Adventures with the Master

by - Selasa, Juni 09, 2015


Adventures with The Master
Gary Edward Gedall
From Words to Worlds, 365 hal
Giveaway of Goodreads.com 

 Sinopsis:


Dhargey adalah seorang anak yang sakit-sakitan. Kedua orangtuanya selalu melindunginya. Ia anak yang terlalu lemah untuk menjadi tentara atau bekerja di ladang atau bahkan bergabung sebagai biarawan. Agar bisa diterima, ia dipaksa menemani biarawan tua untuk mendaki gunung. Saat kedua orangtuanya melepasnya pergi mereka merasa takkan pernah berjumpa lagi dengan putranya yang ringkih dan sakit-sakitan itu. 

Melalui meditasi, inisiasi, dan kisah-kisah seperti menjinakkan kuda liar, menjadi monyet, memimpin bawahan dan memegang pedang, seorang master muda telah dipersiapkan dalam menghadapi kejahatan yang lebih besar. Dua manusia, dua perjalanan, satu tujuan. 





Ulasan:


Novel ini lama tertimbun di pojok meja. Sejak pertama kalinya saya terima, baru kali ini saya sempatkan untuk membacanya. Pada awalnya saat menatap sampul buku ini, pikiran yang tersirat adalah novel ini pasti akan sangat membosankan dan berat. Tak ada hal lain yang dibicarakan selain meditasi, inisiasi dan sikap Master terhadap Dhargey sang murid yang dianggap ringkih dan sakit-sakitan. Namun seiring berjalannya waktu kita akan merasa suka sekali dengan ucapan dan tindakan yang diperlihatkan Master. Dialog yang dituturkan sangat mudah dicerna dan sarat makna. Novel ini kaya puisi dan wawasan. Di awal perkenalan, Dhargey selalu merasa gusar, marah dan sebal dengan sikap sang Master. Di sini sang guru mengajarkan segala hal yang berkaitan dengan kebajikan melalui serangkaian kisah masa lalunya dan petualangan. Salah satunya kisah tentang Talib, si pincang yang mampu bertahan dan mendamaikan suku di Afrika yang terjajah oleh suku lain. Cerita tentang Talib berkaitan dengan temperamen Dhargey yang pemarah. 
"Where has this energy come from?" "Being angry makes energy".p. 117.

Lewat Jangbu sang Master, pengarang memasukkan berbagai petuah untuk dipahami Dhargey. Kesemuanya menarik untuk dipahami karena berisi ajaran bijak dan baik. Meskipun hanya berisi dua orang saja yakni antara murid dan gurunya, kisah ini nampaknya tak menjadi kering. Sebaliknya cerita semakin indah karena diiringi dengan perkembangan seorang anak yang tadinya ringkih hingga menjelma menjadi seorang Master yang tangguh. Sebagian kisah yang disodorkan adalah kisah Jangbu sendiri (Sang Master) yang takut pada kuda karena pernah menyaksikan hewan itu ditunggangi algojo orangtuanya, akhirnya harus berhadapan dan melawan ketakutannya.

 "You will go to tame your fears and learn to ride a horse. You have now started on the path that will only end when you can release all the pain of your past "p.201

 Bagi yang menginginkan adanya kejutan dalam petualangan, jangan terlalu berharap banyak karena dalam perjalanan ini justru yang menarik adalah kisah yang diceritakan oleh sang Master dan yang tak kalah menakjubkan yakni petuah dan ajaran baik yang sangat bagus direnungkan.


The cup is the body, the hard, empty shell. The tea is the spirit that fills the body. When the tea is gone, that is death. The cup is empty, the body is empty, nothing is left". p.263
 Kisah ini sederhana saja namun memiliki bobot yang sangat menakjubkan. Bayangkan, perjalanan dilakukan hanya berdua dan sang Guru selalu mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyejukkan dan membimbing ke arah yang benar. Kisahnya saat bertemu dengan Ainura mencerminkan bahwa sebuah pertemuan selalu ada perpisahan.

"Don't get attached to people or to things, it makes losing them much more painful" p. 287
 Alur cerita antara masa lalu dan masa kini sang Master mengalir lancar. Ajaran yang bersifat spiritual dan inspiratif muncul disela-sela dialog kadang berupa narasi.  Dan menurut saya kekuatan terbesar dari novel ini adalah dialog. Keduanya saling terlibat percakapan yang mengandung makna tersirat. Kelemahan dari novel ini adalah mengapa hanya ada dua orang saja? Tak ada orang ketiga atau seterusnya. Kesannya menjadi monoton dan kurang melebar. Dengan membawa judul Petualangan seharusnya ada lebih banyak 'petualangan' baik yang bersifat spiritual atau tidak. Namun di luar itu, saya menikmati setiap kata demi katanya.

You May Also Like

0 komentar