Boy Toy

by - Jumat, Juli 14, 2017



Boy Toy
AliaZalea
Gramedia Pustaka Utama, 384 halaman
Gramedia, Mal Malioboro Jogja

Sinopsis:

Tiba-tiba saja Lea bertabrakan dengan cowok ini setelah lari terbirit-birit untuk menghindari penjahat yang mengejarnya di lobi hotel. Dan celakanya cowok yang ia tabrak ini malah terus mengikutinya hingga ke depan pintu kamar hotel.

Tak butuh waktu lama akhirnya Lea tahu ia telah dikuntit oleh salah satu personel Boy Band Pentagon paling terkenal dan sedang manggung di tempat berlibur yang indah ini, Bali. Dan entah mimpi apa, Lea sang dosen yang bergelar Ph.D jatuh cinta dengan cowok brondong yang memiliki suara paling seksi itu, Taran.

Meski ada rasa untuk menolak berpacaran dengan cowok yang terpaut 8 tahun, namun perasaan hati tak bisa dipungkiri, Lea akhirnya mau mengakui setelah Reiner sang calon suami yang kabur di hari pernikahannya itu mengungkap fakta diri yang sebenarnya.

Keresahan akibat dikhianati Reiner dan ditinggal mati sang mama tersayang cukup membuat perasaan Lea maju mundur untuk menerima Taran yang maju terus mengejar wanita ini.

Ulasan:

Saat dirilis pertama kali, sambutannya luar biasa. Dan sudah pasti ini menimbulkan rasa penasaran bagi para penggemar berat novel AliaZalea. Bahkan novel yang saya beli ini sudah menginjak cetakan yang kedua. Sedahsyat apakah novel ini? Kita lihat.

Dalam novel terbarunya ini pengarang sepertinya sekali lagi ingin mengangkat tokoh-tokoh yang berasal dari dunia musik. Berbeda dengan The Devil in Black Jeans, di dalam novel ini pertama kalinya diungkapkan isu tentang ketimpangan usia dua hati yang saling mencinta.

Jika di novel terdahulu pengarang selalu menggambarkan rentang usia si wanita yang lebih muda dari si prianya, maka kali ini diangkatlah konflik baru kebalikan dari yang di atas.

Bagaimana bila wanitanya yang lebih tua? Dan dengan perbedaan usia yang besar itu mampukah pasangan ini menyatukan persepsi dan ambisi hingga pada akhirnya muncul kesepakatan baru yang lebih kompromistis? Di sinilah riak-riak kehidupan pasangan antara dosen dan personil boyband itu diangkat dengan lebih santai dan jenaka tentunya.

Bukan suatu hal yang aneh bila muncul percikan-percikan semacam cemburu, perbedaan zaman hingga masalah istilah yang ternyata berbeda ditanggapi. Sebaliknya perbedaan itu nyatanya justru menghasilkan kelucuan dan kesegaran tersendiri.

Novel ini terlalu fokus hanya pada tokoh wanitanya dan sedikit tentang kesan personil Pentagonnya. Sedikit pertanyaan adalah mengapa pengarang ini selalu mengangkat tentang dunia musik ya?

Sebagai sebuah novel metropop, isi ceritanya terbilang ringan dan menghibur. Saya sendiri bisa tertawa geli membaca celotehan para personil atau candaan yang saru bin jorok. Menurut saya jarang pengarang cewek mampu mengangkat dialog yang sebegitu lancarnya dengan celetukan yang khas cowok zaman sekarang.

Gaya penulisan dialog ala anak muda Jakarta yang ber-lo gue rupanya bisa mendekatkan aura anak muda masa kini yang selalu spontan dan energik ke dalam pikiran pembacanya. Ini salah satu kelebihan yang dipunyai AliaZalea yang mampu mengkomunikasikan suasana dan tindakan para tokoh dengan narasi yang hebatnya bisa cepat ditangkap oleh para pembaca mudanya.

Sebagai sebuah novel yang menyoroti kehidupan personel boyband Pentagon, saya menangkap ini akan menjadi awal seri Pentagon selanjutnya. Dan agar kisah yang ditampilkan bisa lebih dalam dan tak hanya sekadar masalah love-hate relationship namun lebih ke sisi psikologisnya, mungkin pengarang bisa menjadikannya semacam proyek khusus.

Karena dalam Boy Toy, masih terselip kisah-kisah yang pasti akan seru bila digali dan diberi panggung tersendiri. Rasanya banyak yang perlu diekspos dari setiap personilnya semisal Nico dengan tetangga barunya yang misterius itu, hubungan Adam dan Zi, atau si ganteng Pierre dengan para fans yang fanatik. Itu semua pasti ini akan menjadi tabungan cerita pengarangnya.









You May Also Like

0 komentar