Kisah Seorang Pedagang Darah, Potret Keluarga Morat-marit

by - Selasa, Desember 19, 2017



Kisah Seorang Pedagang Darah
Judul Asli ; 许三观卖血记 (Xǔ Sānguān Mài Xuè )
Yu Hua
Penerjemah; Agustinus Wibowo
Gramedia Pustaka Utama, 288 hal
Pameran Buku IIBF Senayan


Sinopsis

Xu Sanguan adalah sosok pendorong kereta di pabrik sutra yang selalu rutin menjual darahnya pada Li  Kepala Darah demi memenuhi kebutuhan hidup. Acapkali ia terpaksa harus berurusan dengan hal yang remeh lalu ujung-ujungnya harus menjual darah yang makin membuat tubuhnya lemas. Keluarga Xu Sanguan kerap dilanda masalah yang tiada henti mengganggunya.

Putra sulungnya ternyata adalah hasil hubungan gelap istrinya dari pria sebelumnya yang bernama He Xiaoyong. Kondisi ini terus menerus menggerogoti hidup dan pikiran Xu Sanguan yang semakin tidak bisa dipecahkan. Ketiga putra yang bernama Yinle, Sanle, dan Erle masing-masing memiliki beban tersendiri yang menguras pikiran Xu Sanguan pula. Hal ini diperburuk lagi dengan situasi sosial politik China masa itu yang terlalu menekan kondisi rakyat hingga makin terpuruk.

Revolusi Kebudayaan rupanya kian memperburuk keadaan keluarga yang semakin menambah morat-marit dan seakan tiada berakhir.


Ulasan

Pedagang darah? Hmm...membaca karya novel ini saya kira harus diletakkan pada persepsi bahwa meskipun tidak lazim namun memang bukan tak mungkin kondisi seperti ini bisa saja terjadi di Indonesia. Mungkin kalau tidak dibagian terpencil suatu pulau mungkin juga di sela-sela kondisi kumuh Jakarta (mungkin). Orang memperjual belikan darah secara ilegal bisa saja terjadi dengan transaksi yang menggiurkan.

Awalnya rada ngeri juga membaca tentang pedagang darah karena sekilas ini sesuatu yang horor dan bikin ngilu. Namun setelah melahap setengah dari kisah barulah didapat esensinya bahwa menjual apa pun termasuk darah adalah sah demi memenuhi kebutuhan hidup.



Kita menjadi berempati oleh kondisi miskin yang diciptakan semasa Revolusi Kebudayaan berikut problematikanya. Ada bocah yang tidak diakui oleh sang Ayah, ada Ibu yang selalu cari perhatian bila sedang tertekan, ada warga kampung yang selalu ingin ikut campur tentang masalah keluarga ini yang juga ikut menambah ruwet suasana.

Novel yang menarik ditinjau dari sudut sosial politiknya. Namun yang agak menggelitik menurut saya adalah dialog dan ucapannya. Seluruhnya mencerminkan kondisi rakyat jelata yang terpinggirkan. Apa adanya dengan tata bahasa yang dikesampingkan dan kalau istilah sekarang mungkin disebut 'mulut comberan'. Penuh dengan sentilan-sentilan sarkasme.

 Dia kira dia itu siapa? Aku kenal dia. Dia anaknya Shen yang otak cacat itu. Bapaknya goblok, tolol, duit satu yuan sama duit lima yuan saja tak tak tahu bedanya. Hal. 281

Sebagai sebuah novel terjemahan saya bisa melihat bahwa novel ini mampu memberikan ilustrasi masa-masa pemerintahan Mao yang penuh represif dan bagaimana rakyat harus berpikir jungkir balik demi memenuhi kebutuhan mendasarnya dahulu, yakni makan dan ketenangan hidup.

Bila kehidupan sosial yang tadinya sudah cukup morat-marit, lalu istilah apa yang bisa disebut untuk kondisi seperti yang digambarkan setelah Revolusi Kebudayaan itu ada?

Xu Sanguan adalah potret rakyat jelata yang hanya menginginkan ketenangan hidup meskipun memiliki cacat atau kekurangan sebagai seorang kepala keluarga. Alur kisah dibuat sangat sederhana dengan latar rumah dan kampung yang kumuh. Suatu kombinasi yang sangat pas untuk menggambarkan betapa China masa itu adalah masa yang sangat kelam.

Novel ini diterjemahkan apa adanya sehingga kita yang awalnya risi dengan kosa kata yang njeplak, menjadi hal yang biasa saja pada akhirnya.

Usai membacanya maka muncul suatu pemahaman baru bahwa novel yang tadinya menyedihkan awalnya ternyata justru berisi semangat dan cahaya untuk bangkit.

You May Also Like

0 komentar