Go Set a Watchman

by - Rabu, Maret 16, 2016

I

Go Set a Watchman
Harper Lee
Mizan Pustaka-Qanita, 286 hal
Gramedia Mal Pondok Indah 


Sinopsis :

Setelah lama tinggal di New York Jean Louise Finch, putri kesayangan Atticus pulang kampung  ke tempat kelahirannya, Maycomb County  dan dijemput oleh  kekasih (namun ia malu mengakuinya) juga teman main semasa kecil sekaligus calon pengacara yang sedang dibimbing oleh Atticus, Henry Clinton alias Hank.

Jean Louise telah berusia 26 tahun dan kini ia  memandang lingkungannya dengan cara pandang yang berbeda. Ia masih kerap bersitegang dengan bibinya, Alexandra yang selalu cerewet dan baik hati serta selalu merawat Atticus yang kini mulai sakit-sakitan. Ia juga merindukan Calpurnia, pengasuh negronya yang saat itu juga sedang sakit.

Dalam suatu kesempatan Jean alias Scout ini selalu teringat masa kecilnya yang menyenangkan terlebih tentang kesukaannya  bermain dengan siapapun tanpa memandang warna kulit. Maka di suatu malam betapa terkejutnya ia saat mendapati kenyataan bahwa sang ayah terlihat bungkam dalam menangani kasus yang melibatkan seseorang berkulit hitam dan dipandang bersalah.

Scout seakan disentakkan bahwa dirinya ternyata tak tahu apa-apa tentang lingkungan sekitar yang telah lama ia tinggalkan itu. Apalagi tentang ayahnya sendiri yang di matanya misterius itu.

Penjelasan yang ia terima dari Paman Jack juga tak memuaskan hatinya. Dan manakala keingintahuan itu tak mendapatkan tempat yang lebih baik, Jean Louise memutuskan untuk pergi dengan penuh amarah.





Ulasan:

Dengan warna sampul buku yang merah menyala dan ketebalannya yang kurang dari 300-an halaman, seakan tak percaya buku ini ditulis oleh sosok pengarang pemenang Pulitzer, Harper Lee. Ada semacam rasa penasaran karena tiba-tiba saja pengarang ini  menerbitkan buku yang katanya merupakan sekuel dari To Kill a Mockingbird  dan hanya berupa novel yang 'tipis'.

Setelah membacanya terungkap bahwa novel ini ternyata tidak ada sangkut pautnya dengan novel To Kill a Mockingbird! Kalau dibilang tertipu sih tidak juga karena isinya menceritakan keluarga Jean Louise  dan asal muasal dari sosok keluarga Finch. Bisa dibilang ini merupakan pengenalan awal akan sepak terjang Atticus, sang ayah yang kontroversial itu.

Salah satu kesalahan dari novel ini ( kalau itu saya anggap kesalahan) adalah munculnya pengharapan yang terlalu besar terhadap isi ceritanya. Pembaca termasuk saya berharap lebih banyak dari yang seharusnya dituangkan. Atau paling tidak ada benang merah dengan To Kill a Mockingbird.

Pengarang lebih banyak menceritakan tentang masa-masa Jean Louise di saat remaja,  acara jalan-jalan dengan mengunjungi tempat-tempat yang membangkitkan kenangan semisal kedai es krim Theodore, menaiki tangki penampungan air tertinggi, ke toko kelontong Mr. Fred atau menemui para gadis dalam Acara Minum Kopi yang diadakan oleh bibinya.

Terkesan biasa. Natural.

Alur yang dipakai cenderung lamban dan puncak ceritanya ternyata tidak membuat saya melongo. Entah ini hanya sebuah cerita sambil lalu demi untuk menggodok kisah yang lebih besar sekelas To Kill a Mockingbird ataukah hanya sebagai selingan saja bagi Harper Lee, sulit dijabarkan.

Namun yang bisa saya tangkap dari kisah ini adalah bahwa Harper Lee baru sekadar coba-coba menulis novel berjudul Go Set a Watchman ini dan belum sempurna betul untuk dipublikasikan. Itulah alasannya mengapa novel ini pernah ditolak penerbit.

Dan mungkin Go Set a Watchman ini dijadikan cikal bakal atau semacam pemancing bagi pengarangnya untuk menyempurnakan sekali lagi kisahnya. Mengingat novel Go Set a Watchman ini ditulis dua tahun sebelum  To Kill a Mockingbird, bisa dipastikan ini semacam pemanasan atau penggodokan dan karena cenderung masih mentah maka tak ayal banyak yang terkecoh oleh cerita di dalamnya.

Saya tidak mengatakan novel ini buruk banget. Bagus banget juga tidak. 

Kisahnya memang terpusat hanya pada Jean Louise berikut hal yang remeh temeh saja. 

Tentu saja ada hal yang menarik yakni kebersahajaan kisah itu sendiri dengan kepolosan Jean Louise di masa remajanya. Ketakutannya akan hamil atau kekonyolannya pada saat menghadiri acara pesta dansa pertamanya bersama Henry.

"Dengar, Scout, dadamu akan membuatmu cemas sepanjang malam. Sebaiknya kau lepas saja".
Mengikuti arah telunjuk Mr. Tuffet, Jean Louise  menatap ke billboard. Dia membaca, DEMI NEGARA MEREK. Huruf-huruf terakhir tertutup oleh sepasang bulatan payudara palsu  yang bergoyang pelan tertiup angin.
  
Dari sini menurut hemat saya memang seharusnya novel ini tidak dipaksakan untuk rilis atau kalaupun terbit semestinya tak perlu memakai embel-embel 'memuncaki daftar Best Seller Amerika.'

Rasanya terlalu berlebihan.











You May Also Like

0 komentar