Kesetiaan Mr. X (Yôgisha X No Kenshin)

by - Selasa, Januari 03, 2017




Kesetiaan Mr. X
(Yôgisha X No Kenshin)
Keigo Higashino
Alih bahasa, Faira Ammadea
Gramedia Pustaka Utama, 320 hal 
Gandaria City, Jakarta


Sinopsis:


Toko kecil Benten-tei yang menjual bento pagi itu kedatangan seorang pembeli bernama Ishigami.  Ia kerap membeli bento dengan menu spesial. Sang pelayan Yasuko Hanaoka selalu ceria melayani setiap pembelinya.

Namun keadaan  menjadi runyam saat sorenya, Togashi  mantan suami Yasuko datang dan ingin bertemu. Meskipun Yasuko tak suka, tetapi ia akhirnya bersedia menjumpai lelaki ini di apartemennya sendiri. Yasuko sadar ia tak akan pernah bisa terbebas dari kejaran Togashi. Sang mantan selalu mengganggu kehidupan pribadinya padahal Yasuko tengah mengejar kehidupan baru bersama pria lain, Kudo. Selain ingin bertemu dirinya, rupanya Togashi juga selalu meminta uang.

Lalu terjadilah peristiwa itu. 

Togashi menerobos masuk ke kamar putrinya, Misato. Vas perunggu melayang menghantam kepala lelaki itu. Terjadilah pergumulan hingga akhirnya Togashi tewas di tangan ibu dan anak. Ishigami yang mendengar keributan akhirnya turun tangan dan merepotkan diri untuk menolong Yasuko.

Detektif Kusanagi dan rekannya Kishitani berupaya keras mencari tahu siapa sebenarnya pembunuh Togashi, karena menilik dari rangkaian jejak yang ditinggalkan dan waktu seluruhnya mengarah ke Yasuko. Padahal wanita ini memiliki alibi yang tak terbantahkan. 


Dibantu Manabu Yukawa yang seorang profesor Fisika, ketiganya mencari cara agar bukti dan jejak yang ditinggalkan relevan serta mengarah ke pelaku sekaligus meringkus tersangkanya. Tak ada yang pernah menyangka sosok ini begitu genius dalam mempersiapkan rincian alibi dan rupanya ia adalah teman Yukawa sendiri.  
 
Ulasan:


Beberapa kali bila membaca novel kriminal khas karya pengarang Jepang, selalu ada rasa puas dan terperangah oleh jalinan alur ceritanya. Apa pun tema yang diangkat baik sederhana  maupun yang tingkat rumit sekalipun selalu mengundang decak kagum dalam penyelesaiannya.

Membaca novel ini, saya merasa gaya kriminal Asia tak kalah dengan milik Eropa atau pun Amerika. Ada prolog, alur, latar, dan penyelesaian yang elegan dan tak disangka-sangka. Bahkan lebih menggedor perasaan.

Dari awal kita sudah disodori bahwa tokoh Mr. X adalah sosok yang mengagumi dan bersedia melakukan apa saja demi cintanya pada seorang wanita.

Cinta mampu membuat manusia merasa harus mengorbankan diri meskipun jelas itu melanggar hukum. Cinta pula yang menjadi sangat berbahaya manakala kesetiaan buta itu dinodai oleh perasaan ingin memiliki yang membabi buta. 

Memang klise. Tapi kenyataannya selalu demikian.

Dalam menelisik suatu peristiwa pembunuhan ternyata tak hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan relasi semata namun juga intuisi yang masing-masing memiliki jalannya.

 Highlight dari kisah ini adalah adu kecerdasan antara ahli matematika dengan ahli fisika.

Karakter-karakter yang statis, pasrah, kalem, apa adanya, ditingkah oleh karakter lain yang genius, rapi dan detail dalam menutupi kejahatan merupakan pesona dan daya tarik tersendiri dari novel ini. Bisa dikatakan karakter yang sangat menarik di sepanjang cerita ini adalah Ishigami. Pribadi yang misterius, menyukai matematika dan cerdas dalam meracik suatu alibi kejahatan. Patut kita contoh rancangannya (lho?)

Bagi pembaca semacam saya yang awam ini, menemukan suatu trik apalagi di dunia kejahatan sangatlah menarik untuk diketahui dan terdengar aneh, janggal, dan misterius. Bukan soal kejahatannya tetapi kejahatan itu sendiri mengandung misteri yang tak semua orang bisa dialami dan dipahami. Ada metode atau langkah-langkah yang bagi orang waras terkesan tak masuk akal.

Pengarangnya mungkin telah mengetahui jauh bahkan mendalami bagaimana suatu kejahatan dibuatkan dalam bentuk narasi yang rapi. Semisal bagaimana Ishigami merancang suatu alibi yang diawali dengan pencurian sepeda di stasiun Shinozaki. Lalu diikuti oleh rentetan peristiwa yang diperkirakan para detektif dan polisi pun akan mengikuti alur alibi tersebut. Sang pelaku sudah mengira demikian.

Soal siapa yang nantinya akan jadi tersangka itu anggap saja merupakan hasil pemecahan pikiran yang brilian dari sang fisikawan.

Menarik. Mengesankan. Permainan kecerdasan yang ciamik. Saya merasa novel ini memiliki sambutan yang lebih bagus lagi bila difilmkan.










You May Also Like

0 komentar