Gelombang

by - Senin, April 13, 2015



Gelombang
Dee
Bentang Pustaka, 474 hal
Book fair-IKAPI, Istora Senayan


Jalan cerita:

Seorang bocah bernama Thomas Alfa Edison selalu mengalami mimpi buruk. Alfa, panggilannya, juga diperebutkan oleh dua orang tetua di kampungnya, Ompu Togu Urat dan Ronggur Panghutur karena diduga Alfa menerima semacam penglihatan sesosok makhluk saat bunyi upacara Gondang Raja Uti terdengar bertalu-talu saat hendak memanggil roh Raja Uti. Sejak saat itu hidup Alfa tak pernah serupa lagi. Hingga ia besar, menuntut ilmu di Paman Sam, lalu bekerja di sana ia selalu dihantui oleh mimpi yang menakutkan. Sosok yang disebut Si Jaga Portibi muncul seakan menggiringnya ke suatu tempat yang tak pernah disangka oleh seorang Alfa. Tempat yang harus ia datangi guna mencari jawaban-jawaban penyebab ia tak pernah semenit pun ingin jatuh tertidur. 

Pertemuannya dengan Dr. Kalden Sakya membuat Alfa bersemangat untuk menelusuri kepingan-kepingan yang terpisah-pisah ini meskipun harus selalu tergelincir.


Ulasan:

Membaca novel kelima dari seri Supernova karya Dee ini butuh setidaknya kerangka berpikir yang berbeda dari yang biasanya. Bukan karena isinya yang sarat dengan keilmuan namun juga kita dipaksa untuk 'berpisah' dahulu dengan urusan lain demi fokus pada hidangan otak yang bergizi. Mengapa disebut bergizi, karena dalam novel ini kita diperkenalkan dengan dunia yang belum terjamah dan sukar dipahami. Dunia alam mimpi yang sulit dijangkau dan di nalar. Apa-apa yang berkenaan dengan mimpi adalah sesuatu yang sukar dijabarkan. Selalu saja ada kejutan yang ditimbulkan oleh Dee. Selalu saja ada petualangan baru yang mengisi batin dan didukung oleh tokoh yang bersikap aneh, unik, luar biasa dan 'sederhana'. Formula ini juga diterapkan dalam buku ini.

Adakah yang bisa mempercayai apa yang dialami seorang Alfa bagi kita yang awam? Istilah seperti Oneironaut, Somniverse, Peretas, Sarvara, Infiltran, menjadi suatu kosa kata baru di dunia permimpian. Suatu batas antara dunia yang seakan fiksi dengan yang nyata terwakili lewat sosok Alfa. Sesuatu yang sulit diterima akal sehat tentang bagaimana seseorang mampu mengendalikan mimpinya.

Karakter tokoh bernama Alfa sejujurnya mewakili orang di sekeliling kita. Naif, sok tahu, keras kepala, kaku, kadang tak tahu sama sekali akan apa yang terjadi berikutnya tapi juga manusiawi. Alur kisah ini pun tak begitu sulit dicerna. Mengalir apa adanya dengan runtut. Di buku ini nampaknya Dee tak perlu mengumbar banyak daftar pustaka yang terus terang saja cukup membuat pusing seperti pada seri Supernova yang pertama Ksatria Putri Bintang Jatuh (KPBJ).

 Mungkin faktor campur tangan pasar dan pertimbangan lain membuat Dee mau berkompromi. Karena tokoh kali ini adalah seorang pria, saya seperti tak bisa merasakan kedekatan emosinya. Entah, apakah karena memang beda pola pikir atau hanya masalah suka dan tak suka. 

Lain dengan saat membaca Partikel atau Petir dimana  masing-masing tokohnya wanita bernama Zarah dan Etra yang mampu membuat saya kagum dan seakan nyata emosinya. Ini bukan karena masalah genre saja namun dalam dua novel pertama -KPBJ dan Akar-, terlihat ada semacam kesombongan dalam hal pembawaan karakter dan kosa kata. Di dua novel berikutnya Petir dan Partikel, ada perubahan mendasar berikut empati yang membumi.

Lalu misteri apa yang hendak disingkap selain bahwa ada 'mereka' yang akan bersama-sama dengan Alfa? Dugaan saya mereka yang tak lain adalah Diva, Bodhy, Etra, Zarah dan nantinya Alfa akan bergabung dalam menghadapi sesuatu yang besar. Kesemuanya memiliki syarat akan pencarian diri dan sosok istimewa. Tapi apakah itu?

Mungkin jawabannya ada di novel berikut, Inteligensi Embun Pagi.



You May Also Like

0 komentar