A Perfect Mess (Hope Parish #1)

by - Rabu, Desember 27, 2017



A Perfect Mess
Zoe Dawson
Blue Moon Creative, 367 hal
Kobo Edition
Hanya dibaca di Commuter Line

Sinopsis

Aubree Walker tiba-tiba menerima kabar bahwa Bibi Lottie dirawat di rumah sakit dan ia terpaksa harus pulang ke kota Hope Parish yang lama ingin  ia lupakan. Bukan sesuatu yang mudah mendapati bahwa semua kenangan termasuk yang buruk akhirnya muncul kembali ke dalam benak Aubree sesaat ia tiba kembali di sana.

Sekembalinya ia di kampung halaman, segera saja Aubree bertemu dengan teman-teman wanitanya termasuk cowok yang diam-diam ia taksir sejak semasa sekolah dahulu. Booker adalah tipe pria yang kadang jahil dan seenaknya namun juga penuh perhatian serta mencintai Aubree sejak di bangku sekolah dahulu.

Suatu rahasia tanpa sadar akhirnya terkuak manakala Aubree dan Booker berusaha memulai kembali hubungan yang sempat tersendat ini. Dan rahasia-rahasia yang awalnya  tertutup sempurna itu  akhirnya terungkap dan justru makin menguatkan keduanya. Rahasia besar yang enggan Aubree bagikan pada siapa pun. Namun menjadi saat yang paling penting dalam hidup Aubree.


Ulasan

A Perfect Mess adalah novel pertama yang saya baca dengan rasa ingin tahu. Ini kisah tentang remaja yang ternyata tidak ringan. Ada bobotnya yang membuat kita menjadi lebih fokus saat membacanya saat di pertengahan cerita.  Awal pembukaannya cukup mengecoh dengan adegan Aubree yang bermimpi tentang...ayam! Kesan yang didapat wow, novel ini kocak. Namun ternyata tidak. Justru ada bagian yang kelam dan mengejutkan untuk ditelusuri.



Alur cerita bergulir dengan tokoh-tokoh yang mulai membuka diri dengan persoalan yang dibawa dari masa lalu. Aubree dengan kasus 'Magnolia Road', Booker dengan masalah cintanya yang ia pendam selama bertahun-tahun, bahkan ada rahasia besar Bibi Lottie yang membuat terhenyak, yang kesemuanya meledak dalam satu rangkaian kisah berselang-seling di tiap babnya.

Hubungan Aubree dan Booker bukan sekadar remaja kebanyakan namun ada sesuatu yang rumit yang terus berkelebat menyertai keduanya.

"You're dangerous, Booker." " for you....Okay.  In what way?" "In a lot of ways, but you're a word master-persuasion is powerful. Okay, Booker. I won't argue with you..." Ch. 3 p.35

Meskipun tak suka pada cowok ini, dalam penceritaan masing-masing di tiap bab, Aubree sempat menyatakan kekagumannya tentang Booker.

Booker was quiet, unpredictable, but he could draw you in with those deep, expressive eyes. He was a poet and a noble philosopher, using his humor like a shield, elusive. Ch.4 p.40 

Menurut saya tema novel ini sederhana tapi berbobot karena tak melulu mempersoalkan masalah remaja meskipun juga nanggung banget dalam pemecahannya. Konteksnya adalah kekacauan yang sempurna yang diciptakan oleh sang tokoh namun dalam penjabarannya kekacauan itu tidak terlalu berantakan. Bahkan seakan buru-buru diselesaikan dengan hanya menyisakan rahasia dari Bibi Lottie. Dan pengakuan Bibi Lottie agak dipaksakan serta seakan harus ada guna menambah dramatis suasana.

Mungkin kisah pertama dari trilogi ini harus terungkap seluruhnya agar di novel kedua dan ketiganya menjadi lebih ringan masalahnya. Novel ini tidak menjanjikan hal yang muluk dalam pemecahan masalah namun penyelesaiannya yang halus sekaligus beruntun bisa dikategorikan sebagai novel ringan dengan tokoh-tokoh yang membumi dengan dialek Selatannya.

Kalau disamakan dengan film, ini seperti film drama yang ditayangkan di DIVA Channel. Menyentuh namun tidak cengeng.

Oh ya, sang pengarang juga sempat menyelipkan 'Indonesia' dalam novelnya.

"Aubree, before I moved here to Hope Parish, I did missionary work in Indonesia, teaching English. There was a tsunami..."ch.13 p. 23

Dengan segala masalah yang penuh  porak poranda, akhirnya toh kebahagiaan itu menjadi milik mereka yang berjuang untuk menyelesaikan kekacauan.

You May Also Like

0 komentar