Sophismata, Tak Ada Hitam atau Putih

by - Sabtu, Oktober 14, 2017



Sophismata
Alanda Kariza
Gramedia Pustaka Utama, 272 hal
Pameran Buku, IIBF- Senayan, 2017


Sinopsis

Selama 3 tahun bekerja sebagai staf Administrasi  di gedung DPR  Senayan, Sigi acap kali merasa bahwa bekerja di tengah mereka yang menghuni gedung itu telah membuatnya semakin muak terhadap politik. Meskipun begitu ia memilih bertahan agar Johar, sang anggota DPR yang juga mantan aktivis 1998 sekaligus atasannya dapat memenuhi janjinya untuk mengangkatnya sebagai Tenaga Ahli.

Selama bekerja Sigi harus selalu menenggang perasaan yang kerap diombang-ambingkan oleh Johar. Apalagi saat  kasus wanita yang mengaku-ngaku dihamili oleh atasannya merebak dan menjadi berita sensasional di sejumlah sosial media. Sigi dipaksa harus pasang badan dan menjaga agar citra Johar yang anggota DPR senantiasa bersih di mata konstituennya.

Dibantu oleh Timur sang kekasih, Sigi akhirnya mampu menemukan jati diri sekaligus menuntaskan persoalan  yang membelitnya selama ini. Pilihannya hanya satu. Tetap mengabdi pada Johar dan diangkat menjadi Tenaga Ahli dengan imbalan kasus wanita yang mempermalukan Johar ataukah menerima ajakan sebagai staf unit kepresidenan yang dipimpin oleh Pak Cipta.


Ulasan

Pada awal-awal membacanya saya mengira novel ini sama dengan gaya Metropop yang sudah-sudah. Ide dasarnya yang selalu menekankan pada tokoh protagonis yaitu perempuan mandiri, hidup nge-kost di Jakarta, dan bergelut dengan pekerjaan atau karir yang sedang dijalani merupakan ciri-ciri alur cerita dari novel Metropop yang cenderung dibawa santai saat membacanya.

Namun saat membaca Sophismata, semakin membacanya semakin tidak terhenti. Sophismata yang sekilas hanya bercerita tentang keluh kesah wanita yang tak juga diangkat sebagai Tenaga Ahli ini ternyata mampu memberikan semacam edukasi dan seluk beluk birokrasi di dalam gedung wakil rakyat.



Apa saja yang tak kita ketahui tentang alur birokrasi dan juga bagaimana kegiatan sehari-hari seorang wakil rakyat itu semua dijabarkan dalam bingkai kisah yang apa adanya. Dibalut dalam romansa yang indah antara seorang staf administrasi dengan calon politisi dari Partai Indonesia Setara, cerita bergulir dengan suasana dan latar yang kekinian khas anak zaman Millenial serta juga sarat akan unsur politik itu sendiri.

Politik memang tidak dihadapi secara hitam atau putih belaka, namun harus disikapi dengan bijak karena sejujurnya tak ada yang seluruhnya hitam atau putih, kita tak bisa mengambilnya begitu saja. Harus ada area di mana kita akan berakrobat dan berkompromi dalam suatu masalah agar tercipta win-win solution.

Daya tarik dari isi novel ini selain judul dan tema adalah dialog politik yang berisi urutan kerja atau hal remeh yang terjadi di dalam gedung wakil rakyat seperti jadwal rapat Komisi, jadwal menemui konstituen, rapat di antara masa reses yang terjadi entah antar atasan dan bawahan, atau antara Sigi dan Timur.  Semuanya terasa baru, jujur, dan bernas.  Tak ada yang bersifat  sia-sia dalam setiap pembicaraan dan selalu ada hal yang membuka wawasan.

Tidak berat tapi juga tidak ringan, dengan kelincahannya penulis bisa menempatkan ruang-ruang pribadi dan umum secara berganti-ganti sehingga alur cerita tidak terasa membosankan. Sebagian berisi dialog tentang politik dan partai, sebagian diisi dengan dialog remeh ala pasangan yang jatuh cinta. Sederhana saja.
 
Untuk Sophismata novel ini berhasil memenangkan perasaan hati saya yang sebenarnya ikut terseret dalam konflik antara Sigi dengan Johar. Dan untuk lebih menyenangkan lagi akhirnya Sigi memilih untuk mendengarkan kata hatinya yang sesuai juga dengan pihan hati saya.



You May Also Like

0 komentar