Kerumunan Terakhir

by - Selasa, Mei 31, 2016



 

Kerumunan Terakhir
Okky Madasari
Gramedia Pustaka Utama, 360 halaman
Gramedia Mal Pondok Indah


Sinopsis


Bercerita tentang seorang pemuda bernama Jayanegara yang merasa galau, gelisah, cemas akan beberapa hal yang terjadi di lingkungannya. Sebagai sulung dari empat bersaudara ia merasa terbebani terutama dengan berbagai persoalan keluarga. Ayahnya yang dosen hobi sekali berselingkuh. Ibunya yang pasrah terhadap kebinalan suaminya, adik-adik perempuannya yang nampak acuh dan tak peduli, seluruhnya telah membuatnya pusing dan berujung dalam pencarian jati diri yang aneh dan tak disangka-sangka.

Pencarian jati diri ini mengantarnya ke sebuah dunia maya yang sangat nikmat untuk dijelajahi. Kerumunan demi kerumunan baik untuk membual atau bercerita ala kadarnya makin memperkaya perasaannya.

Perjumpaannya dengan kekasihnya Maera, Kara, dan terakhir sang Ibunda yang lama menantinya di kota Cirebon menghasilkan makna yang lebih dalam dan keharuan.



 Ulasan


Ini adalah novel ketiga yang saya baca setelah Maryam dan Pasung Jiwa. Membaca novel yang ditulis oleh pengarang yang sama membangkitkan rasa pengharapan yang meluap-luap akan cerita yang dituturkan. Dua novel terdahulu sukses membuat saya merasa lagi-lagi ketagihan untuk membaca karya yang lainnya. 

Namun kali ini saya merasa agak kecewa dengan isi ceritanya terlebih dalam eksekusinya. Tokoh-tokohnya hanya seakan sekilas saja dan tak ada yang benar-benar bisa lekat di ingatan selain sosok bernama Jayanegara yang digambarkan sebagai anak muda putus kuliah dan pergi menyusul pacarnya meninggalkan keluarga yang porak poranda. Sebuah keluarga yang mirip-mirip sinetron tivi layaknya.

Hal yang bisa saya tangkap pada akhirnya adalah bahwa meskipun kita adalah sosok individu dalam melakukan hal tertentu, tetap saja kita merupakan bagian dari kolektivitas besar yakni masyarakat alias kerumunan. Entah kita akan berpartisipasi dalam kerumunan bagaimana yang akan membentuk kita, dan wujud kerumunan apa yang akan memberi kita pelajaran. 

Dalam novel ini Jayanegara adalah representasi dari anak muda yang kebingungan, terombang-ambing, dan mau enaknya saja alias pemalas. Saat Jaya menyusul Maera dan harus tinggal di kamar kos, seharusnya itu menjadi momen penting untuk mencari kerja melalui media internet. Namun hal itu tidak dilakukan. Alih-alih dipakai untuk mencari lowongan, Jaya malah hanya berselancar ke sana-kemari.

Potret anak muda masa kini yang cukup akrab di lingkungan kita.

Alurnya sebenarnya menarik. Seperti biasa, membumi dan sederhana dengan isu yang aktual di tengah masyarakat. Pengarang mengemasnya dengan apik di paruh awal cerita. Namun tidak demikian di paruh akhirnya. Ada bagian yang terasa "Kok, cuma begini ceritanya?" Bahkan menjurus ke bosan jadinya.

Selama penantian menuju akhir cerita lewat Jaya, pengarang berpanjang-panjang soal hakikat hidup berikut petuah-petuah yang menurut saya terlalu berlebihan (beberapa lembar ada yang saya lompati!). Belum lagi dialog-dialog Jaya dengan Kara yang menurut saya agak dipaksakan untuk masuk ke dalam cerita. Akan lebih menarik bila keluarga Jaya saja yang diperbesar konfliknya atau hubungannya dengan Maera. Menurut saya itu daya tariknya.
 
Konklusi yang biasa saja telah membuat saya lengkap merasakan kekecewaan dalam membaca novel ini. 

Sesuai dengan judul dan temanya, Kerumunan terakhir memang representasi dari media sosial yang menjadi tautan hidup sebagian besar orang di masa kini. Bagaimana seorang pemuda menyandarkan hidupnya di dunia maya guna mengusir sesaat sosok ayah yang dibencinya, atau kegalauan di hatinya dengan menggunakan topeng untuk mengungkap kegelisahan, itulah yang menjadi sorotan utama novel ini.

"Betapa kasihannya anak-anak muda zaman sekarang ini. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah dibuat haus perhatian. Semua ingin disukai, semua ingin punya banyak pengikut, semua ingin terkenal dan dikenal. Apa lagi yang menyedihkan selain menggantungkan kebahagiaan kita ditangan orang?" (Hal.172)

Ya, kadang pengarang tak selamanya memuaskan pembaca. Namun sebagai penggemarnya saya menaruh harapan besar akan kisah-kisah yang lebih mengejutkan lagi dari beliau.















You May Also Like

0 komentar