Mendatangi IIBF 2016 Jakarta

by - Monday, October 03, 2016


 


Acara rutin tahunan yang selalu diselenggarakan oleh pihak IKAPI ini selalu dan masih menarik minat pecinta buku apalagi diadakannya di ruangan yang sejuk dan luas seperti JCC Senayan. Wah makin mantap melihatnya. Namun sayang, ada beberapa stand penerbit yang kali ini absen berpameran. Mungkin berkaitan dengan sewa tempat atau hal lain.

Saya sebenarnya tak terlalu antusias dengan pencarian buku di tahun ini karena, belajar dari pengalaman tahun lalu pasti biasanya buku yang dijual adalah buku atau novel lama atau istilahnya cuci gudang. Dan memang saat saya datang ke sana, buku atau novel yang dipajang adalah terbitan lama. Untuk itu tujuan saya kali ini hanyalah mencari novel lama yang memang belum pernah saya beli dan baca.


 

Mendatangi stand Kompas-Gramedia sudah pasti kecewa karena buku yang dijual memang buku lama! Maksudnya buku yang booming setahun lalu kini bisa dibeli dengan harga yang diberi diskon murah. Misalnya Architecture Love atau Hujan Bulan Juni. Hal yang lucu adalah saat saya tertarik ingin membeli novel karya Harumi Murakami yang berjudul 1Q84 ternyata yang dijual hanya bagian yang kedua. Bagian pertama apalagi yang ketiga tidak dijual. Ealaah...serasa timpang dibuatnya.

Gimana mau membaca sampai tuntas kalau yang dijual hanya 'sepotong' kisah saja? seharusnya kalau ingin menjual novel yang bersambung atau semacam trilogi (buku ke-1, ke-2, ke-3) pihak penerbit menyiapkannya lengkap dong. Masa konsumen dipaksa membeli satu bagian saja?

Acungan jempol saya berikan pada penerbit Mizan yang sangat serius membuat tempat pamerannya menarik dengan atap sirap disamping juga koleksi novel dan bukunya yang lengkap. Di sini saya akhirnya bisa memperoleh buku yang dicari yakni novel karya Dee Lestari,  Intelegensi Embun Pagi.


suasana pameran buku

 Oh ya, tamu kehormatan tahun ini adalah Malaysia namun stand luar yang menarik menurut saya adalah Korea karena tempatnya menyediakan arena mewarnai untuk adik-adik balita dan tata letak serta penempatan buku-bukunya lumayan enak dipandang mata. Stand China juga memikat. Selain itu kehadiran KPK yang royal membagi-bagikan stiker, tas dan buku tentang bahayanya korupsi cukup mengundang ketertarikan pengunjung untuk datang menyerbu standnya.


 

 


Secara keseluruhan pameran ini bagus. Acara-acara yang dimunculkan di panggung masih menarik. Namun dari sisi kualitas buku serta peserta pamerannya rasanya kurang greget. Saya lihat penerbit Periplus yang selalu diserbu pecinta buku impor karena diskonnya yang menggiurkan itu pun absen di pameran IIBF ini. Patut disayangkan...




You May Also Like

0 komentar