Surat dari Paris: Tanpa Bunga Kata

by - Sunday, December 10, 2017



Surat dari Paris
Janice Macleod
Gramedia Pustaka Utama, 312 hal
IIBF, Senayan Jakarta


Sinopsis:


Putus asa akibat kehidupan pekerjaan yang membosankan, Janice akhirnya memutuskan untuk berkeliling dunia terutama ke Eropa. Tujuannya adalah Paris. Setelah melakukan serangkaian tindakan beres-beres sekaligus pembersihan besar-besaran yaitu membuang beberapa barang pribadi yang sudah dan tak diinginkan lagi, ia mantap untuk pergi.

Di Paris Janice menemukan pasangan hidupnya seorang tukang daging tampan bernama Christophe  yang mampu membuatnya bersemangat menjalani hari.

Di tengah kegalauan dan keriangan ia memutuskan untuk menyambung hidup dengan menjual keindahan dan kehidupan sehari-hari seputar kota Paris yang dikirim berupa surat-surat dari Paris  pada para pelanggan suratnya. Dan, ide ini akhirnya menjadi suatu mata pencaharian yang mengasyikkan pada akhirnya.

Selama hidup di Paris banyak sudah peristiwa yang membuatnya makin mantap untuk menikmati setiap jengkal kehidupan dan sisi-sisi dibalik gemerlap pesonanya sebuah kota Cahaya. Kebahagiaan Janice makin nyata setelah akhirnya  Christophe melamarnya.


Ulasan:

Pada awalnya kalau kita menemukan novel berjudul 'surat-surat' pasti isinya tentang surat-surat pula yang dituturkan secara berkesinambungan. Dalam novel ini memang ada serangkaian surat-surat namun tidak melulu tentang surat thok. Prolognya justru pertentangan batin dan diri si tokoh utama, Janice sendiri yang sedang dilanda stres, tertekan oleh pekerjaan lalu timbul keinginannya untuk pergi ke Paris serta menemukan hidup yang lebih bermakna.



Dan sebenarnya kisahnya justru dimulai di pertengahan cerita di buku ini. Membaca kisah tentang surat, ini seperti diingatkan bahwa kehidupan monoton memang sangat membosankan. Hidup idealnya berwarna-warni dengan suka dan duka yang timbul tenggelam serta mampu mengatasinya dengan baik.

Adalah Janice si wanita muda yang mampu memecahkan kebuntuan pikirannya dengan pergi ke Paris. Dari rencana semula yang hanya pergi untuk dua minggu saja, ia justru malah tambah jatuh cinta dengan kota itu.

Menilik sampul bukunya yang kalem dengan latar ilustrasi tangan si pengarangnya sendiri hal ini mampu membuat saya merasa novel ini tak sekadar soal surat menyurat semata. Justru ada semacam tekad kuat dan kemandirian yang bisa ditangkap dan bisa jadi ini akan membangkitkan inspirasi,

Membaca kisah Janice seolah kita menjadi begitu dekat dengan kehidupan Paris baik cuaca, kehidupan kafe, jalanan atau sekadar di taman kotanya. Namun yang membuat terpikat pada buku ini  justru adalah isi suratnya yang menceritakan hal yang remeh dan biasa. Tanpa bunga-bunga kata dan apa adanya.

Kita terkesiap saat melihat patung-patung, memelototi lekuk-lekuk tubuh mereka, menjadi keranjingan. Bahkan patung-patung Yesus di semua gereja bisa membuatmu tersipu-sipu. hal 139 

Alur cerita biasa saja namun kehidupan Parislah yang membuat mata ini betah membacanya hingga tamat. Janice lincah dalam menceritakan kisah kehidupan pribadi diselingi oleh interaksinya dengan Christophe lalu berselang-seling dengan kesibukannya membalas surat-surat yang datang dari penjuru dunia. Tokoh 'aku' begitu dominan sampai-sampai tak memberi ruang sedikitpun untuk sang kekasih diperkenalkan pada pembaca.

Lalu apa daya tarik novel ini? Tidak lain adalah coretan gambar yang menyertai suratnya. Nyaris dalam setiap rangkaian surat, ada lukisan atau gambar berupa pemandangan, kafe, jalanan, jembatan, dan sebagainya.



Singkatnya novel ini ringan dan enak dibaca. Sebuah bacaan yang khas wanita banget yang dituturkan secara ringan pula melalui surat-surat. Meskipun, selalu ada narasi dahulu sebelum surat itu disusun dan menjadi pengantar sebuah perjalanan ataupun hari yang akan dilalui.

You May Also Like

0 komentar