Pasung Jiwa

by - Sabtu, Mei 16, 2015




Pasung Jiwa
Okky Madasari
Gramedia, 328 hal
Gramedia, Mal Ambassador

Sinopsis:


Sasana atau Sasa adalah seorang pemuda yang beruntung. Dilahirkan dari kedua orang tua yang berkecukupan, berprofesi mentereng dan mapan. Segalanya tampak normal. Namun tidak dengan perasaan dan hati Sasana. Sejak remaja ia selalu mengalami pergolakan batin. Jiwa serasa terkungkung oleh tubuhnya sendiri ditambah masa SMA nya yang selalu dibully oleh teman. Seluruhnya menumpuk menanti untuk meledak. Berawal dari pertemuannya dengan seorang pria bernama Jaka Wani alias Cak Jek di sebuah warung kopi. Sasana seakan menemukan jati dirinya. Ia menjalani hidup baru sebagai seorang penyanyi jalanan. Ia terlahir kembali menjadi Sasa sang penyanyi. Keresahan yang selama bertahun-tahun tersumbat kini menemui jalan keluarnya. Dirinya bergerak, bergoyang, menyanyi, menari diiringi musik Cak Jek. Namun kesuksesan itu tak lama. Pesta harus berakhir sementara karena grup nyanyi Sasa dituding melakukan provokasi terhadap buruh. 

Setelah terombang-ambing oleh ganasnya hidup Sasa dan Jaka Wani  berjumpa kembali namun dengan penampilan dan jalan hidup yang telah berbeda. Meski perjumpaan itu menyakitkan,


bagaimanapun panggilan jiwa untuk selalu bernyanyi bersama takkan padam sampai kapanpun. Pada akhirnya, hanya musiklah yang menaklukkan sekaligus menyatukan keduanya.



Ulasan:

Novel ini cukup menggugah perasaan. Bukan karena mendayu-dayu atau apa, namun karena bobot isinya yang membuat orang tersadar untuk kembali ke hati nurani. Setelah mengalami berbagai guncangan hidup orang perlu untuk mempertanyakan kembali "Untuk apa saya melakukan ini?" "Apakah saya harus menjalani yang tak saya sukai?" Dalam konteks judul, saya melihat bahwa jiwa yang terpasung bukan aral besar untuk berkarya. Setiap individu bebas meski harus mengalami berbagai gelombang yang menghempaskan. Di sini tokoh Sasana yang berubah menjadi Sasa -seorang transgender- digambarkan menemukan dunianya yang nyata. Saya memang baru pertama kalinya membaca novel karya Okky, namun isu tentang LGBT, politik, buruh seakan sesuatu yang tak 'mungkin' dipersandingkan sebagai tema. Ini isu yang rawan meski tak menutup kemungkinan menjadi hal yang menarik sekali di kemudian hari. Biasanya kisah akan kedodoran karena mengusung lebih dari satu tema dan tak ada yang lebih terlalu menonjol. 

Saya menangkap kesan pengarang ingin memperjelas kebobrokan negeri ini pada masa-masa menjelang dan pasca Reformasi dengan menjejalkan beberapa kejadian seperti aktivitas buruh, dan demo mahasiswa. Seakan itu berat namun dengan kepiawaian pengarangnya, urutan peristiwa tak membuat kita kehilangan benang merah.

Bahwa Sasa -yang disiksa aparat usai berdemo di pabrik lalu dicap tak waras- kembali mengamen adalah sebuah potret bahwa seorang waria pun bisa bangkit untuk hidup dan berjuang sampai ia ditakdirkan bertemu kembali dengan Cak Jek yang telah menjadi petinggi ormas Islam. Alur cerita seakan meliuk pelan tapi pasti dan kita tak menyadari di akhir kisahnya seperti apa selain menikmati sajian orkestra hidup yang dimainkan bergantian antara Sasa dan Cak Jek.

Singkatnya, kebebasan adalah mutlak, label-label yang terpasang di wajah kita takkan bisa menutupi hasrat sejati.

Novel ini mempesona dan saya sangat ingin melihatnya diangkat ke layar perak.






You May Also Like

0 komentar