deskripsi tentang masing-masing lokasi benar-benar detail dan bisa dibayangkan dengan jelas. 

 Doesn’t anyone call you that, among all your many nicknames?”
she wondered as they walked back through to the hall.
“Call me what?”
““Lightning” Strike?

Dari kedua novel yang sudah dirilis ini setidaknya sudah bisa dikenali gaya penelusuran  Rowling dalam proses memecahkan kasus. Masih serupa dengan novel terdahulu namun kali ini penuh dengan rasa bengis. Hingga hampir mendekati halaman-halaman terakhir, saya belum juga bisa menebak pelakunya. Seluruh sosok yang dihadirkan sangat berpotensi untuk dijadikan tersangka. Dan kesemuanya bersikap abu-abu. Namun memang itulah yang diinginkan Rowling, analisis dan pencerahan akhir rupanya hanya tersimpan dalam pikiran si detektif dan yang diperlukan adalah tindakan nyata untuk meringkus si pelaku. Tentu saja inilah pamungkas dan adegan yang paling serunya. It's marvelous.


You May Also Like

0 komentar