The Architecture of Love

by - Friday, December 02, 2016



The Architecture of Love
Ika Natassa
Gramedia Pustaka Utama, 304 hal
Pameran buku IKAPI, JCC Senayan


Sinopsis:



Raia adalah seorang penulis novel yang laris. Pada suatu ketika ia mengalami hidup yang stagnan dan membuatnya perlu pergi ke kota New York untuk memancing ide bagi novel terbarunya. Tak disangka di kota ini ia bertemu dengan pemuda yang membuatnya merasakantinggal di New York menjadi begitu ceria.

Pertemuannya dengan River mengenalkan serta membuka mata tentang apa makna dibalik gedung-gedung tinggi yang didesain dan berdiri kokoh di setiap sudut kota yang dijuluki Big Apple ini. Hari-hari Raia akhirnya senantiasa indah dan bersemangat.

Keduanya merasa cocok satu sama lain hingga tanpa sadar bahwa masing-masing memiliki rahasia yang tak ingin terungkap dan berpotensi menjadi sandungan untuk melangkah lebih jauh bagi mereka.





Ulasan:



Pertemuan dua insan yang berbeda jenis selalu tak bosan untuk diulas. Apalagi bila keduanya digambarkan sebagai orang-orang yang mandiri, sukses dalam karier, cantik dan tampan serta mampu tinggal di luar negeri yang menandakan mereka datang dari kalangan berpunya. Seorang wanita dan pria serasa unik sekali dijodohkan dalam suasana yang muram, bleak, dengan latar belakang yang sendu dan penuh aroma ketidakberdayaan, dan putus asa akibat masa lalu masing-masing.

Pertama dibaca sih, pasti pembaca bisa menebak akhir kisahnya, apalagi bagi fans Ika Natassa yang rata-rata masih berusia muda. Kekaguman akan sosok lelaki dan perempuan yang digambarkan tampan dan cantik mampu memenuhi angan-angan para pembacanya seperti dongeng pengantar tidur Cinderella yang berakhir bahagia.

Padahal, ya ini semacam cerpen fiksi yang sedikit diperpanjang, gitu saja. Namun ada hal yang menjadi daya pikat yakni alur cerita dan konten yang bermakna dan berkesan. Sesuai judul dan ilustrasi di sampul bukunya, maka pengarang merasa perlu menyelipkan nama-nama gedung tinggi dengan arsitekturnya yang menawan sebagai suatu pijakan tema.

Saya tak menampik kalau novel ini menarik karena mengisahkan dua manusia lain jenis berikut kota New Yorknya yang romantis, yang sudah pasti akan membuat fans pengarang tambah termehek-mehek begitu membacanya. Namun dalam alurnya terasa ada hal yang dilebih-lebihkan.

Mengapa harus menjejalkan nama-nama gedung dan filosofinya kalau sebenarnya inti cerita adalah sebatas cinta yang tertahan? Pengarang seakan ingin menegaskan bahwa arsitektur adalah background penting sampai-sampai sampul novelnya pun harus bersuasana banyak gedung. Diarsir pula. Abu-abu gitu warnanya.

Namun selain unsur plot dan latar, karakter-karakternya pun juga membuat saya merasa novel ini datar, kurang tumpah emosinya. Nyaris mirip dengan novel sebelumnya. Pembawaan Raia mengingatkan saya dengan tokoh lain di novel Ika yang lain. Lagi-lagi penggunaan Bahasa Inggris akan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan juga di novel ini. Taburan kata-katanya cukup bikin mumet. Namun dibalik hal-hal yang nyaris biasa ini, ada satu dua bagian di cerita ini yang menurut saya kuat dalam riset yakni saat menggambarkan betapa River sangat tergila-gila dengan brondong jagung atau pada saat menceritakan detail gedung yang sedang dibicarakan.

Alur antara pertemuan, kilas balik, perpisahan, perenungan, lalu pertemuan kembali  telah menjadi suatu kombinasi yang hanya seorang pengarang berpengalaman saja yang mampu meramu dengan pas. Saya setuju itu.

Ika mampu mengantar sebuah kisah sederhana menjadi lebih private, lebih alami di bagian ini. Kecuali, ada di bagian eksekusi akhir sekaligus penutup cerita yang menurut saya agak gampangan begitu 😬.



You May Also Like

0 komentar