The Naked Traveler 7

by - Friday, September 16, 2016

 


The Naked Traveler 7 (Naked Traveler #7)
Trinity
B-First, 286 hal
Gramedia, Gandaria City



Sinopsis:


Petualangan Trinity yang dituangkan dalam The Naked Traveler kali ini sangat istimewa karena ada tambahan  cerita lain yang datang dari pengalaman berhaji rekannya, Yasmin. Meskipun hanya beberapa lembar saja cerita Yasmin mampu menarik hati pembaca akan situasi dan kondisi orang berhaji serta bagaimana perilaku para jamaahnya.
 
Lalu cerita melompat dari mulai Kashmir, Kanada yang dingin bersalju, ikut dalam penelitian di Pulau Koon, hingga digoda oleh cowok-cowok Tanzania yang rupanya tertarik dengan cewek gemuk ketimbang yang kurus.

Banyak warna-warni kisah yang ditampilkan. Ada yang lucu, menyenangkan, mengesalkan bahkan cerita sedih saat kehilangan ibunda tercinta cukup membuat pembaca ikut 'tergesa-gesa' saat penulis mencari transportasi demi ingin menyaksikan jenazah sang bunda untuk yang terakhir kali. 




Ulasan:


Cerita petualangan memang membangkitkan keinginan untuk ikut mengunjungi suatu tempat. Kisah-kisah yang ditawarkan memang menarik terlebih bila ditunjang oleh kesan positif dari si pencerita. Namun khusus di kisah-kisah Trinity, apa yang ditampilkan adalah cerita yang apa adanya. Mau buruk, bagus, biasa,  terserah pembaca dalam menilainya. 

Sejujurnya saya justru suka dengan sisi lain dari glamournya mengunjungi suatu tempat. Entah dalam hal penduduk, kebiasaan hidup, bahasa, transportasi umum atau kondisi lainnya yang beda banget dengan kehidupan kita pada umumnya serta unik.

Membicarakan hal yang buruk memang seakan tabu dan mengundang rasa malu. Padahal di buku ini penulis menuangkan kisah yang malu-maluin. 

Coba saja tengok perilaku mereka yang naik haji dan baru pertama kali naik pesawat. Atau saat berada di hotel tempat menginap seperti yang dituangkan oleh Yasmin. 

Lah, orang kita memang begitu 'kan? Rada norak, tapi bukan ciri orang Indonesia kalau tidak seperti itu.

Justru itulah daya tariknya, betul tidak?

Karena kalau kita disuguhi cerita tentang suatu tempat mulai dengan, "...naik pesawat Egypt Air, check-in di hotel anu, hari pertama ke Luxor..." maka dijamin cerita ini hanya mengundang decak kagum untuk sesaat. Sesudahnya akan hilang. Lain bila ceritanya mengunjungi Mesir dan menginap di penginapan atau hostel yang sekamar dengan pelancong lain, lalu tersesat saat mengunjungi kuil Luxor lengkap dengan cerita sulitnya mencapai wilayah di sana misalnya. Tentu akan menarik dan mengena di benak karena pasti kita akan merasa bahwa perjalanan ternyata itu tak semudah kalau kita naik angkot.

Buku Trinity renyah dan segar semata-mata karena apa yang diceritakan adalah sisi lain dari  suatu kunjungan. Tak ada yang glamor, atau kehidupan mewah. Satu-satunya kondisi mewah yang saya tangkap adalah saat mengunjungi Tanzania dengan supir dan koki pribadi.

Kunjungan tak melulu ke luar negeri, yang dalam negeri pun ikut disorot. Apalagi ada pantai-pantai cantik di Lampung serta kondisi bandara Lombok yang 'merepotkan'. Ini mengingatkan kita bahwa membicarakan kondisi pariwisata yang buruk di Indonesia itu perlu demi meningkatkan kualitas pariwisata itu sendiri.

Secara keseluruhan, bukunya tetap menarik dan jenaka. Santai dalam penyajian, serius dalam isi. Serta cukup inspiratif.

Rasanya saya masih menanti yang ke-8 dan seterusnya.




You May Also Like

0 komentar