86

by - Senin, Agustus 29, 2016




86
Okky Madasari
Gramedia Pustaka Utama, 256 hal
Gramedia, Gandaria City



Sinopsis:


Wanita yang beruntung bekerja sebagai juru ketik di pengadilan itu bernama Arimbi. Kesehariannya akrab dengan hakim, pengacara, dan Bu Danti. Dalam sesi kehidupannya yang sederhana dan lurus-lurus saja, ia mencoba mendapatkan ketenangan dan tidak neko-neko meskipun sebenarnya arus yang lebih kencang mulai mendekatinya.

Adalah Bu Danti yang mulai memperkenalkan apa artinya sebuah sogokan. Dari mulai yang kecil-kecil akhirnya merambah ke kelas yang lebih menggiurkan. Arimbi begitu terlena oleh uang yang mudah diperolehnya. Apa saja bisa dibereskan asal ada uang. 86, istilahnya.


Maka ketika sebuah cobaan besar menerpanya kesadaran itu begitu berharga hingga mengorbankan perasaan dan harga diri di penjara.



Ulasan:



Setelah membaca karya Okky yang berjudul Kerumunan Terakhir, saya jadi sangat terobsesi untuk membaca kisah lainnya. Kebetulan saat jalan ke toko buku saya menemukan novel ini dan tak bisa berhenti membacanya.

Temanya tak lekang oleh waktu dan sangat berkorelasi dengan kondisi negara kita hingga sekarang ini. Masalah korupsi sepertinya akan selalu menjadi hal yang tak habis-habisnya dibicarakan. Surat kabar, televisi, media sosial gencar sekali menceritakan korupsi terutama yang menyerang institusi semacam pengadilan ini contohnya.

Apa yang hendak disasar oleh pengarangnya adalah betapa kita lemah oleh iming-iming segepok uang. Tak pandang bulu meskipun ia adalah orang yang bekerja di pengadilan. Seorang panitera yang bergaji pas-pasan diceritakan dengan apa adanya dalam menerima suap.

Alur yang lurus dengan pilihan tokoh protagonis wanita adalah tepat. Wanita selalu menjadi bahan yang selalu panjang untuk diuraikan sekaligus silau oleh harta. 

Saya hanya ingin berkomentar bahwa pengarang fasih sekali dalam menggambarkan kehidupan seorang panitera baik mulai dari kontraktor yang dihadiahi AC alias masih miskin, menikah, menjadi kaya lalu berakhir di penjara dengan segala pahit getirnya untuk kemudian bangkit kembali.

Novel ini tak menggurui tapi dengan cerdas membiarkan pikiran kita melalang buana ke balik setiap larik hidup yang dijalani Arimbi. Bebas dari penjara, melahirkan anak, lalu sang suami menjadi pengedar sabu demi memperoleh uang yang lebih banyak.

"Hari-hari mereka tak pernah sama lagi sejak itu...setiap hari mereka selalu berbicara tentang hari-hari yang masih jauh di depan...tentang anak, kelahiran, kelucuan, kepintaran..." hal 225

Seperti biasa, pengarang akan lebih mengedepankan suara perempuan. Tak lupa ada sedikit bumbu seks yang lagi-lagi bukan suatu hal yang ditutupi namun justru realistis dan apa adanya di setiap kehidupan bahkan di penjara sekalipun.

Saya suka dengan alur cerita yang membumi, dekat dengan unsur kehidupan masyarakat pada umumnya terlebih untuk yang hidup di kota besar macam Jakarta.

Cerita yang biasa namun mengandung unsur moral yang tinggi. Dan enak dibaca.





You May Also Like

0 komentar