Laut Bercerita: Luka Masa Lalu yang Tak Mungkin Hilang dari Ingatan

by - Saturday, March 03, 2018



Laut Bercerita
Leila S. Chudori
KPG, 389 halaman
Gramedia, Gandaria City


Sinopsis:

Laut harus menceritakan kepada semuanya apa yang telah menimpanya dan mengapa ia tak kembali ke tengah-tengah keluarga lagi. Meskipun yang diceritakan ini sangatlah menyedihkan dan kejam, namun lewat desau angin dan burung-burung yang menjadi perantara, ia berharap keluarga paham atas pilihan yang telah diambilnya.

Laut adalah seorang mahasiswa UGM yang berempati dan menggebu-gebu sekali untuk mengubah demokrasi Indonesia agar menjadi lebih baik. Bergabung dengan sekumpulan mahasiswa lainnya yang memiliki kesamaan visi dan misi membuatnya leluasa dan bebas mengekspresikan keresahannya melalui wadah Winatra dan Wirasena. Akibat aktivitasnya Laut kerap dikejar-kejar dan ditangkap aparat.

Penyergapan di rumah susun Klender adalah penangkapan paling mencekam sekaligus menjadi akhir perjalanan Laut dan teman-temannya. Setelah penangkapan di Bungurasih, Laut sebenarnya sudah berhati-hati sekali untuk bergerak di bawah tanah. Namun nasib menentukan sebaliknya. Ia ditangkap dan disiksa oleh kesatuan gugus tugas yang disinyalir berada di bawah komando militer langsung dari pusat..

Asmara, sang adik akhirnya ikut menelusuri dan merasakan saat-saat ditinggalkan oleh Laut. Bersama-sama dengan mereka yang juga ditinggalkan, Asmara mencari dan mengungkap misteri hilangnya Laut. Ia sadar hanya melalui bisikan angin dan cuitan burung-burung maka pesan, tangisan, dan keluh kesah  itu akan sampai ke telinga Laut.

Ulasan:

Masa sepanjang 1998 adalah saat yang sangat krusial, genting, dan penuh ketidakpastian. Krisis moneter melanda, banyaknya pekerja yang diberhentikan, demokrasi yang runtuh serta kerusuhan rasial adalah puncak ketidakpercayaan pada pemerintah serta telah menjadi penanda berubahnya angin demokrasi di Indonesia. Kita takkan pernah lupa bagaimana pada tahun itu rezim Soeharto tumbang dan rakyat yang sudah terlalu muak dengan dominannya militer dan penguasa mendapatkan kemenangannya.

Kemenangan semu dibayar dengan hilangnya beberapa aktivis mahasiswa yang sedang giat-giatnya mengadakan berbagai demonstrasi menentang rezim. Dan, sesuatu dibalik semangat yang menggelora ini tidaklah semulus yang diperkirakan sebelumnya. Ada pengorbanan, keresahan, kecemasan, ketakutan serta air mata bercampur menjadi satu demi perjuangan.



Peristiwa kematian salah satu aktivis menjadi luka yang entah kapan sembuhnya. Meskipun kisahnya fiktif namun bahan cerita berdasarkan riset dan wawancara dari para aktivis yang telah dibebaskan. Tak bisa dipungkiri sosok Laut adalah representasi dari salah satu tokoh gerakan mahasiswa yang sangat dicari-cari pada masa itu. Bahkan penghilangan paksa yang dilakukan oleh para penculik merupakan suatu metode yang katakanlah hal itu tak mungkin terjadi di Indonesia, namun akhirnya sungguh-sungguh terjadi.

Bicara mengenai kisah penghilangan dengan saksi yang menceritakannya kembali peristiwanya sungguh sesuatu yang membuka mata dan pikiran. Dan lewat novel ini hal yang masih samar itu menjadi sesuatu yang lebih jelas, polos, gamblang, tanpa sensor dan apa adanya. Pengarang sangat detail mendeskripsikan bagian baik itu penangkapan, penyiksaan, keseharian dari sekelompok aktivis hingga ke masalah kulinernya.

