The Eleventh Hour (Poppy McGuire Mysteries#1)

by - Monday, October 02, 2017



The Eleventh Hour (Poppy McGuire Mysteries#1)
Anina Collins
Eight Feathers Press, USA, 238 pages
Kobo Edition
Hanya dibaca di Commuter Line selama sebulan


Sinopsis

 Suara sirene meraung-raung memecah keheningan dan nyenyaknya tidur Poppy. Kota kecil Sunset Ridge diguncang kehebohan, rupanya ada berita pembunuhan. Geneva Woodward ditemukan tewas tercekik di rumahnya. Sirine dari mobil polisi Dereklah yang berbunyi nyaring di pagi hari itu. Naluri menyelidiki Poppy sebagai wartawati investigasi The Bottom Line seketika mencuat.

Semua warga dengan cepat mengerumuni rumah Geneva. Pembunuhan ini sendiri agak janggal karena harta korban yang diambil hanyalah cincin-cincin yang melingkari jemarinya. Harta benda lain tidak diambil sama sekali.

Dalam penyelidikan Poppy mendapat bantuan temannya yang menjadi polisi bernama Derek Hampton dan kakaknya, Dominick.  Dan untuk lebih leluasa lagi, Poppy akhirnya berpasangan dengan Alex Montero, detektif yang acuh dan nampaknya tak ramah ini. Akhirnya, pembunuhan ini terungkap juga. Dan Poppy perlu mengerahkan sisa keberaniannya menghadapi si pembunuh yang ternyata adalah orang yang tak pernah disangkanya.




Ulasan

Sebagaimana dalam cerita misteri pembunuhan, baik di novel atau layar lebar, seluruh komponen akan bermuara pada rasa penasaran dan adegan menegangkan. Apabila ditambah dengan unsur romantis, maka ramuan cerita menjadi lebih seru lagi. Formula sebuah novel seri misteri adalah selalu tak jauh-jauh dari penyelidikan, korban, tokoh yang tak terduga (bersalah atau bertanggung jawab) dan sosok penegak hukum.

Satu lagi, di mana-mana pasti akan disodori berbagai macam tokoh yang bisa jadi tersangka bisa juga bukan sama sekali. Demikian pula dalam novel ini. Ada beberapa tokoh yang potensial sekali untuk dicurigai namun, akhirnya si tokoh yang paling sedikit berperanlah yang menjadi pelakunya.

Mungkin dari isi cerita, tak ada istimewanya sama sekali karena tidak adanya letupan, Namun yang bikin tertarik untuk terus menuntaskan cerita ini adalah karena tokoh Poppy adalah sosok perempuan yang logis dan tidak menggantungkan naluri wanita yang konon bisa melemahkan akal sehat.

Poppy dilukiskan sebagai tokoh wartawati yang berani, penuh ide untuk menguak tabir misteri serta  rajin menggali informasi dari mana-mana. Alur ceritanya memang biasa tapi setiap kalimat yang disampaikan sangat menggugah dan memotivasi kaum perempuan.

Alurnya sendiri tak terlalu luar biasa alias linier tanpa flashback tapi juga tidak dianggap sepele, karena penulisnya memang senang menulis hal-hal yang bersifat misteri, maka ini mungkin seperti serial detektif tapi dengan tokoh wanita yang justru bukan berprofesi sebagai detektif. Di sinilah menariknya, karena ia seakan mewakili pembaca yang ingin tahu tapi juga harus waspada akan kemungkinan menjadi korban terlebih korban pembunuhan.

Saat membacanya saya betul-betul menikmatinya karena kalimat-kalimatnya tidak membosankan. Saat membaca, kadang saya memperhatikan juga gaya bahasa penulis luar. Dan untuk Anina Collins, menurut saya kalimat-kalimatnya terstruktur, runtut, penuh deskriptif, kosa katanya banyak dan apik.

Ini pertama kalinya saya membaca novel bukan melalui buku namun e-book. Ya, gelombang teknologi dan kesibukan akhirnya menggoda saya untuk membacanya melalui e-book. Saya penasaran mana yang lebih enak dibaca apakah melalui buku atau e-book? Ternyata keduanya sama-sama mengasyikkan. Kalau e-book ini saya bisa membacanya dalam perjalanan di kereta saat hendak pulang kerja. Dan ceritanya untunglah membantu sekali mengurangi kebosanan di jalan.

Namun demikian kalau diminta memilih, saya akan tetap memilih kertas alias buku karena rasa dan aromanya sungguh tak tergantikan dengan e-book,

Oke, kembali ke kisah.  Setelah membacanya sekitar 3 swipe ( di e-book, halaman demi halaman dibuka dengan men-swipe ) saya merasa klik dengan jalan ceritanya salah satunya karena memang tokohnya tidak genit, centil ala-ala millenial dan pandai dalam menganalisis. Sang pengarang pun piawai dalam mengolah benang merah dan ketegangan. Saat ketegangan mereda ia dipertemukan dengan detektif yang sesungguhnya, bernama Alex. Romantisme ala anak muda juga ditonjolkan di sini.

“So what are you doing here, Alexander?” 
The smile slowly faded, and after taking a drink from his cup, he lowered his head slightly and looked me directly in the eyes. “I came to apologize for what happened last night.” This guy had the most delicious brown eyes I’d ever seen. Brown like expensive milk chocolate, and at that moment, I felt myself getting lost in those eyes.  Snap out of it, Poppy! This isn’t some high school date. If he’s willing to make peace, maybe you can get his help on the case, so get your head out of the clouds and say something!  
Chapter 7 p.9
              
Saat ketegangan mulai naik yang ditandai dengan pembunuhan lagi, maka tak hanya penyelidikan semakin intens namun kedekatan di antara keduanya juga menambah keakraban. Mungkin ini sekadar intermezzo namun rupanya seri ini adalah awal dari petualangan Poppy  bersama Alex yang dituangkan dalam enam novel berikutnya yang menanti untuk dibaca. The Eleventh Hour adalah petualangan pertama.

Demikianlah, cerita yang terkesan biasa-biasa saja tapi tidak dalam eksekusinya. Selain tak disangka-sangka, akhir cerita ini cukup membuat saya terpana membacanya dalam perjalanan di kereta, karena seru sekali.

You May Also Like

0 komentar