Megamendung Kembar: Asal-Usul Sehelai Kain Batik

by - Sunday, February 04, 2018



Megamendung Kembar
Retni SB
Gramedia Pustaka Utama, 360 hal
PaperClip, Gandaria City

Sinopsis

Melupakan kesumpekkan kota Jakarta sejenak, Awie akhirnya memutuskan untuk cuti dengan mengunjungi Embahnya yang berada di Cirebon. Di rumah Embah ia menemukan sisa-sisa kejayaan masa lalu seorang pembatik yang sangat terampil dalam membuat motif lengkung-lengkung yang dinamis. Pembatik itu bernama Sinur.

Sinur yang selalu menangis saat menggenggam dan mengelus sehelai batik Megamendung gradasi 9 warna ini enggan berbagi rasa dengan orang lain apalagi terhadap Awie cucunya sendiri. Beliau lebih memilih menyimpan kenangan dan luka masa lalunya rapat-rapat. Tak dibiarkannya kisah sedih ini terbagi.

Awie yang tertarik dengan batik akhirnya memilih untuk mengembangkan batik dari nol. Seiring waktu berjalan karyanya mulai dilirik. Ia pun berkenalan dengan pengusaha batik yang memiliki toko batik yang berharga mahal, Puri Srengenge. Tak dinyana ternyata sang pemilik toko ini juga menyimpan sehelai batik Megamendung gradasi 9 warna yang memiliki kemiripan sama persis dengan kain batik yang dikeramatkan Embahnya.

Apakah ini keanehan ataukah hanya kebetulan semata?  Meskipun kain Megamendung ini menyimpan misteri, haruskah diungkap dengan segera di saat ajal sang pembatik uzur ini kian dekat?


Ulasan

        "Ini Megamendung yang tak biasa. Karena itu kubuat menjadi sembilan lapis, bukan tujuh. Ada tambahan satu lapis untuk mengingat Den, dan satu lapis lagi untuk menguatkan Kang Lanang."    hal.309

Buku ini sebenarnya sudah lama saya miliki namun baru dibaca sekitar pertengahan Januari kemarin. Kalau dari sampulnya yang bergambar tungku dan canting batik, pastilah ini kisah tentang batik. Bahkan di awal-awal cerita saya menduga ceritanya tak akan bergeser dari pelestarian batik atau asal-usul batik.

Ternyata tak hanya soal batik, ada rahasia dan jalinan kisah manusia yang mendukungnya. Memang tokohnya diceritakan  pulang ke kota Cirebon dan ingin mendalami batik. Namun cerita yang sebenarnya justru menyorot lebih jauh ke rentang masa yang lebih lama, tahun 1948. Ada nuansa sejarah dan cerita tersembunyi rupanya.

Masa Agresi Militer dan tumbuhnya berbagai industri rakyat yang bertumpu pada usaha batik telah membuka pencerahan bagi kita bahwa sejak zaman dahulu batik Cirebon memang sudah terkenal terutama yang berasal dari wilayah Trusmi. Nah, latar waktu semacam ini jarang ada yang mengangkatnya kecuali kalau kita membaca buku sejarah atau biografi seseorang.

Pada novel Megamendung cerita soal sejarah (masa lalu)  diangkat menjadi suatu inti yang mendasari cerita di masa kini dalam bentuk kilas balik kehidupan sang Embah.

Saya kagum dengan isi novel yang secara halus memiliki misi untuk bisa mengedepankan salah satu kekayaan bangsa salah satunya ya  berupa batik ini. Dikemas dengan kisah dua insan renta yang tak bisa bersatu dengan alur cerita yang seru mampu membuat kisah ini tak membosankan dan dinamis. Malahan saya tak bisa berhenti untuk terus membacanya meski mata sudah terkantuk-kantuk.

Tokoh-tokohnya baik yang berasal dari generasi Milenial atau kaum tuanya, cukup menarik dan berhasil membuat hati ini gemas dan teraduk-aduk. Awie dengan ketidaktahuannya akan cinta yang hadir menghampirinya, Sinur dengan keluguan dan ketidakberdayaan nasib yang dimilikinya.



Kisah cinta selalu membuat orang berbunga-bunga bila kedua hati berpaut. Dan sebaliknya betapa  perih dan menyedihkannya bila kasih tak sampai seperti yang dialami Sinur dan Den Musa. Dua alur cerita ini berjalan beriringan dan mampu membuat saya terpekur, mencoba merasakan geliat batin yang dihadapi Sinur bahkan ikutan bingung memikirkan nasibnya.

Potret keluarga yang hidup di masa pasca merdeka namun kebutuhan masih jauh dari kata 'cukup'. Makan tak pernah merasa kenyang, kampung yang selalu dibayang-bayangi gerombolan perampok, atau sulitnya mencari pekerjaan selain menjadi buruh pabrik batik.

Dialog-dialog yang mengalir dan diselingi bahasa daerah khas Cirebonan menambah daya tarik karena novel ini jadi sangat membumi dan sederhana dalam penyampaiannya.

Membaca novel memang jangan menilai dari sampulnya saja. Sebaiknya memang membaca isinya hingga tuntas karena inilah yang terjadi, akhirnya saya malah terpesona oleh alur cerita, latar, dan para  tokohnya yang bersahaja namun punya peran yang kuat untuk memajukan dan melestarikan batik. Padahal pertimbangan memilih buku ini dibeli tadinya hanya karena gambar cantingnya saja.Tak ada ekspektasi lebih selain ingin membaca misteri apa dibalik novel dengan sampul canting ini.

Novel dengan riset adalah hal yang mutlak jika ingin menyajikan kisah yang tak biasa-biasa saja. Namun bukan suatu keharusan juga sih. Karena ada novel dengan riset justru malah bukan sebuah novel tapi melulu memaparkan proses dan tak ada isi cerita pada akhirnya. Sedangkan dalam Megamendung ini, saya kira pengarang berhasil dengan baik dalam mereka-ulang dan merangkai seluk beluk dunia perbatikan zaman dahulu dengan sekarang ditambah sedikit riset dan drama kisah percintaan anak muda.

Seluruhnya diramu dengan benang merah berupa batik Megamendung. Kisah yang mengalir lancar dengan pembagian bab yang tidak membingungkan.

Membacanya seakan kita dibawa ke dalam lautan pengetahuan batik dan mereka yang tekun mengerjakannya. Sejujurnya mana ada anak zaman Milenial yang mengenal kanco, canting terlebih yang cecek lima,  lilin malam, tungku, atau nama-nama batik cap atau tulis? Atau aktivitas membatik mulai dari nyolet, nganji, ngemplong, nyelup dan nglorod?

Pastilah sesudah membaca novel ini kita akan semakin paham bahwa perjalanan sebuah batik dari berupa  kain mori atau primisima, hingga menjadi batik seutuhnya yang dipajang di mal atau galeri itu merupakan kerja besar yang tak hanya melibatkan tangan yang terampil tapi juga pengorbanan besar manusia-manusia yang berada dibaliknya.

You May Also Like

0 komentar