Selain itu rasa hampa akibat lama berada di bawah cengkeraman kelompok penculik cukup membangkitkan emosi dan empati. Generasi yang lahir sekitar tahun 90-an yang pada saat itu baru berusia balita pastilah akan tercengang oleh kisah yang diangkat melalui novel fiksi ini.

Penggambaran cerita melalui dua sudut pandang yakni Laut dan Asmara Jati makin memberi penegasan bahwa kehilangan adalah kata baru yang melanda keluarga-keluarga korban penculikan. Keluarga merupakan pilar kokoh tapi sekaligus wadah yang rapuh dan rentan terlebih yang menimpa keluarga Arya Wibisono.

Membaca novel ini seakan peristiwa penculikan itu baru kemarin terjadi. Padahal kejadiannya sudah berlangsung lama sekali, 20 tahun yang lalu. Rentang waktu yang panjang rupanya tak membuat kesedihan itu ikut hilang. Rasa gundah, haru dan menyangkal tergambar di setiap larik kalimat dan kata yang dilontarkan oleh Bapak, Ibu, Asmara ataupun Anjani.  Penyangkalan terbesar bisa dilihat pada adegan Bapak dan Ibu yang tetap menyediakan piring makan untuk Laut saat makan bersama di hari Minggu sore.

Novel ini memberi peringatan pada kita bahwa Pemerintah agaknya telah lupa dengan pekerjaan rumah yang telah berpuluh tahun mangkrak dan tak ada tindak lanjutnya. Pena yang tajam ini akhirnya yang hadir mengingatkannya.

Sungguh saya tergugu, tertegun dan bergidik ngeri saat membaca penggalan nasib Laut, Sunu, Naratama, Daniel atau Alex Perazon, yang jatuh ke tangan penculik. Disetrum, digantung, tidur dalam keadaan telanjang di atas balok es dan  dibebat matanya adalah kekejaman yang tak pernah terbayangkan terjadi di masa itu.

Awal kisah dibuka dengan kilas balik melalui tuturan Laut. Selebihnya alur cerita berjalan paralel sehingga pembaca tidak terlalu bingung untuk mengikuti kisah  seterusnya. Pengarang pandai  dalam meramu bagian-bagian  yang mengundang rasa entah sedih, haru, lucu, guyon, atau mencekam sekaligus. Dimunculkannya tokoh pewayangan sebagai personifikasi adalah salah satu gaya pengarangnya. Ciri khas lainnya  adalah detail suguhan kuliner yang sanggup meneteskan air liur terutama bila kita pernah menjadi anak kos lalu memasak indomie hingga mengepul-ngepul dan disantap oleh banyak orang. Atau saat ibu siap menyuguhkan tengkleng.

"Kuah tengkleng itu terasa hampir sempurna. Semua bumbu dasar bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, lengkuas, jahe teraduk menyatu dengan santan cair" h. 65

Sebagai sebuah novel fiksi, karya ini sangat membuka mata bahwa penghilangan secara paksa dan mencuri seorang anggotanya dari kehangatan keluarga adalah dosa yang harus ditanggung oleh Pemerintah saat itu.

Demikianlah tragedi itu berhasil dihantarkan oleh pengarangnya. Novel Laut Bercerita ini masih sama memukaunya  dengan novel Leila terdahulu yang juga mengangkat masalah pengejaran dan intimidasi.

(Baca juga : Pulang) 

Saat menyaksikan behind the scene-nya saja kondisi yang tergambar sangatlah apik dengan Reza Rahadian sebagai pemeran Laut dan Ayushita sebagai Asmara Jati. Apalagi bila menyaksikan filmnya secara menyeluruh tentunya akan lebih dahsyat lagi kisahnya.

You May Also Like

0 komentar