Cahaya di Penjuru Hati, Kerasnya Sebuah Kemauan

by - Kamis, Agustus 16, 2018





Cahaya di Penjuru Hati
Alberthiene Endah
Penerbit Andi, 438 hal
Gramedia, Melawai


Sinopsis:


Pria bernama Gondo itu terlahir dari keluarga yang sederhana dengan berbagai keterbatasan. Sejak kecil hingga remaja ia harus  selalu berjuang dan berjuang demi meraih masa depan yang lebih baik. Berbagai kesibukan yang mampu mendatangkan uang akan ia jalani. Setelah berjumpa dengan Lili, sang istri, kehidupan menjadi agak lebih cerah.

Sedikit demi sedikit roda kehidupan bergulir ke atas dan mendapatkan berbagai kemakmuran. Penerbitan dan hotel adalah salah satu bukti kerja keras pasangan ini.

Setelah sekian lama merasakan indahnya kebersamaan dan keberhasilan, badai meredupkan keluarga yang harmonis ini. Sang Istri tiba-tiba harus selalu berbaring, selalu mengeluhkan sakit dan lebih banyak beristirahat akibat  penyakit yang diderita.

Ketakutan, kegelisahan, kecemasan akan perginya sang belahan jiwa turut memberi kehampaan. Namun dengan tekad yang kuat semuanya bangkit karena hidup toh harus terus dijalani.


Ulasan:


Awal melihat novel ini ada perasaan ragu; apakah kisah yang akan dituturkan oleh mbak AE ini akan sedahsyat kisah biografi lainnya?

Siapakah JH Gondowijoyo?  Tokoh apakah ini?

Lalu saya memutuskan untuk membacanya. Dan ternyata sama dengan kisah biografi lainnya, cerita ini sangat menginspirasi dan kuat dalam tema.

Membaca buku ini dapat dipastikan kita akan terkagum-kagum oleh semangat dan perjuangan yang dirintis sejak muda oleh Pak Gondo.  Cerita yang penuh dengan kegetiran ini dihiasi oleh tutur bahasa yang apik dan menenangkan jiwa yang disematkan dalam setiap larik kata sehingga pembaca tak hanya menemui  nilai positif namun juga optimisme yang kuat dan ditularkan melalui kalimat yang disusun dengan indah. Adalah Alberthiene Endah yang berhasil menuangkan segala keresahan hati maupun kebahagiaan dari sosok bernama Gondowijoyo dengan tepat dan berhasil menyentuh perasaan kala dilanda keterpurukan.

Menurut saya kekuatan novel ini selain kisah hidup Pak Gonda yang memang sudah menarik sejak awal, juga karena sosoknya yang sederhana, bersemangat, pantang menyerah dan mau melakukan apa pun demi meraih hidup yang lebih baik. Kalimat-kalimat indah nan santun semakin menahbiskan mbak AE sebagai penulis biografi yang paling mampu dan jago dalam mengaduk-aduk emosi untuk masa sekarang ini.

Tidak mudah untuk menjadi juru cerita dan mengisahkannya persis sesuai dengan perasaan si pelaku yang dibiografikan namun mbak AE sangat piawai dalam memindahkan rasa, pikiran, dan jiwa ke hadapan pembacanya lengkap dengan berbagai gejolak emosi yang dimiliki sang tokoh.

Membaca novel biografi seperti ini, kita menjadi tahu dan ikut merasakan gejolak yang dirasakan. Beruntunglah Pak Gondo bertemu dengan mbak AE yang telah trampil dengan jam terbang yang tak diragukan lagi dalam menulis biografi. Selain kemampuannya dalam menerjemahkan isi hati dan pikiran sang tokoh,  tulisannyapun  tidak akan melelahkan apalagi terasa jenuh  karena kemampuan memilihkan  kalimat demi kalimatnya sangat mengalir lancar.

Alur cerita bersifat paralel dan sudut penceritaan hanya berasal dari bapak Gondo seorang. Namun lewat penuturannya, kita bisa tahu  siapa dan bagaimana orang-orang yang beliau cintai itu berinteraksi dan bahu membahu meringankan beban pikiran akibat sakitnya salah satu anggota keluarga dalam hal ini ibu Lili.

Dengan memahami jalan pikiran Pak Gondo diharapkan pembaca ikut bisa mengambil hikmah terbesar yaitu jangan sia-siakan segala yang ada di sekeliling kita. Lakukan apa yang bisa dikerjakan  karena keluarga adalah harta yang paling berharga.

Bersyukur dan selalu berpikir optimis akan membawa pencerahan dalam jiwa, kurang lebih demikian yang bisa digaris bawahi.

Dan percayalah, semesta akan selalu mendukung di setiap upaya yang dikerahkan dengan setulus hati walau sekecil apa pun itu.



You May Also Like

0 komentar