Aroma Karsa, Penjelajahan Kehendak Sebuah Penciuman

by - Minggu, Juli 15, 2018



Aroma Karsa
Dee Lestari
Penerbit Bentang Pustaka 724 halaman
Gramedia PIM
(Pinjam dari Adik)

Sinopsis:

Pencarian akan sebuah tanaman yang mampu membius pikiran dan penciuman akhirnya menjadi obsesi Raras Prayagung sejak lama. Dengan pengamatan yang jeli dan penuh kesabaran ia berhasil mengajak Jati, seorang anak muda penghuni Bantargebang dan putri angkatnya Tanaya Suma untuk mencari sumber bunga sakti Puspa Karsa,

Walapun segala daya telah dikerahkan guna memiliki tanaman sakti itu dan meskipun telah jatuh banyak korban, namun sang bunga tetaplah jauh dari jangkauan.

Ada misteri lain yang melingkupi kehidupan pribadi Jati dan Tanaya Suma dan kehadiran mereka berdua justru  menguak tabir jauh ke masa sebelum mereka lahir ke dunia.

Ulasan:


Setelah menanti beberapa bulan akhirnya novel ini berada di pangkuan saya, siap untuk ditelusuri kalimat-kalimatnya. Karya Dee kali ini mengupas soal bau. Tema yang setahu saya jarang atau belum banyak diulik oleh pengarang lain di Indonesia. 

Menjelajahi berbagai aroma yang dihantarkan oleh Dee membuka wawasan saya akan bau membaui berbagai objek baik fisik maupun abstrak. Bahwa fungsi hidung ternyata tak sekadar membaui yang terhidang dan diperintah otak, namun ada aroma lain yang terselip, terserak, berpendar-pendar di sekitarnya tanpa kita sadari kehadirannya. Selalu saja ada bahan atau ilmu baru yang ditularkan oleh sang penulis baik secara nuansa klinis atau mengandalkan indera penciuman semata.

Novel yang menjadikan aroma sebagai tema utama adalah suatu kemustahilan pada awalnya karena sekilas timbul pertanyaan, apa yang ingin diungkap dari aroma yang hanya mampu dibaui, diendus, dan dirasakan oleh indera penciuman namun tanpa bisa dijamah apalagi direngkuh?

Jalan ceritanya sebenarnya sederhana dan gak jauh-jauh dari masalah hubungan antar manusia dengan persoalan yang dibikin pelik tapi kebetulan memiliki kesamaan penciuman tajam dan diramu dengan polemik pencarian keluarga yang hilang. Namun di tangan Dee semua terasa begitu luar biasa. Begitu detail. Plot  tunggal yang  seakan mengarah pembacanya ke  kancah misteri karena munculnya prolog tentang keharuman yang telah tertulis dalam sebuah lontar, plot tentang  pencarian Puspa Karsa,  hubungan lama yang terjalin antara Khalil dengan Raras,  bahkan percikan asmara antara Suma dengan sang hidung tikus, Jati Wesi diungkap dengan pendekatan bau-membaui.



Saya amat mengapresiasi berbagai riset yang mendukung jalinan sebuah cerita. Cerita tanpa ada pengetahuan yang dibagikan tak ubahnya seperti perjalanan tanpa bisa menatap ke luar jendela dengan berbagai pemandangan yang terhampar. Akhirnya sesampainya di tempat tujuan tak ada kisah yang bisa diceritakan untuk orang di rumah.

Novel-novel Dee selalu membuka wawasan. Pengetahuan tentang sebuah aroma, laboratorium aroma, jenis-jenis aroma adalah sebagian pengetahuan yang bisa saya ambil dari Aroma Karsa.

Dalam Aroma Karsa, yang paling esensial menurut saya adalah aroma itu sendiri yang mampu dideskripsikan dengan detail dan tajam sehingga pembaca ikut larut oleh aneka bau baik yang menjijikkan maupun yang mengharumkan. Tingkatan bau mulai dari ecek-ecek, biasa, berbau busuk  hingga wangi, dan harum sekali merupakan pengetahuan baru di dunia penciuman sehingga saat dibuat menjadi formula, pembaca akhirnya tahu bahwa wewangian berasal dari percikan berjuta keharuman..

Formula lapis pertama Kangga adalah racikan yang akan mengungkap kombinasi lima jenis mawar-mawar Damaskus, mawar Alba, mawar sentifolia, mawar the, mawar kesturi. Lalu dijalin manisnya aroma jambu, ceri hitam, kembang semak kupu-kupu, kembang tobira,disuntik kesegaran aras,basil, bergamot, daun Melissa, spearmint, dihangatkan lada jambon, kayu masoi, karamel gula kelapa. Diikat akor tiga macam kesturi, akar orris, serta ambergris.   -hal 396

Kalau diibaratkan dengan paket, novel ini termasuk paket combo. Kombinasi antara real dengan  hikayat merupakan sesuatu yang baru saya baca. Mungkin ada novel sejenis yang membahas hal lain tapi dalam  novel ini alur, latar, kisah zaman Majapahit dan kesinambungan cerita menjadi kekuatan yang bersinergi meskipun kalau dilihat dari aspek logika, gak logis sama sekali.

Bagaimana mungkin pencarian Puspa Karsa di Gunung Lawu akan mengantarkan rombongan ini bertemu dengan orang-orang yang hanya bisa berbicara dalam Bahasa Jawa Kuno? Bagaimana bisa seorang Jati Wesi mampu terbang seperti Gatot Kaca dan langsung bicara dengan bahasa  mereka?

Kadang logika atau tidak, masuk akal atau tidak, absurd atau tidak kesemuanya bisa kita kesampingkan  bila alur cerita begitu menyatu dan menawarkan semacam tren cerita yang benar-benar baru atau belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun tidak masuk akal, kemampuan menerobos batas-batas masa lalu yang ditandai dengan masuk ke kawasan angker  Gunung Lawu adalah satu hal yang mungkin bisa saja terjadi di masa yang akan datang. Asalkan masih dalam koridor fiksi, apa pun dapat diangkat.

Pengarang barangkali ingin menyodorkan ide cerita yang sangat muskil namun masih bisa diterima oleh akal sehat. Riset dan disebutnya prasasti adalah dua hal yang dipertaruhkan di sini.



Akhirnya, membaca Aroma Karsa adalah menelusuri relung-relung penciuman beserta corak dan detail bau yang kiranya sanggup membuat kita tercengang. Faktanya, suatu objek itu memiliki 1001 macam aroma yang bisa dijabarkan. Novel super tebal ini tidak membuat jenuh membacanya tapi sebaliknya  telah membuat kita terpana dan menyadari bahwa ide cerita tentang kekuatan inderawi adalah satu hal yang sangat mungkin bisa diangkat dengan gemilang.

You May Also Like

0 komentar