Athirah

by - Jumat, Januari 20, 2017



Athirah
Alberthiene Endah
Noura Books, 400 hal
Gramedia, Mal Panakukang, Makassar


Sinopsis


Kisah tentang perjuangan seorang ibu dan istri yang tersakiti oleh poligami namun bangkit kembali dengan segala daya yang dimilikinya. Emma, begitu sang bunda disapa adalah perempuan sederhana yang memiliki energi tak terhingga untuk  mengabdi dan melayani keluarga dengan sebaik-baiknya.

Di mata sang putra -Jusuf-, Emma tak sekadar sebagai ibu yang melahirkan adik-adiknya setiap tahunnya, namun juga memiliki rona kekuatan yang sangat mengagumkan.

Tak perlu berlama-lama untuk meratapi nasibnya  yang terpaksa dimadu oleh suaminya, Emma akhirnya muncul menjadi sosok yang lebih mandiri dan sigap dalam menangkap peluang bisnis di saat itu, yakni sebagai pengusaha sarung khas Makassar.




Tak salah Emma berbisnis sarung karena ternyata selain mampu mengangkat pamor sarung tradisional ke kancah yang lebih tinggi, ia juga membuktikan  bahwa dirinya mampu mendatangkan keuntungan tanpa campur tangan apalagi bantuan dari orang lain, dalam hal ini suaminya.

Bahkan yang lebih membuatnya berhasil adalah Emma mampu membayarkan hutang-hutang suami dengan batangan emas yang beliau simpan selama ini.


Ulasan


Saya membaca novel ini beberapa bulan sesudah menonton filmnya. Awalnya saya ingin  menonton hanya karena faktor sutradara dan produsernya. Dan tanpa ekspektasi berlebihan, rupanya saya terpesona oleh adegan...suguhan makanannya!

Nah, membaca novel ini ternyata menambah rasa terpesona saya akan berbagai hal yang terlewatkan. Novel selalu menampilkan hal yang sifatnya kecil-kecil dan disampaikan secara detail. Dan susunan kalimatnya menjadi begitu membius seraya mengingat kembali apa-apa yang pernah muncul di film.

Apabila dalam film kita hanya mengandalkan penglihatan dan pendengaran, maka dalam novel seluruh indera menjadi begitu giat membayangkan dan mereka-reka kisahnya.

Disuguhkan lewat penuturan sang putra sulung, cerita Athirah mengalir tanpa beban dan sanggup membuat pembaca memahami senang sedihnya, kuat lemahnya, naik turunnya pergolakan hidup yang harus dijalani keluarga yang sempat timpang ini.

Dalam membaca sebuah biografi, kadang ada yang disampaikan dalam keadaan datar-datar saja. Namun ada yang dikisahkan dengan begitu menghanyutkan dan hidup seakan ia memang hadir begitu dekat dan kita ikut mengalaminya. 

Di sinilah peran seorang penulis biografi menjadi sangat penting dan menentukan. Terlebih bila mampu menerjemahkan pikiran dan tindakan sang pelaku yang di-biografikan.

Saya sangat senang dengan gaya penceritaan Athirah. Menurut saya penulis berhasil memberikan gambaran dan latar yang bisa membawa pembacanya dari masa-masa lampau yang penuh pemberontakan hingga ke suasana damai pasca pemberontakan PKI.

Akhir kata, pengalaman membaca biografi sosok yang bukan siapa-siapa, bukan tokoh atau pejabat, namun perannya tak kalah dengan tokoh yang paling terkenal sekalipun lebih membuat saya dari sekadar terpesona.










 

You May Also Like

0 komentar